icon-category Digilife

2021, Bayaran Ransomware Capai Rp73,8 Triliun

  • 01 Nov 2021 WIB
  • Bagikan :

     

    Uzone.id - Uang ransomware yang terpaksa harus dibayarkan oleh perusahaan yang diperas kepada hacker di dunia maya diprediksi telah mencapai angka USD5,2 miliar atau setara Rp73,8 triliun. Angka ini telah masuk ke dalam rekening sekitar 10 kelompok hacker ternama di dunia ransomware.

    Dilansir melalui The Verge, Senin, 1 November 2021, bisnis ransomware cukup masif tahun ini. Miliaran dolar telah masuk ke rekening hacker ternama di dunia maya. Hal ini terungkap dari data Kementerian Keuangan Amerika Serikat bidang Jaringan Pertahanan Kejahatan Finansial atau FinCEN.

    Baca juga: Kata Pengguna iPhone 13 Pro Setelah Pakai 2 Minggu

    Dalam data tersebut terungkap jika banyak perusahaan yang memilih untuk mengikuti kemauan hacker pemerasan dengan melakukan pembayaran jaminan. Semua kegiatan masif ini cukup kentara di paruh pertama tahun 2021. Bahkan rata-rata pembayaran dilakukan dengan menggunakan bitcoin atau mata uang kripto yang berbasis blockchain, langsung ke 'kantong' pemeras.

    Laporan FinCEN menemukan jika transaksi mencurigakan terkait ransomware bernilai USD590 juta dari Januari sampai Juni 2021. Yang paling mengejutkan, dari sekitar 10 kelompok hacker yang terdeteksi, total nilai pemerasannya mencapai USD5,2 miliar dalam kurun 3 tahun belakangan. Semua menggunakan mata uang bitcoin.

    Ini penemuan yang cukup mengesankan, meskipun dipercaya, datanya belum lengkap. Pasalnya, FinCEN menemukan banyak 'dompet' hacker yang terhubung dengan 10 program ransomware paling ternama, kemudian mereka menganalisa transaksinya. Dipercaya, kelompok-kelompok hacker itu memiliki banyak 'rekening' kripto yang tersimpan dengan baik, dan belum mereka sentuh. Atau bisa jadi mereka menyimpannya dalam mata uang lain.

    Baca juga: Samsung Modifikasi Lagu Lawas Ice Ice Baby

    Seperti diketahui, mata uang kripto tak hanya mencakup bitcoin tapi juga ada Monero, Dodgecoin, Ethereum, Binance, dan lainnya.

    FinCEN meyakini jika total uang pemerasan yang dibayarkan ke hacker lebih banyak tahun ini. Buktinya, mereka menganalisa setidaknya ada USD200 juta yang dibayarkan ke hacker di paruh pertama 2021. Jumlah ini lebih banyak ketimbang periode yang sama di 2020. Jika tren terus berlanjut, peretas dapat membuat lebih banyak dari ransomware tahun ini daripada yang mereka lakukan dalam dekade terakhir.

    Angka ini sepertinya tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, sejak 2021 memang cukup banyak pemberitaan terkait dengan ransomware yang digalakkan oleh hacker. Mulai dari ransomware yang menyerang perusahaan teknologi, jalur pipa, rumah sakit, perusahaan asuransi, dan lainnya.

    250 Ransomware di Dunia

    Tidak dipungkiri lagi jika semua perusahaan di dunia ini tidak memiliki kekebalan dari ancaman ransomware. Sekali kena, perusahaan bisa rugi ratusan juta sampai miliaran. Bahkan menurut riset ada sekira 250 jenis ransomware yang berkeliaran di dunia maya.

    Angka ini terungkap dari riset yang dilakukan oleh Bitdefender. Dilansir melalui TechRadar, para periset di Bitdefender menemukan lebih dari 250 jenis keluarga ransomware. Beberapa di antaranya memiliki tingkat ancaman yang lebih besar ketimbang yang lain.

    Pada bulan Agustus, dalam laporan Bitdefender itu, analis menemukan sekitar 19,8 juta malware terdeteksi berkeliaran dan menghantui perusahaan di dunia.

    "Sebagai gambaran skalabilitasnya, operasional lab kami telah menemukan lebih dai 400 ancaman baru setiap menit yang memvalidasi 30 miliar ancaman setiap harinya," tulis Bitdefender dalam laporan tersebut.

    Laporan tersebut juga menemukan jika ditemukan tiga keluarga ransomware yang patut diwaspadai pada Agustus kemarin. Mereka adalah WannaCryptor, Stop/DJVU, dan Phobo. Semua nama itu terdeteksi pada sekitar 60 persen serangan.

    Bitdefender mengaku telah melacak ransomware di seluruh dunia pada Agustus 2021, tepatnya di 174 negara. Amerika muncul sebagai negara favorit ransomware dengan sekitar 30 persen dari total serangan yang ada. India berada di urutan kedua dengan 17 persen serangan dan Brasil sekitar 15 persen.

    Yang mengerikan, lebih dari 40 persen ransomware menyasar industri tertentu. Bahkan lebih dari 51 persen dari total serangan ke industri tertentu ini menargetkan ransomware ke sektor layanan telekomunikasi.

    "Kebanyakan mereka mengambil jeda untuk melanjutkan serangan. Mereka kerap muncul kembali dengan kecanggihan yang baru dan menggunakan nama lain. Dalam kasus REvil, kami memprediksi akan banyak yang menjadi target serangan ke depannya," ujar periset Bitdefender.

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Tags : ransomware hacker FinCEN 

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini