icon-category Startup

Hal yang Perlu Diketahui dalam Merintis Startup

  • 18 May 2022 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi: Unsplash

    Uzone.id – Anak-anak muda yang mungkin masih duduk di bangku sekolah dan sudah sibuk merencanakan masa depan akan seperti apa, wajar jika tertarik dengan dunia startup yang digandrungi generasi muda. Bagi yang masih bingung, apa itu startup?

    Startup adalah perusahaan yang berfokus pada satu produk atau layanan yang ingin dibawa oleh sang founder ke pasar. Perusahaan-perusahaan ini biasanya belum memiliki model bisnis yang sepenuhnya berkembang, dan sebagian besar didanai oleh pendiri mereka sebelum mencari bantuan pendanaan dari investor.

    Yup, startup dan founder menjadi kesatuan dan akan selalu berkaitan satu sama lain. Founder atau pendiri adalah nama orang pertama yang membuat atau memberi ide wirausaha. Founder mengacu pada orang pertama yang memulai atau menemukan ide bisnis.

    Baca juga: AirAsia Food Hadir di Indonesia, Kirim Makanan Pakai Drone

    Punya titel “founder” memang akan terlihat keren. Tapi apa sebenarnya tugas seorang founder?

    Pendiri bisnis kecil bisa dibilang adalah jantung dan jiwa bisnis itu, dan mereka harus tahu apa yang dapat mereka lakukan dan apa yang harus mereka hindari dalam berbagai situasi.

    Ada beberapa peran yang harus mereka lakukan, yaitu:

    Manajemen perusahaan
    Founder akan menghadapi sejumlah tugas manajemen yang penting. Salah satu tugas manajemen paling signifikan yang mungkin akan dihadapi adalah mengelola dewan direksi untuk perusahaan.

    Menentukan visi perusahaan
    Founder bertanggung jawab untuk menetapkan visi perusahaan agar tetap unik dan menarik bagi calon konsumen. Selain itu, founder juga harus berkonsentrasi untuk menciptakan nilai bagi pelanggan dan memastikan bahwa perusahaan terus berkembang dan berubah seiring waktu.

    Membentuk tim yang baik
    Founder bertanggung jawab untuk mengumpulkan “tim sukses” yang berinvestasi dalam kesuksesan perusahaan.

    Mengembangkan rencana bisnis
    Selama tahap awal bisnis, pendiri perlu mengembangkan rencana bisnis dan memastikan bahwa pejabat hingga karyawan mematuhi rencana ini.

    Biasanya mereka melakukan ini dengan mengawasi dan bekerja sama dengan petugas dan karyawan lainnya. Setelah bisnis berjalan, founder dapat mempekerjakan seseorang yang dapat membantu mengembangkan bisnis dan memastikan bahwa perusahaan mematuhi keseluruhan rencana bisnis.

    Manajemen keuangan
    Kecuali jika founder telah menunjuk peran chief finance officer (CFO) untuk bisnisnya, mereka akan bertanggung jawab untuk mengelola semua keuangan yang terkait dengan bisnis.

    arena kehabisan uang jelas merugikan bisnis yang baru dimulai, founder harus terus-menerus memperhatikan arus kas, pendapatan, dan pengeluaran bisnis. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan membiasakan diri membuat catatan yang baik.

    Setelah mengetahui peran fundamental dari seorang founder, ada juga beberapa tips yang layak kalian perhatikan kalau saat lulus sekolah atau kuliah nanti ingin merintis startup sendiri. Berikut tipsnya:

    • Analis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) pada startup
    • Jangan ragu mencari co-founder
    • Bentuk tim sukses yang andal
    • Perluas koneksi dengan orang penting (high-profile people)
    • Business plan tetap dipakai
    • Bentuk mental bisnis yang baik

    Ketika seorang founder telah mencapai titik membangun startup, tentu ingin usaha rintisan ini bisa berkembang sampai akhirnya mendapat valuasi yang layak, serta mencapai visi-misi yang sejak awal dibentuk.

    Baca juga: Tips Memulai Bisnis di Era Serba Digital

    Ada 3 karakter krusial yang mungkin sering kalian dengar di dalam tim inti startup.

    Pertama, hustler. Istilah ini diperuntukan orang-orang yang menyukai dan jago di bidang marketing dan bisnis.

    Kedua, hipster. Berkaitan dengan namanya, karakter hipster adalah peran di dalam startup yang punya andil dan jago di bidang desain.

    Ketiga, hacker. Mereka yang tergolong hacker adalah yang bertanggung jawab dalam urusan engineering dan software developing.

    Jika sudah menemukan tim inti dengan 3 karakteristik penting di atas, tinggal berdiskusi langkah-langkah mengembangkan startup.

    Dari platform Glints, disebut bahwa mengembangkan startup itu berarti kita harus memiliki tujuan jelas. Dengan tujuan yang jelas, perusahaan tidak akan limbung. Selain itu, hal ini akan berpengaruh terhadap langkah-langkah yang akan kamu ambil setelahnya, seperti:

    1. Menentukan cara permodalan. Tentukan cara permodalan perusahaan yang akan kamu ambil. Hal ini berkaitan juga dengan tujuan dari perusahaanmu sendiri – apakah cocok dengan metode bootstrapping (mengandalkan kenalan untuk jadi investor) atau crowdfunding?
    2. Bangun relasi dengan pelanggan, Menurut karakteristik perusahaan startup, pelanggan adalah hal yang paling utama. Bangun hubungan dengan pelanggan, terima saran dan kritik dari mereka.
    3. Fleksibel. Tujuan perusahaan memang tidak boleh berubah, tapi juga jangan menjadi pendiri yang kaku dan tak mau menerima saran.
    4. Terima saran dan kritik sebagai bahan untuk mencari cara yang lebih baik dalam meraih tujuan perusahaan startup.
    5. Jangan pernah merasa nyaman. Ketika merasa tidak nyaman, kamu akan selalu mencari cara untuk mengembangkan perusahaan startup-mu
    6. Buat kultur yang positif, ciptakan suasana positif di perusahaan startup-mu kelak agar karyawan selalu berusaha memberikan yang terbaik
    7. Sabar menunggu pertumbuhan.

    Baca juga: IPO GoTo dan Harapan Driver Ojol Kecipratan Saham

    Ketika produk telah dibuat dan siap diluncurkan kepada publik, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah branding atau mempromosikan ‘jati diri’ dari startup.

    Branding adalah aktivitas pencitraan yang dilakukan agar sebuah merek atau sosok terlihat berbeda dari merek lain, sehingga menarik dan mudah diingat oleh masyarakat.

    Dari branding ini, bisa menjadi taktik jitu untuk mendapatkan modal untuk startup. Salah satu tantangan bagi para pelaku startup memang persoalan modal, karena namanya juga perusahaan rintisan pasti butuh lebih banyak biaya operasional atau pengembangan produk.

    Berikut sejumlah opsi yang dapat dipertimbangkan oleh pemain startup dalam mendapatkan modal:

    • Bootstrapping
    • Dana Keluarga
    • Pinjaman usaha ke bank atau koperasi
    • Inkubator dan akselerator
    • Angel investor
    • Venture Capital

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini