icon-category Digilife

Cerita Lengkap 'Layangan Putus', Kisah Ibu 5 Anak yang Suaminya Nikahi Pelakor

  • 05 Nov 2019 WIB
  • Bagikan :

    Ilustrasi wanita sedang sedih (Foto: Joshua Rawson Harris / Unsplash)

    Uzone.id - Masyarakat +62 memang demen banget sama netizen yang curhat di sosial media atau disebut juga sadfishing. Kalau cerita dalam sadfising itu benar atau enggaknya urusan belakangan.

    Yang penting nih, ceritanya dramatis, bikin emosi pembaca meletup-letup, dan akhirnya bisa merenggut perasaan pembaca untuk bersimpati kepada pencerita, kayak kisah KKN di Desa Penari yang ternyata ujung-ujungnya promosi novel dan film. 

    Baru-baru ini, ada lagi nih sadfishing dari wanita bernama Mommi ASF, yang sudah melahirkan 5 anak. Dia mengaku suaminya telah jatuh di pelukan 'pelakor' (perebut laki orang).

    Begini kisah yang diungkap Mommi ASF yang diberi judul 'Layangan Putus' mirip dengan cerita pendek (cerpen). Siap-siap aja sedia tisu ya.

    Part 1

    By. Mommi ASF

    16.32

    “Mommi aku mau kumon habis ini.” ucap anak sulungku. Aku menatapnya sedikit tak percaya

    “Abang gak capek sayang ?”

    “engga kok, kan aku kumon kan? Matematika ya Mommi?”

    Aku tersenyum mendengarnya. Kita masih setengah perjalanan menuju rumah dari sekolah Amir anak sulungku genap berusia 8 tahun awal bulan ini. Sekarang dia sudah duduk di kelas 2 sekolah dasar.

    Tahun lalu dia memang mengambil kelas bahasa Inggris dan matematika di kumon. Namun kami putuskan untuk berhenti mengambil subjek Bahasa Inggris karena Amir lebih tertarik belajar di English First (EF).

    Lembaga les bahasa asing yang menitikberatkan pada latihan percakapan menggunakan bahasa Inggris. Tak berselang lama matematika pun harus dihentikan, sebab bertabrakan dengan jadwal seolah dan kegiatan ekstrakulikuler.

    Tetapi hari minggu kemarin, kudampingi dia mengerjakan PR di buku tematik. Amir terlihat kepayahan dalam menyelesaikan soal matematika.

    Padahal saat masih belajar di Kumon, dia sangat lancar menjawab hitungan sederhana. Iseng aku tawarkan untuk kembali mengambil bimbingan matematika di Kumon, dengan catatan berhenti sejenak les d EF, dengan tidak mengambil term selanjutnya.

    Selain karena sisa waktu nyayang terbatas aku juga mengkhawatirkan biayanya. Ternyata responnya cukup baik, terbukti dia menanyakan hal ini.

    “Abang hari ini belum Kumon dulu, Mommi kan belum daftar ulang, insyaAllah bulna depan ya, doain Mommi ada rejeki untuk bayar les Kumonnya ya”

    “Hhmm Mommi gak punya uang ya?” pertanyaan polos yang membuat aku tersenyum. Tersirat dari ucapannya, dia mengerti kondisi keuangan kami tidak sebaik tahun tahun sebelumnya, juga ada rasa ngilu karena ada benarnya.

    “mmm sekarang beluum.. belum loh bukan TIDAK ada.. kalau buat belajarnya abang mommi yakin nanti akan ada uangnya.”
    Dia mengangguk dan kembali mengikuti lantunan murottal Ibrahim el-Haq dari audio mobil

    16.55


    45 menit kami berkendara akhirnya sampai di rumah. Kuparkir dengan rapi dan kumatikan mesin mobil.

    “Abang mandi ya sayang.. seger segerin badannya, istirahat sebentar, sambil siapsiap ke mesjid ya. Mommi mau bangunin adek ya..”

    Amir turun dari mobil an masuk ke dalam kerumah, sementara aku membangunkan pelan Arya yag tertidur di kursi belakang.

    Kukeluarkan barang barang bawaan sekolah anak anak yang masih tertinggal dimobil seraya menggendong putra keduaku.
    Disambut Abi, putra keempatku dari dalam rumah.

    “Mommi....” dengan membuka kedua tangannya, ia meminta ku peluk.

    Aku memang mengajarkan anak anaku setiap kali berjumpa harus saling peluk. Ya kami adalah team hugger

    Tapi kali ini di dekapanku ada Arya sehingga aku hanya menyambut Abi dengan senyuman dan mimik bahagia.

    “Adeeeek... sini sini sini” kuarahkan ia ke sofa ruang tamu, kuletakan pelan Arya yang juga mulai terjaga, kemudian ku dekap erat Abi

    “Assalamualaikum sayang...” kuhujani pipinya dengan ciuman bertubi-tubi.

    “mmmmmmhhhuuuaaahhh.... “ ia pun membalas mencium pipiku..

    Arya yang sudah terbangun ku pinta segera menyegarkan diri.

    “Alman ngaji mba?” kutanya asisten rumah tanggaku yang sibuk merapikan tas anak anak.

    “iya bu..” jawabnya singkat an berusaha mengajak Abi main keluar

    “Ayok Abi, main sepeda... biar mami mandi dulu ya”

    18.09

    Adzan magrib berkumandang. Alman anak ketigaku pulang kerumah setengah jam yang lalu, ia bersemangat menemuiku dan memamerkan hasil tulisan Arab-nya yang di nilai 90 oleh guru mengajinya.

    Bahagia itu sederhana. Dia senang sekai mendapat hadiah permen dari ustadzah karena sudah berhasil menghapal surah Al-Ashr.

    Amir, Arya dan Alman berlomba meraih tanganku untuk berpamitan, bergegas menuju mushola dan berlari, berlomba siapa yang lebih dulu sampai untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib.

    Haru bahagia menyeruak ke dadaku. Masyaalloh. Bahagia itu sederhana.

    Mushola memang tak berjarak jauh dari rumah. Hanya terhalang satu rumah dari tempat kami tinggal. Anak anak sudah biasa berangkat sholat dan megaji sendiri.

    Ini salah satu yang membuat aku terus berusaha mempertahankan rumah ini. Lokasi mushola yang sangat dekat dari rumah dan rasa kekeluargaan yang sangat erat antar tetangga di tengah keberadaan minoritas kami, menjadikanku sangat nyaman dan betah di sini.

    Anak anak masih belum pulang dari mushola, mereka menunaikan sholat Isya di sana.

    Arya memang tidak pulang sedari magrib tadi, berbeda dengan kakak dan adeknya, amir dan Alman memilih makan malam selepas Maghrib di rumah. Sedangkan Arya dihari senin dan kamis terbiasa ikut buka puasa sunnah bersama di mushola.

    Kulipat mukena dan sajadahku, kurapikan tempat tidur kami. Geruduk geruduk duk duk..

    Langkah kaki anak anak berlomba menaiki tangga menyerbu masuk ke kamarku

    “Assalamualaikum...” teriak mereka hampir bersamaan. Masing masing antre memelukku.

    “Mommi tadi makan nya pakai sateeee” laporan Arya.

    “Hooo abang Arya tadi gak pulang setelah magrib makan di mushola toh?” aku pura pura tidak tahu

    “Iyaa ini kan Senin”

    “Hooo iya ya he he...Mommi ga dibawain sate nih?” ucapku menggodanya

    “Weeee ga boleeh.. kalau mau mommi ke mushola aja besok besok” aku hanya tersenyum mendengarnya.

    Kupinta mereka segera berganti baju, bersikat gigi dan pipis.

    Kutanya mereka apakah ada tugas sekolah atau tidak. Kompak mereka semua menjawab tidak ada. Jadi kami habiskan malam itu dengan bermain di kasur, mencoba jurus asal-asalan ala boboiboi, kartun kesukaan mereka yang berasal dari negeri seberang. Hingga waktunya tidur tiba, pukul 21.00.

    Tak jarang waktu tidur akan tiba lebih awal kalau salah satu diantara mereka mengalami “kecelakaan” dalam bercanda. Signal kecelakaan muncul jika salah satu atau dua atau tiga atau bahkan keempatnya menangis.

    22.54

    Kupandangi wajah mereka satu satu, terlelap dalam ketenangan malam. Kuciumi mereka dan terus kubisikan kata maaf. Kuusap rambut mereka perlahan, kembali kata maaf yang terucap untuk mereka.

    Aku, 32 tahun, perantauan dari pelosok daerah. Hidup di Bali sudah 14 tahun. Aku menjalani pendidikan dokter hewan di Universitas Udayana tahun 2004.

    Pulang kampung 2011 hanya untuk menikah, kemudian kembali ke bali karena suamiku bekerja di sini.

    Suamiku, yang kini sudah resmi menjadi mantan. Perbedaan umur 7 tahun bukan jaminan sebuah hubungan akan berjalan tanpa hambatan,

    Aku resmi menjadi janda setelah 8 tahun pernikahan. Walau aku sudah menemaninya dari tahun 2005. Total aku mengenalnya adalah 14 tahun. Pernkahan kami menghasilkan 5 orang anak. Anak bungsuku meninggal saat kulahirkan 4 bulan lalu.

    Istigfar tidak lepas dari bibir dan hatiku, kupandangi terus wajah anak anakku, kuucapkan maaf disela sela istigfarku.

    “Maafin mommi ya nak, semua tidak akan mudah seperti dulu, kita belum bisa liburan, kemping bersama, membuat api unggun, membakar kayu.. untuk sekarang.. tapi Alloh pasti beri jalan.. pasti kalau kita mau bersabar kita akan liburan ke manapun abang mau..” lirih kubisikan ke telinga Amir, kuciumi pelan pipinya

    “Arya anak sholeh, hari kamis puasa sunnah beeeran ya nak, insyaAlloh robot yang Arya mau akan ada jalannya nanti kita beli, semangat hapalan quran ya sayang.. Mommi minta maaaf Arya belum bisa beli mainannya sekarang ya” kusapu lembut pipinya yang basah terkena air mataku. Tak terasa aku menangis..

    “Mommi minta maaaaaaaf ya adek..adek kangen daddy insyaalloh ketemu weekend ya nak..doakan daddy sehat ada waktu untuk main lagi sama Alman ya” kali ini aku terisak pelan..kutahan sesenggukanku karena Alman merespon dengan mengubah posisinya. Aku takut membangunkannya. Teringat pertemuan terakhir mereka, Alman menangis mendengar suara mobil daddy nya pergi.

    Terakhir abi..hanya pelukan yang sanggup kuberikan pada bayiku yang masih berusia 2 tahun ini. Kuciumi ubun ubunnya, sambil kutiup pelan dan kusematkan doa “Robbi habli minash sholihiin” berulang kali.

    Istigfar berulang ulang kulantunkan. Teringat SPP Salman yang belum kulunasi. Dan siang ini aku mendapat surat cinta dari PLN. Seorang petugas menaruh surat peringatan akan adanya pemutusan sementara aliran listrik bila tidak segera melakukan pembayaran. Berbagai kekhawatiran melintas dipikiran.

    Seperti layangan putus, rasanya badan ini pengen oleng mengikuti ke mana angin bertiup

    “Grooook...fiuuuhhh...ggrrkkk...fuuuuh..” suara dengkuran abang Amir membuyarkan lamunanku

    “Astagfirulloh wa atubu illaih....” aku keraskan dzikirku, kusadarkan diriku

    “astagfirulloh...” ku lihat kembali malaikat malaikat mungilku satu persatu.

    Aku punya Alloh untuk bersandar, tidaklah aku harus panik. Daddy nereka boleh saja memutus komunikasi denganku, ibu dari anak anaknya, bersikap acuh dan mencabut segala fasilitas di rumah ini, menghapus supir untuk anak anak, dan tidak mau mensupport biaya hidup anak anak, biaya pendidikan dan kesehatan.

    Aku punya Alloh untuk bersandar. Aku punya Alloh untuk meminta dan memohon. Anak anakku akan jadi anak bahagia yang sukses di dunia dan akhiirat

    Kutatap wajah wajah polos mereka yang tanpa dosa. Suatu saat nanti mereka akan menjadi orang orang hebat yang menerangi dan bermanfaat bagi orang orang disekelilingnya dimanapun mereka berada.

    Aku hapus air mataku, kuteguk air putih yang memang sudah disiapkan embakku setiap hari sebelum kami menuju kasur. Berjalan aku menuju kamar mandi dan berniat melakukan sholat sunnah 2 rakaat sekadar untuk curhat dengan Alloh.

    Tapi sebelum sampai kamar mandi langkahku terhenti melihat ponselku bergetar. Ah panggilan dari nomor tidak dikenal. Kulihat jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.

    Aku memilih tidak mengangkat telepon dari nomor tak dikenal diwaktu menjelang tengah malam. Kulanjutkan menuju kamar mandi. Kutunaikan niatku untuk sholat sunnah. Berlama lama aku sujud memohon ampun, curhat kepada sang pencipta. Sajadahku basah oleh airmata.

    03.10

    Aku terbangun dari sajadahku, tergopoh mendatangi Abi dan mengambil botol kosong, kuisi segera dengan susu UHT yang sudah tersedia di meja samping tempat tidur. Ku berikan ke bibir mungilnya, seketika tangisnya berhenti.

    Aku bersiap melanjutkan tidur, ku cari dulu ponselku karena ingin memundurkan alarm subuh. Aku ingin istirahat lebih lama karena kurasakan kepala ini masih sakit akibat menangis semalam, dan sepertinya mataku bengkak.

    ‘neneeeeeeeek im coming home! C u next week di bali! Sambut gue dengan tari hula hula. Lets start some business. I love you’ isi pesan singkat dari nomor handphone itu.

    Ternyata semalam telepon dari Dita. Sahabatku saat kuliah dulu. Dia memang mengabarkan akan kembali ke Indonesia setelah bekerja sebagai dokter hewan di Canada selama dua tahun

    ‘Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmusshoolihaat’

    Dita mungkin bukan jawaban dari segala permasalahanku, tapi pesan singkat nya tidak mungkin sebuah kebetulan. Allah yang Maha Baik yang mengatur segala pertemuan dan perpisahan.

    Melalui pesannya, Dita membangkitkan semangatku. Bismillah, kedukaan ku hari ini bukanlah akhir dunia. Dengan menyebut nama Alloh kupeluk Abi yang masih sibut menyedot botolnya sambil terpejam. Kupasrahkan hidup dan matiku esok pada hanya kepada Alloh pemilik alam semesta.

     

    Part 2

    By. Mommi asf

    19 september 2019

    Lembar putusan pengadilan agama mengenai perceraian sudah kuterima. Aku hela nafas panjang. Lega, sedih, sesak, bercampur di setiap hembusan nafas. Aku baca lagi berulang.

    “alhamdulillah” batinku, berusaha menyempatkan untuk bersyukur dalam setiap keadaan.

    Resmi sudah aku sedirian. Aku yang bertanggung jawab atas diriku sendiri, dan menanggung segala keputusan kedepan.

    Seperti kehilangan satu kaki, aku berusaha tetap tegak melangkah. Pun selama setahun setengah menjalani poligami, yang aku rasakan memang kakiku sudah sakit sebelah. Ibarat dalam sisi medis, saran terbaiknya adalah mengamputasi kaki yang sudah luka dan membusuk. Sebelum menjalar menyakiti ongan lainya.

    Tin tiiin tiiiin

    Klakson mobil dibelakang mengagetkanku. Aku sadar dan memacu mobilku menuju rumah. Aku bergegas mandi sesampainya dirumah. Jarang aku berlama lama di kamar mandi. Tapi, kali ini, aku betah berdiri dibawah kucuran air.

    12 february 2018

    Selesai subuh, aku mencari suami, ingin menggodanya. Semalam, ia tak masuk kamar melihatku, atau sebenarnya dia sudah melakukannya, saat aku tertidur lelap. Kubuka kamarnya, sepi.

    “oh, mungkin belum pulang sholat subuh dari mushola,” batinku, tapi, terlihat kamar masih rapi. Selimut terlipat, bantal dan guling masih tersusun. Tdak terlihat kasur yang habis ditiduri.

    Aku bingung, suamiku tidak izin menginap di kantor. Kuambil ponsel dan menghubunginya. Tersambung, tapi tidak ada jawaban. Kuulangi hingga berkali kali. Nihil.

    Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, langit sudah terang, gak mungkin dia di mushola selama ini. Aku mulai jengkel, kutelepon supir kantor. Kucecar Selamet dengan pertanyaan.

    “lho Mba, sampeyan kan, istrinya! moso mas Arif ga ada ngabarin?” jawab Selamet kaget.

    “Ke mana dia?”
    “Gak tahu aku mba! cuma nganter ke bandara tok wingi......”

    Reflek kuperiksa brankas mini yang terletak dilemari. Pasportnya tidak ada berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku. Aku duduk di kamarnya mencari petunjuk.

    Semenjak anak keduaku lahir, memang suami lebih nyaman tidur dikamar ini. Kecil tapi tenang baginya, tidak terganggu suara tangis bayi.

    Setiap pulang kantor seringnya malam hari, rutinitas kami adalah bercengkrama di ruang tv sampai lelah. Dia terkadang mengajakku bercerita di kamar ini sampai terlelap.

    Kemudian aku pindah ke kamar utama kami, karena disanalah anak anak kami tidur. Arya masih sering terbangun tengah malam berteriak mencariku, minta dipeluk.

    Kusadari kameranya tidak ada. Kemarin, dia memang pamit akan pemotretan untuk liputan motor BMW, karena itu, koper cabinnya yang berisi kamera dibawa serta. Tidak ada pikiran aneh. Aku percaya semua kalimat suamiku. Tapi, kenapa dia pergi tidak jujur padaku! Kemana dia?

    Aku ingat lagi, kemarin tidak ada yang aneh, tidak ada yang salah. Sebelum dia pergi dari rumah, kami bercumbu mesraaaa sekali. Hubungan kami bahkan sedang hangat hangatnya. Dia sering menggodaku belakangan ini. Dan aku sedang hobi mengumpulkan lingerie untuk menyenangkannya.

    Kami sedang semangat berolahraga agar lebih fit. Sehingga ranjang kami hidup sekali. Terlebih lagi, aku sangat percaya dia. Dia pemilik channel dakwah di youtube. Mas Arif paham, menyentuh lawan jenis adalah haram baginya. Bahkan, menundukan pandangan terhadap wanita non mahrom adalah kewajiban. Aku percaya betul suamiku. Tapi, kemana dia?

    24 february 2018

    Hatiku berdebar menjemput suamiku di bandara. Akhirnya setelah 12 hari pencarian, dia mengabarkan akan pulang. Mas arif memintaku menunggu dirumah.

    Tapi rasa khawatirku memuncak sudah. Aku tidak bisa duduk manis menunggunya dirumah. Segera kupacu mobil menuju bandara.

    Teringat 10 hari lalu, aku penuh kebingungan mencarinya, semua kemungkinan berkecamuk di kepalaku. Apakah ia pergi dari rumah tanpa kabar untuk jihad? Apakah ia ke timur tengah? Karena salah satu ustadz kenalan kami ada yang pernah mengajaknya meliput ke

    Suriah saat itu. Misinya untuk membuka mata dunia bahwa Suriah butuh pertolongan.

    Kutangisi niatnya saat itu. Aku tak rela dia pergi ke timur tengah. Karena itukah, dia saat ini pergi tanpa pamit? Atau apakah dia bermasalah dengan pihak bea cukai dan kemudian ditahan? Atau dia sedang terancam bahaya? Diculik dan diancam pihak lawan bisnis?

    Aku tak yakin dengan semua firasat tentang kepergiannya. Yang ada haya kecemasan yang luar biasa.

    Sepuluh hari lalu akhirnya telponku diangkat olehnya.

    “Mbi aku titip anak anak” ujarnya buru buru.

    ”Kamu mau kemana? Kamu mau kemanaaa?” cecarku

    “Aku di Jakarta! Mas, pergi dulu. Kamu dirumah baik baik sama anak anak ya. Aku titip anak anak ya, Mbi. I love you.”
    Bip bip bip... terputus.

    Tidurku tak tenang. Makanku tak nyaman. Duniaku berhenti berputar. Aku terus bertanya kemana? Dimana? Kenapa bisa dia pergi? Apa yang disembunyikan dariku?

    Rekan kerjanya kudatangi untuk mencari info, nihil. Kerabat yang berposisi AKBP, kupinta bantuan melacak nomor gawainya, gagal.

    Nomor terdeteksi di daerah pelosok jawa tengah. Namun kerabatku meyatakan bahwa pelacakan satelit belum tentu akurat. Hingga kucari hacker untuk menemukannya, tapi tetap tak ada hasil.

    [Mbi, sehaaat? Kamu harus sehat ya sayang. Anak anak tadi nonton black panther, rindu kamu banget] isi pesanku.

    Mbi adalah panggilan sayang kami. Aku lupa apa yang menyebabkan kami saling memanggil mbi. Mungkin dari baby kemudian beralih menjadi Mbi.

    Hanya muncul centang satu, tak lama centang dua, tapi tak pernah centang itu berubah warna menjadi biru. Pertanda tidak dibaca. Kukirimi mas Arif foto dan voice note suara anak anak. Tak ada respon.

    [Mbi, aku ga tau kamu dimana, sedang apa, aku salah apa? Mbii, aku janji akan sering masak, pulang ya, Mbi]

    [Aku kebangun kepikiran kamu, dimana kamu, Mas?]

    Seperti biasa, pesanku hanya centang satu, beberapa menit kemudian centang dua tap,tak prnah menjadi biru

    [Mbii, aku kejakarta sekarang! Aku tak peduli jika harus hilang disana! Aku akan mencari mu sampai ketemu!] Pesanku
    Kemudian dibalas.]

    jangan sayang, batalkan kepergianmu ke Jakarta. Aku akan pulang besik!]

    [Kapan?] balasku singkat.

    [Besok malam, sayang. Tunggu aku ya]

    Kutelepon dia, masih tak diangkat. Lalu kuhujani mas arid dengan pesan singkat.

    {kirim tiketmu!] kukirim berulang pesan itu hingga dia merespin.

    [Citilink 24/2, jam 17.00. tunggulah dirumah! Isya nanti, aku sudah dirumah, Mbi] jawabnya

     

    ***

    Suasana hening dimobil. Dia menyetir dan aku duuk di kursi penumpang menatap jalan, tapi pikiranku entah kemana.

    “Mau makan?”

    “Kamu darimana?” jawabku

    “Ok. Kita bicara di rumah, ya.”

     Setiap dia membuka percakapan aku terus menjawabnya dengan kalimat yang sama.

    “Kamu darimana?”

    Dia ganteng sekali, rapi, bersih dan wangi. Suamiku memang cenderung metroseksual, dia sangat peduli akan penampilan. Tapi, bukan itu yang membuatku jatuh cinta. Bukan fisik bukan pula harta.

    Teringat saat pertama kami merintis usaha ini, aku membantunya berjualan kartu perdana seluler kepada para bule di kuta, sambil kuliah. Menjajakan pulsa dan menyewakan handphone kepada para turis. Mas Arif yang mengajari aku untuk tangguh, mengenalkan arti kerja keras.

    Romantisme muncul saat uang kami tersisa sepuluh ribu. Mas arif membeli dua bungkus nasi jinggo, masing masing seharga empat ribu.

    Saat dimakan ternyata sudah basi. Mas Arif tampak kecewa tidak bisa memberiku makanan yang layak. Sisa uang dua ribu, dibelikan gorengan untukku. itulah, satu satunya makanan yang masuk keperutku. Aku terenyuh sekali. Romantis!

    ***

    Mobil kami memasuki rumah. Anak anak menyambut dan memeluknya. Mereka rindu sekali. Selesai bermain, arif bergegas mandi. Dan aku menidurkan anak anak. Setelah mereka terlelap aku duduk di ruang tv menanti jawaban dari berbagai pertanyaan belasan hari belakangan ini.

    ***

    27 february 2019

    Tanganku lancang membuka handphone Arif. Setelah pengakuannya yang lalu, aku masih belum berdamai dengan diriku. Perasaan hancurku membuat enggan membahas atau bertanya lebih jauh.

    Aku memilih mencari tahu dengan tanganku sendiri. Pun, Arif, terkadang sosok yang dingin. Tidak sedikitpun dia berusaha mengajakku bicara, meminta maaf atau menenangkanku.

    Ponselnya disembunyikan di atas rak buku. Tak sadar airmataku mengalir. Kutemui ratusan foto mereka. Hatiku tersayat ... ngilu. Aku dalam kecemasan yang amat sangat saat ia menghilang selama 12 hari.

    Tapi mas Arif tidak hilang. Dia hanya ber-honey moon di Cappadocia. Kota impianku. Aku memang sudah pernah pergi ke Turki saat menunaikan ibadah umroh, bersamanya. Tapi, kali itu kami tidak menyentuh Cappadocia.

    Betapa remuknya hatiku melihat dia sudah pergi ke sana lebih dulu dengan istrinya yang baru. Istri muda yang baru 12 hari dinikahinya.

    Aku tak kenal perempuan itiu. Yang kutahu dari suamiku, wanita itu cantik dan muda.

    Aku marah dan murka. Aku merasa dikhianati. Maaf dari mas Arif tak cukup mambuatku tenang.

    Ya Rabb... ampuni aku.

    ***

    19 september 2019

    Selesai mandi, aku segera berpakaian. Ini mandi ke lima ku hari ini. Entah karena gerah atau karena kebutuhanku saat ini. Menyenangkan sekali berada di bawah kucuran air. Airmataku bias dengan jatuhnya air yang menyentuh wajah. Seperti dipijat, kutengadahkan wajahku menghadap shower. Mata, pipi, dan dahi terkena pancuran air terasa yaman sekali.

    Aku sudah segar, rapi dan wangi. Melangkah menuju kamar tidur, kulihat jam dinding sudah menunjukan angka sebelas malam. Anak anak tersusun rapi terpejam dikasur.

    Bukan saatnya tumbang, aku bukan layangan putus yang tak tentu arah. PR ku masih banyak, keempat anak ini punya masa depan yang indah. Aku percayakan semua pada penopangku Alloh sang Maha Baik.

    Jauh dilubuk hati, doaku untuk mantan suami. Aku tak mampu lagi menunaikan kewajiban sebagai seorang isteri untuknya. Dia resmi bukan milikku sekarang, kulepaskan segala memori perjuangan cinta kami yang dulu.

    Aku sudah tidak terikat sebagai istrinya. Semoga ia diberi kesehatan...

    Mommi kemudian menghapus postingannya. Dia meminta maaf kepada para pembaca dengan alasan dirinya bukan penjahat dan hanya ingin menulis.

    "Mommi masih butuh banyak belajar, mencari dan membuat tulisan yang membawa kebaikan pada pembaca juga kepada mommi sang penulisnya semoga para pembaca dan mommi selalu dilembutkan hatinya..."

    "Mohon doanya dari kakak kakak dan sahabat online semua, mommi dan anak anak selalu sehat dan berkumpul bersama yaa... mereka kekuatan mommi, mohon doa segala yang baik utk mereka ya.. aaamiin," tulis dia.

     

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini