Home
/
News

Harga Cabai Ganggu Pedagang Makanan di Denpasar

Harga Cabai Ganggu Pedagang Makanan di Denpasar
Budi Raharjo12 January 2017
Bagikan :

Pedagang makanan di Denpasar Bali, sangat terganggu dengan tingginya harga cabai. Pedagang lontong pecel Desak, mengaku kebingungan melayani pembeli yang memesan lontong pecel dengan rasa pedas.

"Pedas itu kan relatif. Ada yang hanya diberi satu biji cabai sudah cukup, namun ada yang tiga bii masih kurang," kata Desak, pedagang lontog pecel di Jalan Tanimbar Depasar.

Kepada Republika, Rabu (11/1), Desak mengatakan, tingginya harga cabai memang membuat dirinya kesulitan. Tapi sebutnya, beruntung pelanggannya banyak yang sudah memahami mahalnya harga cabai, sehingga tidak terlalu menuntut untuk urusan cabai.

"Mereka menyadari sendiri, walau hanya dengan sebiji cabai, mereka bisa menerimanya, untuk harga makanan yang hanya Rp 7.500 sebungkus," katanya.

Pedagang empal gentong di kawasan Renon Denpasar, Sumarno mengatakan walau harga cabai meroket, dirinya tetap menyediakan cabai untuk makanan berkuah yang menjadi ciri khas Cirebon itu. Dikatakannya, jika makan empal gentong tapa sambal memang kurang lezat.

"Makanya saya tetap menyediakan sambal dan membebaskan pelanggan untuk mengambil sendiri berapa banyak mereka mau," kata Sumarno.

Hanya saja Sumarno mengeluhkan. Dengan harga cabai yang mencapai Rp 100 ribu per kilogram, cabai yang dijual rasanya tidak terlalu pedas. Karena itu sebut Sumarno, pelanggannya kerap mengambil sambal lebih banyak dari takaran normal.

"Sebelumnya kan sambalnya sedikit rasanya sudah pedas. Tapi sekarang lain, sambalnya banyak tapi tidak pedas," katanya.

Menurut Sumarno, sebelumnya harga cabai tidak semahal sekarang dan rasa cabenya juga lumayan pedas. Karenanya dia mempertanyakan, mengapa justru saat harga cabai malambung.

Berita Terkait

Berita Lainnya

populerRelated Article