Telco

Bisnis RBT di Indonesia Masih Menggiurkan

  • 21 October 2021
  • Bagikan :
    Bisnis RBT di Indonesia Masih Menggiurkan

    Ilustrasi (Foto: Chase Chappell / Unsplash)

    Uzone.id - “RBT itu apa ya,?” kata Shana (12) salah satu siswi kelas 7 di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Terpadu (IT) Rahmaniyah, Depok, Jawa Barat, saat menjawab pertanyaan Uzone.id, apakah dirinya pernah pakai aplikasi atau mendengarkan RBT saat menelepon seseorang?

    Yup, memang, anak 'zaman now' pastinya sudah jarang sekali mengenal yang namanya layanan RBT atau punya nama lain Nada Sambung Pribadi (NSP) untuk provider Telkomsel, i-Ring untuk provider Indosat Ooredoo, dan RBT untuk provider Tri dan XL Axiata.

    Bagi kamu yang belum tahu apa itu RBT?  RBT adalah layanan berbayar untuk pengganti dan personalisasi nada sambung standar. Jadi, RBT bisa bikin telponan jadi tambah seru dengan menampilkan nada dering lagu-lagu favorit kamu.

    BACA JUGA: Video Vulgar 13 Detik Diduga Lele PUBG Viral di Twitter

    Dan, tahukah jika RBT itu sempat mengalami puncak kejayaan pada tahun 2008-2010 di mana para musisi maupun label kejatuhan rezeki nomplok di tengah seretnya penghasilan dari penjualan CD atau kaset karena pembajakan lagu lewat CD ilegal atau download lagu ilegal di internet.

    “Tapi saat RBT anjlok tahun 2011, kami mulai terpuruk. Kami mulai membatasi beberapa artis yang masuk di perusahaan, kata Rahayu Kertawiguna, Produser Nagaswara saat berbicara kepada Nalar.id pada tahun 2018.

    Rahayu mengatakan, dulu dirinya berani berspekulasi, misalnya dengan iklan di RBT sekian rupiah, bisa balik modal. Setelah era kejayaan RBT sirna di tengah perkembangan era digital, semua pun ikut berubah.

    Black October

    Bisnis RBT hancur lebur setelah bisnis content provider berupa layanan SMS premium telah diberhentikan oleh pemerintah pada 18 Oktober 2011 sesuai dengan Surat Edaran BRTI No 177/BRTI/X/2011 atau dikenal sebagai Black October.

    Pasca keluarnya Surat Edaran tersebut, provider harus menghentikan penawaran konten melalui SMS, pop screen, voice broadcast, serta deaktiviasi semua layanan premium seperti SMS, MMS, nada dering, game, dan wallpaper.

    Ketua Harian Panitia Kerja (Panja) Pencurian Pulsa Komisi I DPR RI Tantowi Yahya di tahun tersebut mengatakan bahwa penghentian SMS premium yang juga berdampak pada penghentian layanan RBT berujung pada penurunan omzet bisnis hingga 99,5 persen.

    "Pantauan kami dari omzet bisnis content provider selama setahun mencapai Rp8 triliun-Rp 10 triliun. Setelah distop, omzetnya hanya 0,5 persen dari omzet biasanya," ungkap Tantowi saat jumpa pers di Komisi I DPR RI, Jakarta, pada 29 November 2011, seperti dilansir dari situs resmi DPR RI.

    BACA JUGA: Taksi Terbang Frogs 282 Saingi EHang-nya Rudy Salim

    Panja Pencurian Pulsa dibentuk DPR setelah marak pencurian pulsa yang digaungkan masyarakat pada pertengahan 2011.

    Saat itu, pulsa pengguna jasa layanan telekomunikasi berkurang dengan modus yang beragam antara lain, menerima pesan pendek (SMS) berisi tawaran konten, kuis, undian, atau bonus.

    Kemudian, Tifatul Sembiring yang saat itu menjabat Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkoinfo) telah membuat daftar hitam 60 content provider nakal.

    "Para konten provider yang di-black list ini tidak boleh lagi menjalin bisnis dengan operator," kata Tifatul di kantor Wakil Presiden Jakarta, pada 6 Oktober 2011.

    Tanggapan YLKI

    Ketua Pengurus Harian YLKI Sudaryatmo di depan Panja Pencurian Pulsa ketika itu mengatakan bahwa modus pencurian pulsa oleh content provider terjadi sejak 2009.

    YLKI mengklaim telah banyak menerima aduan dari masyarakat terkait pencurian pulsa.

    Sudaryatmo mengatakan, modus praktik pencurian pulsa yang dilakukan operator bermacam-macam. Salah satu caranya dengan mengirimkan promo RBT untuk masa berlaku selama tujuh hari.

    “Celakanya, konsumen yang tidak merespon balik atas promo RBT dari operator, dengan mengirim SMS untuk hentikan dengan menulis UNREG, operator menganggap konsumen menyetujui langganan RBT tersebut,” kata dia.

    BACA JUGA: Petisi Proses Hukum Rachel Vennya di Change.org

    RBT Era Sekarang

    Meskipun bisnis RBT sempat mengalami kiamat, namun lambat laun tumbuh kembang kembali hingga menjadi bisnis menggiurkan bagi PT Melon Indonesia. Perusahaan di bawah payung Telkom Indonesia ini memang dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di musik digital.

    Rizqi Angga K, GM RBT Melon, mengatakan bahwa untuk bisnis RBT di tahun 2021 memang kondisinya sedikit turun, tapi secara volume bisnisnya masih cukup besar.

    “Apalagi di Melon ini buat di internal itu kontribusinya (penghasilan) itu 70 persen. Nomor satu, masih di atas 70 persen terhadap income di produk musik,” kata Angga saat berbincang dengan Uzone.id, Senin (21/10).

    Angga menjelaskan kalau RBT secara bisnis masih besar meskipun sempat mengalami Black October. Saat itu malah bisnis RBT-nya Melon sempat nol, kemudian perlahan-lahan naik kembali.

    “Sampai saat ini kita alhamdulillah sudah rebound, jauh dari ekspektasi kita lah. Growth-nya itu sudah 600 persen,” ujar Angga.

    BACA JUGA: Lawan Twitter dkk, Donald Trump Luncurkan Media Sosial Baru

    Kenapa RBT masih bertahan di Indonesia?

    Angga mengatakan, masyarakat Indonesia tergolong unik. Kalau bicara data, ujar Angga, RBT pada tahun 2013-2014 di beberapa negara sudah turun bahkan tidak ada lagi. Justru di Indonesia pada tahun itu bangkit dari mati suri sejak terjadi Black October.

    “Demand-nya masih ada sih, sekarang agak turun bagaimana sekarang kita caranya nyari sesuatu yang baru,” kata Angga, lalu menyebut lagu paling laris pada layanan RBT saat ini adalah grup band Armada dan Dadali.

    Selain itu, genre dangdut dan melayu juga laris manis di layanan RBT, kata Angga.

    Di masa pandemi Covid-19, pengguna RBT sempat naik di momen Ramadhan dan Lebaran. Menurut Angga, mungkin karena masyarakat dilarang pulang kampung oleh pemerintah sehingga panggilan telepon (voice call) semakin meningkat.

    “Voice call semakin meningkat, otomatis RBT juga meningkat juga,” kata Angga, lalu menambahkan “Kenapa aku bicara RBT related sama voice? Bukan karena RBT itu di-play saat telepon, tapi 85 persen orang yang beli RBT karena referensi orang yang ditelepon,” terangnya.

    Untuk memperpanjang masa hidup RBT di Tanah Air, Angga mengatakan bahwa Melon sudah membuat aplikasi khusus RBT yang tersedia di iOS dan Android.

    Kelebihan aplikasi RBT, kata Angga, pengguna smartphone yang ingin berlangganan bisa mendengarkan terlebih dahulu lagu-lagu yang diinginkannya.

    Untuk di Indonesia sendiri, pengguna RBT banyak berada di wilayah Area I (Sumatera, Bangka-Belitung) dan Area IV (Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku) sesuai zona Telkomsel.

    BACA JUGA: Kain Lap Buatan Apple Dijual Seharga Rp260 Ribu

    RBT Dadali Laris Manis

    Dadali jadi salah satu grup band yang merasakan manisnya bisnis RBT. Meskipun bisnis RBT sempat dinolkan kembali oleh pemerintah pada Oktober 2011, namun passive income dari RBT masih mengalir sampai sekarang.

    Dyrga, vokalis Dadali, menceritakan saat bandnya berada di label Nagaswara sekitar tahun 2009 meraih 2 juta download RBT. Namun, ketika berada di label Ascada Music pendapatannya lebih besar lagi, yakni 6-7 juta download RBT sekitar tahun 2009-2010.

    “Bisa sampai 10 juta download. Rezeki itu,” kata Dirga saat berbincang dengan Uzone.id, Senin (18/10).

    Salah satu bisnis RBT yang menguntungkan musisi adalah bisa diwariskan kepada keluarga yang ditinggalkan. Itu terbukti ketika dua personel Dadali, Yuda dan Rixx meninggal dunia belum lama ini.

    BACA JUGA: Pixel 6 dan 6 Pro Dirilis, Perdana Pakai Chip Tensor Google

    “Itu (RBT) bisa diwariskan, kemarin pun pas almarhum Yuda dan Rixx meninggal itu terbukti semua lagu-lagu dari kontrak kita sampai 2040. Label pun memang bertanggung jawab hak warisnya kepada keluarga yang ditinggalkan, NSP itu berguna bagi yang masih aktif berkarya,” kata dia.

    Dyrga mengatakan, bisnis RBT lebih menguntungkan dibanding platform digital lainnya karena SOP-nya lebih gampang. Dia mencontohkan YouTube harus berkelanjutan membuat konten sehingga pembuat konten terus-terusan bekerja.

    “Kalau RBT kan kita bikin lagu aja seperti biasa, kita lempar produser, produser yang cutting. Setelah itu sudah passive income terus tuh. Itu indah banget di situ. Itu memudahkan kita lagi, bagaimana caranya kita mengkonsepkan kerja jadi content creator musik, seperti content creator YouTube yang tiap hari harus produksi dan itu menjadi gila lagi,” kata dia.

    Dyrga mengungkapkan bahwa penghasilan Dadali dari bisnis RBT sudah mendatangkan uang milyaran rupiah. Namun, penghasilan itu sekarang dikelola oleh label agar tidak habis sia-sia.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini