Home
/
News

Darah di Kain Kafan Yesus Ternyata Palsu

Darah di Kain Kafan Yesus Ternyata Palsu
Zahrina Yustisia Noorputeri17 July 2018
Bagikan :

Baru-baru ini peneliti mengumumkan hasil pemeriksaan mereka terhadap bercak-bercak darah yang ditemukan pada kain kafan yang dipercaya sebagai kafan Yesus. Kain yang dinamakan kafan Turin ini adalah salah satu benda yang dianggap suci oleh umat Kristiani karena dipercaya sebagai kain kafan yang digunakan untuk menutupi Yesus pada saat dimakamkan setelah disalib.

Pada kain kafan tersebut terdapat bekas-bekas darah dan gambar manusia yang diduga milik Yesus Kristus.

Belakangan, keaslian dari kain kafan ini menjadi pertanyaan. Apakah benar Yesus menggunakan kafan tersebut dan bercak darah tersebut benar-benar milik Yesus?

Sebelumnya, hasil penanggalan radiokarbion menunjukkan bahwa kafan itu kemungkinan tidak berasal dari masa Yesus Kristus. Kain kafan tersebut diduga berasal dari antara tahun 1260 hingga 1390 Masehi, 12 abad setelah kematian Yesus.

Tenunan dan kain yang digunakan untuk kafan Turin bisa saja menunjukkan bahwa kain tersebut berasal dari masa keberadaan Yesus ataupun dari Abad Pertengahan. Pada kain tersebut ditemukan pigmen yang berasal dari Timur Tengah. Akan tetapi, bukti tersebut tidaklah cukup untuk membenarkan keaslian kain kafan Turin.

Matteo Borrini, Ph.D dari School of Natural Sciences and Psychology, Liverpool John Moores University, dan Luigi Garlaschelli dari Italian Committee for the Investigation of Claims of the Pseudosciences, telah melakukan pemeriksaan terhadap kain kafan tersebut. Selain memeriksa kainnya, Borrini dan Moores juga melakukan pemeriksaan pada bercak darah serta polanya.

Preview

Mereka melihat pola bercak darah melalui teknik yang disebut Bloodstain Pattern Analyst (Analisis Pola Bercak Darah/BPA) dengan menggunakan darah manusia dan darah sintetis.

Semula, Borrini dan rekannya hanya ingin mengetahui apakah Yesus disalib dengan menggunakan salib berbetuk Y atau T. Namun hasilnya justru menunjukkan bahwa darah tersebut jatuh secara vertikal dan acak. Hal ini tentu kontras dengan kepercayaan selama ini bahwa Yesus dibaringkan kemudian ditutup dengan kafan.

Peneliti mengatakan bahwa noda darah pada kafan Turin menunjukkan bahwa darah tersebut mengalir dari beberapa pose yang berbedap ada pola darah di tangan, dada, dan punggung. Bentuk dan bentuk noda darah pada Kain Kafan Turin pun dinilai tidak konsisten.

"Kedua aliran darah pendek di bagian belakang tangan kiri kain kafan hanya dapat terjadi bila subjek berdiri dan tangannya berada pada sudut 45 derajat," tulis studi tersebut dikutip dari News.com.au.

“BPA darah yang terlihat pada sisi depan dada (luka tombak) menunjukkan bahwa kain kafan menunjukkan noda darah yang hanya dapat dihasilkan bila subjek berdiri. Sementara pendarahan di punggung, bila berasal dari mayat yang sama, terlihat tidak realistis.”

Hasil analisis ini telah dipublikasikan di Journal of Forensic Science.

populerRelated Article