Games

Kiat Berkarir di Industri Game dari CEO Toge Productions dan Arsanesia

Kiat Berkarir di Industri Game dari CEO Toge Productions dan Arsanesia

Tech in Asia Gametalk kedua telah berlangsung dengan cukup meriah pada hari Selasa, 21 Februari 2017. Acara yang diadakan di kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini menghadirkan dua narasumber untuk berbagi seputar pengalaman dan cara memulai karier di industri game. Mereka adalah Kris Antoni dari Toge Productions dan Adam Ardisasmita dari Arsanesia.

Dalam sesi diskusi yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam tersebut, Kris dan Adam menjelaskan persiapan yang dibutuhkan sebelum terjun ke industri game. Keduanya juga bercerita tentang proses pendirian perusahaan legal serta masalah-masalah seputar transaksi keuangan yang mungkin muncul. Tak lupa beberapa kiat juga disematkan supaya hadirin terhindar dari kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan pemula.

Berikut adalah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari hasil obrolan di Tech in Asia Gametalk 2. Jangan lupa, bila kamu tertarik untuk mengikuti sesi penuhnya namun tidak berkesempatan hadir di acara, kamu bisa menonton video rekamannya lewat tautan ini.

Modal passion, kerja keras, dan keberuntungan

Baik Kris atau Adam sama-sama memiliki ketertarikan dengan game dari usia belia. Tapi berbeda dari Kris yang sempat mengenyam pendidikan tinggi teknologi game, pada awalnya Adam tidak berkeinginan untuk menjadi developer game. “Saya pribadi dari SD/SMP sudah bercita-cita ingin jadi pengusaha, tapi usahanya apa kan belum tahu,” cerita Adam.

Perjalanan Adam di dunia gamedev dimulai ketika kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat itu, ia dan beberapa temannya mengikuti lomba aplikasi digital yang diadakan oleh Nokia. Tim Adam berhasil menyabet gelar juara berkat aplikasi bertema gamelan, dan meraih hadiah sebesar US$4000 (sekitar Rp48 juta). Kemenangan ini bahkan tak hanya sekali, namun dua tahun berturut-turut.

Tech in Asia Gametalk 2 | Photo 1

Prestasi mengantarkan Adam pada acara CommunicAsia sebagai perwakilan ITB dan Indonesia di Singapura. Lewat acara tersebut, Adam akhirnya mulai mengenal beberapa pelaku industri game dari dalam dan luar negeri. Melihat bahwa prospek industri ini cerah, Adam akhirnya mendirikan Arsanesia bersama empat orang co-founder.

Awal karier Kris tidak seberuntung Adam. Meski mengantongi ilmu di bidang game, keluarga Kris ingin dirinya melanjutkan tradisi menjadi seorang arsitek. “Sempat, istilah jahatnya sih, ‘diusir’ dari rumah. Waktu itu saya kerja pakai salah satu kamar di rumah. Lalu ayah saya bilang, kalau saya pakai ruangan di rumah artinya saya harus bayar uang sewa. Tapi harga sewanya Rp100 juta per bulan. Itu duit dari mana? Akhirnya saya keluar dari rumah.”

Kris harus banting tulang membesarkan Toge Productions hanya dengan modal tabungan Rp10 juta. Berkat keuletan dia dan partnernya, karya mereka lambat laun mulai dikenal. Bukti bahwa industri game bisa mendatangkan sukses akhirnya membuat keluarga Kris luluh, dan bisa turut berbangga hati.

Haruskah membuat perusahaan?

Bila kamu ingin mendirikan studio game seperti Kris atau Adam, ada satu hal yang terlebih dahulu harus kamu jawab: “Mengapa kamu ingin membuat perusahaan?” Ini pertanyaan yang sangat penting, sebab akan memengaruhi seluruh perjalanan kariermu. Mulai dari bagaimana cara menjalankan perusahaanmu, kapan sebaiknya membentuk badan usaha, dan lain-lain.

Tech in Asia Gametalk 2 | Photo 2

Sebagai contoh, bila kamu (dan timmu) ingin fokus pada proses produksi game, kamu tidak perlu terburu-buru membentuk badan usaha. Kerjakan saja produk sampai selesai. Badan usaha bisa kamu bentuk setelah cukup modal dan butuh ekspansi.

Sebaliknya, bila kamu ingin punya perusahaan yang fokus pada servis atau oursourcing, badan usaha adalah kewajiban, sebab kamu akan berurusan dengan perusahaan lain atau pemerintah. Terkadang kamu juga perlu modal atau deposit yang besar sebagai syarat menjalankan proyek.

Beberapa kondisi lain bisa terpengaruh oleh status hukum perusahaanmu, seperti urusan perpajakan, lokasi usaha, sampai syarat penerbitan game di marketplace tertentu. “Ada banyak beban pikiran yang akan teman-teman lalui ketika membuat PT, jadi buatlah PT ketika dibutuhkan,” demikian saran Adam. Bila kamu tidak siap, pekerjaan ekstra ini malah bisa mengganggu proses produksimu.

Cari co-founder yang melengkapi kekurangan

Bekerja di perusahaan milik sendiri artinya kamu bisa bebas dari tekanan, sebab kamulah bosmu sendiri. Tapi hal ini juga berpotensi buruk. Salah satunya adalah lama pengembangan proyek yang tidak terkontrol, entah karena manajemen waktu yang salah atau karena skala game terus membesar.

Tech in Asia Gametalk 2 | Photo 3

Ada kalanya kita sebagai kreator merasa bahwa selalu ada yang kurang dari game yang kita buat. Alhasil, kita terus menambahkan fitur baru sehingga proyek tidak kunjung selesai. Padahal deadline sudah terlewat.

Hal ini wajar, apalagi bila kita adalah orang yang idealis. Tapi idealis saja tidak cukup untuk menyelesaikan proyek. “Jadi harus ada orang yang realistis, tapi yang idealis juga ada. Orang realistis itu bisa keep you grounded, jadi kamu tidak akan ingin bikin yang selangit tapi tidak sampai-sampai, hingga akhirnya duitnya habis lalu akhirnya bubar,” jelas Kris.

Tambahnya lagi, “Yang idealis tidak boleh ditolak juga, that’s your dream. Tapi untuk mencapai mimpi ini gimana caranya? Jadi dua ini, idealistis dan realistis, harus dipertemukan.” Ketika mendirikan sebuah perusahaan, carilah co-founder yang melengkapi kekuranganmu. Bila kamu cenderung realistis, cari co-founder yang idealis, begitu pula sebaliknya.

Pengalaman adalah yang terpenting

Kris mendapat banyak pengalaman berharga dari masa kuliah, tapi untuk bisa masuk jurusan teknologi game, ia harus merantau ke Australia. Di luar negeri, pendidikan tinggi di bidang game memang sudah lumrah. Adam bercerita, “Di Jerman ada pendidikan S2 untuk desainer game. Bahkan jurusannya sangat spesifik, misalnya jurusan psikologi desain game untuk anak.”

Sementara di Indonesia, ekosistem yang mendukung industri game masih belum dewasa, termasuk di bidang akademik. Memang ada beberapa kampus yang membuka jurusan game di Indonesia, tapi bidangnya terlalu umum, sehingga ilmu yang didapat masih kulitnya saja.

Tech in Asia Gametalk 2 | Photo 4

Melihat kondisi ini, Adam berpendapat bahwa para pemuda Indonesia yang ingin masuk ke industri game lebih baik belajar secara autodidak. Bila memang ingin mendalami jalur akademik, lebih baik kuliah di luar negeri saja.

Menurut Kris sendiri ada yang lebih penting daripada pendidikan dan label-label formal, yaitu portofolio. Dalam industri kreatif seperti industri game, pengalaman adalah segalanya. Ia menyarankan agar para mahasiswa mulai membuat game mulai dari sekarang, meski belum lulus kuliah. Walau hasilnya tidak bagus atau skala kecil seperti game jam, semua karya itu akan jadi portofolio yang berharga.

“Kalian punya ijazah, punya IP 3,9, tapi tidak bisa programming. Ijazah kalian buat apa? Nggak ada artinya,” ujar Kris. Ia lebih suka orang yang datang dengan menunjukkan portofolio, misalnya lewat situs itch.io atau DeviantArt, sehingga hasil kerjanya terlihat jelas.

Pengalaman mengerjakan proyek adalah pintu masuk menuju industri game yang lebih jelas daripada berpikir tentang mendirikan studio atau melamar kerja di perusahaan game. Jadi tidak perlu menunggu lulus atau kesempatan magang. Bila kamu adalah orang yang berminat untuk berkarier di industri game di masa depan, mulailah membuat game dari sekarang.

(Diedit oleh Mohammad Fahmi)

The post Kiat-Kiat Memulai Karier di Industri Game dari CEO Toge Productions dan Arsanesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id

Tag :

Game Industri Game 
To Top