Travel

Kenapa Harus Takut Naik Pesawat?

Kenapa Harus Takut Naik Pesawat?

UZone - Pertanyaan di atas dilontarkan Rizka Leihitu, salah satu pilot Garuda Indonesia, saat saya bilang: 'saya takut naik pesawat'. Saya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang mungkin pernah teman-teman rasakan juga. 

Takut pesawatnya jatuh. Takut pilotnya mabuk. Takut ngerasain turbulensi. Takut berada di tempat tinggi. Dan, takut-takut lainnya. Mungkin buat yang tiap hari naik pesawat tentulah ceritanya berbeda. 

Rizka, yang beberapa waktu lalu saya temui di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta itu, tertawa kecil. Dia lantas menjelaskan secara detail bagaimana kerja mesin pesawat, pengaruh turbulensi terhadap keselamatan penumpang, sampai informasi singkat soal awan cumulonimbus (CB) yang sering bikin pesawat mengalami turbulensi. 

"Pesawat itu moda transportasi teraman, lho. Didesain khusus dengan mesin berteknologi canggih yang dapat terbang di berbagai kondisi darurat sekalipun, kapanpun, dan dimanapun," katanya. 

Selain itu, yang 'menyopiri'-nya pun tidak sembarangan seperti membawa angkutan umum di jalan raya. Ada ujian dan training khusus yang harus dijalani setiap enam bulan sekali. Kalau tidak lulus, ya lisensi terbangnya bisa dicabut atau dibekukan demi menjaga keselamatan penumpang. 

Lalu, apa aja materi yang diujikan kepada piot? Rizka menerangkan, training dan ujian kelayakan tersebut mencakup kemampuan menerbangkan pesawat dalam keadaan normal dan darurat, pengetahuan teknis seputar jenis pesawat, bodi, sampai mesin, juga tentang meteorologi atau fenomena cuaca. 

"Semua ujian ini harus dilewati dengan standar kelaikan yang diatur UU No 1 Tahun 2009, dan secara universal diatur ICAO (International Civil Aviation Organization)," ujarnya. 

Seorang pilot juga, dalam keadaan darurat, harus memastikan bahwa semua penumpang sudah keluar dari pesawat dan menjadi orang terakhir yang keluar dari pesawat. Ini menjadi aturan baku yang diterapkan di seluruh dunia. 

"Prioritas utama pilot adalah keselamatan penumpang. Mereka tidak main-main menjalankan profesi dan tanggung jawabnya. Dan, tidak ada satu pilot pun yang ingin pesawatnya celaka," kata Rizka. 

Dari segi teknis, pesawat wajib melakukan pengecekan sebelum lepas landas dan menjalani perawatan berkala yang diawasi orang-orang berkompeten. Jika ada masalah pada pesawatnya, maka tidak akan dizinkan terbang. Ini berlaku juga ketika keadaan cuaca buruk dan membahayakan keselamatan penerbangan. 

Bagaimana dengan turbulensi? Rizka bilang, penumpang tak perlu khawatir dengan hal tersebut. Sebelum terbang, pilot dan awak kabin sudah memeriksa prakiraan cuaca. Terlebih, pesawat sudah dirancang untuk menghadapi guncangan turbulensi. 

"Pilot akan memilih rute penerbangan terbaik yang akan dilalui berdasarkan prakiraan cuaca dan faktor lainnya. Turbulensi hal yang biasa terjai kok. Jadi, hal pertama yang perlu dilakukan adalah tetap tenang, jangan panik, kembali ke kursi, dan pakai sabuk pengaman," ujar Rizka memberi saran. 

Terakhir, soal awan CB yang kerap dituding biang kerok kecelakaan pesawat. Rzika menjelaskan, sejak sebelum terbang hingga berada dalam penerbangan, seluruh informasi cuaca akan diberi dan ditampilkan secara otomatis. Jadi, ketika pesawat mendeteksi adanya awan tebal itu, ada prosedur baku yang harus dilakukan seorang pilot. 

"Sebisa mungkin kami harus menghindari awan jenis ini," katanya. 

Semua penjelasan tadi berlaku kalau sumber ketakutan berasal dari minimnya informasi tentang penerbangan. Tapi, jika sumbernya berasal dari diri sendiri, atau mengalami trauma dan paranoid, ada baiknya mencari terapi yang tepat agar perjalanan menggunakan pesawat terasa lebih menyenangkan. Selamat jalan-jalan!

 

 

 

 

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id
To Top