Film

Night Bus, Anomali Film Terbaik dengan Penonton Paling Minim

Night Bus, Anomali Film Terbaik dengan Penonton Paling Minim

Darius Sinathrya bersama para pemain dan kru film Night Bus tampaknya tak percaya ketika film mereka disebut sebagai Film Terbaik 2017 di ajang Festival Film Indonesia (FFI). Mereka berpelukan erat satu sama lain sebelum naik ke atas panggung menerima tropi paling bergengsi, Piala Citra Film Terbaik.

Di atas pentas, Piala Citra diserahkan langsung oleh Presiden Indonesia kelima Megawati Soekarnoputri.

"Saya merasa, masuk nominasi saja, bagi kami, film pertama kami Night Bus, itu sudah hal yang luar biasa," kata Darius dalam pidato kemenangannya di Grand Kawanua, Manado, Sabtu (11/11).

Darius mengaku bangga bisa bersaing dengan film-film laris dan komersil di nominasi Film Terbaik. Ketimbang empat film lainnya yang masuk nominasi Film Terbaik, yakni Cek Toko Sebelah, Kartini, Pengabdi Setan, dan Posesif, Night Bus boleh dibilang luput dari pembicaraan.


Tak banyak yang memprediksi bahwa film yang diproduseri oleh Darius itu bakal menyabet Piala Citra.

Night Bus merupakan film dengan jumlah penonton paling sedikit dan waktu penayangan paling singkat dibanding empat film lainnya. Rilis pada April lalu, sinema ini hanya disaksikan oleh 20 ribu penonton saja dan bertahan selama satu pekan di 105 layar bioskop besar dan mikro.

Angka itu sungguh terpaut jauh dengan Cek Toko Sebelah yang berhasil menarik 2,6 juta penonton atau bahkan Pengabdi Setan yang tayang lebih dari satu bulan dengan capaian lebih dari 4 juta pemirsa.

Sementara, Kartini disaksikan lebih dari 500 ribu penonton, sedangkan Posesif yang masih tayang telah menyentuh angka 200 ribu pemirsa.


Bagi Darius yang memegang peran penting di Night Bus, Piala Citra merupakan buah kerja keras dan juga kesalahan yang dibayar tuntas. Darius mengaku jumlah penonton yang sedikit lantaran kesalahannya dalam hal distribusi film.

"Kami ada kendala di distribusi, dari pihak kami memang, dari paskaproduksi, sehingga beberapa layar enggak bisa diputar, orang jadi tidak bisa menonton. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan lagu buat ditonton," tutur Darius.

Dibintangi Teuku Rifnu Wikana, thriller Night Bus berkisah tentang sebuah bus yang diteror pada malam hari dalam perjalanan menuju kota fiksi, Sampar. Film aksi yang mencekam itu berlatar politik saat Gerakan Aceh Merdeka (GAM).


Pembuatan Night Bus melalui perjalanan panjang yang dimulai dengan sebuah ide cerita dari Rifnu sendiri pada 2009. Rifnu membuat dongeng monolog untuk sebuah pementasan dan diangkat menjadi cerpen pada 2011. Pada 2012, naskah film itu ditulis hingga menjadi rancangan akhir pada 2015. Setelah itu, barulah Night Bus dieksekusi menjadi sebuah film.

Menurut Rifnu, yang juga menyandang titel Pemeran Utama Pria Terbaik ini, Night Bus merupakan film yang melalui proses pembuatan terbaik yang pernah dijalaninya. Karya ini merupakan film ke-36 yang dilakoni Rifnu.

"Saya enggak akan bisa mencapai apa yang saya dapatkan kalau saya enggak berproses dan Night Bus adalah salah satu film yang menjalani proses paling benar sepanjang saya berperan," tutur Rifnu.

Walau kalah pamor dari segi penonton, Night Bus menonjol dari segi kualitas. Mereka berhasil merebit hati 75 dewan juri akhir. Film ini sukses memborong enam Piala Citra sekaligus.


Selain Film Terbaik, Night Bus memenangkan kategori Penata Busana Terbaik, Penata Rias Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penulis Skenario Adaptasi Terbaik, dan Pemeran Utama Pria Terbaik.

Usai wawancara dengan media, Darius tak henti mengekspresikan rasa bahagia dan haru. Beberapa kali dia terlihat menepuk-nepuk pundak Rifnu seakan menyiratkan usahanya terbayar lunas.

Darius juga sempat berpelukan erat dengan Rahabi Mandra, penulis skenario Night Bus yang juga mendapat Piala Citra kategori Penulis Skenario Adaptasi Terbaik bersama Teuku Rifnu Wikana.

Berita Terkait

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id
To Top