icon-category Digilife

Indonesia Masuk Metaverse, Seberapa Siap?

  • 21 Jan 2022 WIB
  • Bagikan :
    Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi (Foto: Tomi Tresnady / Uzone.id)

    Uzone.id - Saat ini muncul kesenjangan lain dalam akses digital, bukan lagi antara orang yang punya internet dan sama-sama punya internet, tetapi punya kecakapan digital dan tidak punya kecakapan digital atau antara orang yang terliterasi digital dengan orang yang belum terliterasi digital. 

    "Artinya apa? Tidak semua yang menggunakan internet sudah cakap digital. Tidak semua orang yang menggunakan internet sudah terliterasi secara digital," kata Dedy Permadi saat berbicara di acara Peluncuran Indeks Literasi Digital 2021 di Jakarta Pusat, pada Kamis (20/01/2022). 

    Padahal, kata Dedy, kalau melihat perkembangan year on year (yoy), ada nilai 10,58 persen, berarti pertumbuhan sektor infokom di kuartal I, kuartal II dan kuartal III, semuanya berada di 2 digit.

    BACA JUGA: Seminggu Berlalu, Ghozali Everyday (Masih) Disorot Kominfo

    "Ini satu-satunya sektor yang menurut saya dan menurut data BPS adalah sektor terus bertahan meski di tengah pandemi Covid-19," ujarnya.

    Kalau melihat misalnya di Kuartal I tumbuh 10,85 persen, Kuartal II tumbuh 10,72 persen dan Kuartal II tumbuh 10,91 persen, ada pertumbuhan sektor infokom di 2020 di saat sektor-sektor lain mengalami kontraksi akibat pandemi.

    "Artinya apa? Poin kedua saya artinya dari data-data itu kita melihat optimisme, peluang. Meskipun pandemi covid 19 membawa kontraksi, membawa perlambatan pertumbuhan ekonomi tetapi sektor digital tetap memiliki peluang, sektor digital tetap bisa diberdayakan untuk pemulihan ekonomi masyarakat," kata dia.

    Masalahnya, kalau semua orang pakai internet dan semua orang sudah pakai media sosial, kemudian kita punya tantangan baru. Tantangannya adalah memastikan orang yang memakai internet, orang yang memakai media sosial bisa menggunakannya untuk tujuan yang positif dan produktif, itu jadi pekerjaan rumah kita.

    "Kalau dulu kita masih berbicara tentang website, tentang media sosial, sekarang kita sudah ketemu yang namanya metaverse. Apalagi? Kita belum selesai dengan upaya untuk menanggulangi konten negatif di ruang digital, di media sosial sekarang sudah muncul namanya metaverse," ujar Dedy.

    Menurutnya, metaverse akan sangat menantang di masyarakat Indonesia. Salah satu penjelasan yang paling mudah dipahami adalah ketika kita melihat perkembangan mulai dari Web 1.0, Web 2.0, dan sekarang masuk ke Web 3.0.

    Dedy menjelaskan, Web 1.0 ketika kita hanya bisa berinteraksi dengan internet di saat internet muncul pertama kali di Indonesia pada tahun 1996.

    Kemudian, kita masuk ke Web 2.0, ketika orang berinteraksi di ruang digital melalui media sosial memunculkan berbagai tantangan, bagaimana memilah dan memilih informasi yang masuk ke kita, bijak bermedia sosial dan lain sebagainya.

    "Itu Web 2.0, masalahnya Bapak-Ibu, sekarang kita sedang memasuki web 3.0, yang tidak hanya internet awal, tidak hanya media sosial ,tetapi kita sudah akan atau malah justru sudah mulai masuk ke ruang yang namanya metaverse (Web 3.0)," tuturnya.

    Sudah banyak orang Indonesia mulai menggunakan metaverse, salah satu efek dari metaverse adalah ketika kita menggunakan virtual reality, di dalamnya terdapat komponen-komponen lain, yang salah satunya transaksi digital untuk memiliki aset-aset digital yang difasilitasi oleh platform untuk NFT, misalnya.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini