icon-category Digilife

‘Bela Negara’ Rusia-Ukraina di Dunia Maya: Gempuran Hacker!

  • 27 Feb 2022 WIB
  • Bagikan :
    Foto: Unsplash

    Uzone.id“This site can’t be reached.”

    Kalimat yang mungkin sebetulnya biasa saja kalau kita sedang browsing dengan santai di akhir pekan. Mungkin situs yang dituju sedang dalam perbaikan. Atau mungkin juga kita salah memasukkan URL.

    Namun, kalimat tersebut saat ini sedang menjadi mimpi buruk bagi warga Ukraina.

    Puluhan situs Ukraina mengalami lumpuh sejak beberapa hari belakangan – khususnya sejak konflik Rusia-Ukraina memanas.

    Dari laporan yang beredar, situs perbankan hingga pemerintahan yang mencakup setiap kementerian sudah tumbang. Aktor di baliknya bukan persoalan gangguan server, tapi server Ukraina yang memang sengaja diganggu.

    Komplotan hacker Rusia dituduh menjadi biang teror di dunia maya. Portal BBC kemudian menemukan bahwa beberapa serangan siber ini berasal dari kelompok hacker yang menyebut diri mereka “patriotik”.

    Yup, mereka secara sukarela meretas situs-situs Ukraina tanpa perintah dari pemerintah Rusia demi embel-embel “bela negara” atas konflik yang terjadi. Mereka sengaja melakukan ini untuk mengacaukan ruang siber.

    Baca juga: Tokoh Ukraina yang Punya Peran Penting di Teknologi, Ada Pendiri WhatsApp

    Seorang hacker bernama Dmitry (bukan nama asli) bekerja di perusahaan keamanan siber Rusia. Kala itu, ia melihat serangan siber terhadap Ukraina dan berpikir, “semua orang menyerang server Ukraina. Apakah kita harus ikutan?”

    Ia mengaku timnya beranggotakan 6 orang berhasil meretas beberapa situs pemerintah Ukraina dengan serangan DDoS. Bahkan mereka juga sengaja melumpuhkan salah satu situs militer Ukraina.

    “Jika perusahaan saya tahu, saya pasti dipecat,” katanya.

    Foto: Wilson Center

    Menurutnya, serangan DDoS baru permulaan.

    “Orang-orang harus paham, kami sangat hati-hati saat ini. Kami bisa saja mengirim ransomware, tapi memang belum,” lanjut Dmitry melalui sambungan telepon dengan efek suara distorsi.

    Sementara dari penuturan pakar keamanan siber, Katie Paxton-Fear, para hacker memang mengincar kerapuhan korbannya.

    “Fenomena ini seperti mereka memiliki teropong dan berupaya menemukan titik lemah di sistem Ukraina. Sejauh ini serangan yang terjadi belum terlalu berbahaya, namun bukan berarti peretasan ini tidak akan menyebabkan distraksi ke tim keamanan di sana,” ungkap Katie, masih dikutip dari BBC.

    Anonymous dan balas dendam Ukraina
    Di medan perang, para tentara kedua belah negara mungkin sedang panas-panasnya. Namun, kondisi di dunia maya pun tak kalah panas.

    Setelah serangan berupa peretasan ini-itu melanda beberapa situs Ukraina, enam situs pemerintah Rusia pun kini menjadi korban juga.

    Grup hacker Anonymous pun menyatakan bahwa mereka “perang dengan Rusia” dan “terlibat dalam operasi melawan Federasi Rusia.”

    Sejauh ini, terpantau tak hanya situs pemerintahan yang diretas, namun saluran televisi Rusia juga menjadi target. Tak tanggung-tanggung, saluran televisi Rusia sampai memutar lagu-lagu Ukraina sebagai simbol serangan.

    Anonymous mengatakan, mereka menginginkan perdamaian.

    Kami sebagai grup kolektif hanya menginginkan perdamaian di dunia. Kami ingin masa depan bagi seluruh umat manusia,” lanjut Anonymous.

    Di sisi lain, pemerintah Ukraina telah meminta bantuan dari para hacker di negaranya agar kompak melindungi infrastruktur penting dari upaya serangan hacker Rusia. Tak sedikit juga hacker Ukraina menjalankan misi mata-mata di ranah maya.

    Komunitas siber Ukraina, ini saatnya untuk terlibat dalam pertahanan siber negara kita,” tulis postingan di forum hacker setempat yang ditulis pakar keamanan lokal, Yegor Aushev.

    Baca juga: Kebocoran Data Bank Indonesia Adalah Puncak Gunung Es

    Aushev sendiri adalah pendiri perusahaan Cyber Unit Technologies yang sudah sering membantu pemerintah Ukraina melindungi sektor kritikal dari serangan siber.

    Saking niatnya, layanan Google Docs dijadikan tempat pendaftaran bagi mereka yang berminat. Aksi ini kabarnya berasal dari permintaan langsung Kementerian Pertahanan Ukraina.

    Para hacker yang akan jadi relawan ini akan masuk ke unit pertahanan siber dan divisi serangan. Divisi pertahanan tugasnya melindungi fasilitas krusial seperti pembangkit listrik dan sistem air bersih.

    Sebelumnya, Menteri Transformasi Digital Ukraina, Mykhailo Fedorov mengumumkan bahwa negara mereka akan membentuk “tentara IT” agar menjadi garda terdepan di ruang siber.

    “Kami membuat pasukan IT dan membutuhkan talenta digital. Akan ada tugas untuk semua orang, kami terus berjuang di garda depan siber,” ujar Fedorov beberapa waktu lalu.

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini