Auto

Tingkat Keparahan Macetnya Jakarta Dilihat dari Jenis Pedagang Asongan

  • 10 April 2018
  • Bagikan :
     Tingkat Keparahan Macetnya Jakarta Dilihat dari Jenis Pedagang Asongan

    Uzone.id Kalau ada warga yang ngeluh jalanan di Jakarta itu keras, berarti dia ciri orang lemah.

    Jalanan di Jakarta itu emang selalu macet, gak kehitung lagi deh jumlah waktu yang terbuang ngadepin kemacetan ini.

    Tapi, aku lebih suka ngadepin kamu yang suka mendadak marah, kok. Wk~

    Soal kemacetan di Jakarta sendiri menurut survei Sorecard juga gak parah-parah amat, lah. Cuma peringkat 12 di dunia dan nomor 2 di asia. Gimana, biasa ajakan?

    Walau kemacetan di Jakarta bisa terjadi sepanjang waktu, sebenarnya, macet ini bisa diprediksi tergantung jenis kemacetannya.

    Indikatornya sih gampang, liat aja pedagang yang muncul. Gak percaya? Nih, Uzone.id beberin faktanya.

    Pedagang Lem Korea dan Kanebo


    Ini bisa dibilang kemacetan paling ringan yang terjadi di Jakarta. Biasanya pedagang lem Korea dan Kanebo itu cuma nongol di perempatan lampu merah.

    Zona wilayahnya pun cuma sebatas dua sampai tiga baris antrean kendaraan, karena memang kemacetannya level ramai cenderung lancar.

    Penjual Bakpao atau Kacang Rebus

    via GIPHY



    Di level kemacetan medium ini, biasanya yang matanya awas adalah pengendara mobil. Mereka akan melihat gerobak sederhana di trotoar.

    Gerobak ini gak terlalu besar dan memunculkan asap yang harumnya menggugah selera.

    Kemacetan ini biasanya rutin terjadi di jam-jam tertentu, sehingga pedagang bakpao dan kacang rebus tak selalu hadir.

    Zona pedagang ini tidak mobile alias berdiam diri, karena kemacetannya panjang namun masih berjalan walau pelan.


    Penjual Tahu Sumedang

    Ini biasanya level paling kronis dalam sebuah kemacetan. Pejual tahu Sumedang ini datang tak bisa diprediksi karena tergantung kemacetan dan biasanya berjualan di jalan Tol.


    Makin banyak pedagang Tahu Sumedang-nya, maka semakin besar kemungkinan kemacetan tersebut memanjang dan malahan cenderung berhenti.

    Penjual Tahu Sumedang yang mempunyai mobilitas tinggi dengan sisa dagangan semakin menipis, maka bisa dibilang makin tinggi dan panjang juga kemacetannya.

    Gimana benar gak? Atau kamu punya indikasi yang lain, tulis di komen ya.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini