Digilife

2021, Pengeluaran untuk Keamanan Siber Naik 10 Persen, Capai Rp846 Triliun

  • 20 January 2021
  • Bagikan :

     

    Uzone.id - Perusahaan riset Canalys memprediksi jika pengeluaran yang dihabiskan untuk membeli produk dan layanan keamanan siber meningkat sampai 10 persen di tahun ini. Angka itu akan mencapai sekitar USD60,2 miliar atau setara Rp846,3 triliun sampai akhir 2021.

    Dikutip dari Venture Beat, Rabu 20 Januari 2021, menurut prediksi Canalys, pertumbuhan ini akan terjadi karena banyak ancaman baru yang akan muncul sepanjang tahun ini. Ditambah lagi dengan jumlah volume serangan yang juga meningkat pesat.

    "Perusahaan banyak yang mengadaptasi infrastruktur mereka ke cloud, lalu mengkonfigurasi cara kerja mereka yang baru. Oleh karena itulah kebutuhan untuk mengatasi potensi kerentanan menjadi semakin mendesak," ujar analis Canalys, Matthew Ball.

    Baca juga: Twitter Angkat Hacker Terbaik Dunia Jadi Kepala Keamanan Siber

    Prediksi ini telah dilaporkan Canalys dalam report bertajuk Global Security Forecast. Dalam prediksi tersebut, perusahaan global menghabiskan total pengeluaran sampai Rp846,3 triliun untuk produk dan layanan keamanan siber tahun ini.

    Investasi tersebut di antaranya memperkuat area seperti endpoint security, keamanan jaringan, keamanan email dan web, keamanan data, analisis kerentanan dan keamanan jaringan, serta manajemen akses identitas.

    "Persentase itu bisa jadi turun hingga ke level 6,6 persen jika pandemi membuat sebagian besar bisnis tutup untuk waktu yang lama, suatu dinamika yang dapat menghambat pekerjaan di bidang ini," kata Matthew.

    Sayangnya, masih menurut Canalys, meski banyak yang memandangan investasi di bidang keamanan merupakan hal yang penting bagi perusahaan, namun banyak dari mereka yang aksinya hanya sekedar memperlambat gelombang serangan. Padahal, sejarah peretasan paling tinggi ada di tahun lalu dengan mencapai 12 miliar serangan, dan sebanyak 60 persennya adalah ransomware.

    Baca juga: 1,2 Juta Akun PUBG Diblokir karena Curang

    "Semuanya dimulai dari salah konfigurasi database cloud hingga kampanye phishing. Tampaknya juga ada peningkatan kemampuan untuk menargetkan mata rantai terlemah dalam rantai keamanan, yakni pekerja yang bekerja remoter atau WFH namun tidak dibekali dengan pengetahuan keamanan IT yang baik," paparnya.

    Di antara kategori keamanan siber yang diprediksi tumbuh paling cepat yakni keamanan web dan email sebesar 12,5 persen pada tahun 2021, analisis kerentanan dan keamanan sebesar 11,0 persen, dan endpoint security sebesar 10,4 persen.

    }); setTimeout(function(){ $(".modal2").addClass('hilang'); }, 30000);