icon-category Digilife

Jangan Cuek, Ini 5 Jenis Email Masuk yang Harus Cepat Dihapus

  • 03 Dec 2021 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi: Unsplash

    Uzone.id -- Terlepas dari kepraktisan yang ditawarkan oleh teknologi digital, hal ini memang menumbuhkan berbagai ancaman keamanan yang menuntut tiap penggunanya harus selalu mawas diri. Urusan pesan email yang masuk pun harus diperhatikan.

    Bagi yang belum tahu, apabila ada orang yang mendapatkan akses ke pesan masuk email atau inbox kita, salah satu konsekuensi yang mungkin terjadi adalah serangan BEC (Business Email Compromise). Mirisnya, bisa jadi korespondensi kita sendiri yang berkontribusi besar terhadap penerobosan ini.

    Terlepas ada kehadiran software keamanan yang dapat membantu meminimalisir risiko, perlu diingat bahwa siapapun bisa menjadi korban phishing. Maka, penting untuk menghindari potensi kerusakan dengan cara menghapus pesan sensitif untuk berjaga-jaga.

    Baca juga: Daftar Perusahaan Teknologi yang Simpan Data Center di Gedung Cyber

    Berikut 5 jenis email masuk yang sebaiknya segera dihapus.

    1. Data otentikasi
    Mengirim password atau kata sandi melalui email yang tidak terenkripsi adalah ide buruk. Namun, beberapa perusahaan masih mengirim password melalui email. Bahkan, karyawan pun kadang mengirim password, login, dan jawaban mereka sendiri atas pertanyaan rahasia.

    Nah, pesan seperti ini adalah yang diincar para hacker atau penjahat siber. Dengan akses ke sumber daya perusahaan, mereka jadi mendapatkan informasi tambahan untuk manipulasi rekayasa sosial.

    2. Notifikasi layanan online
    Kita pasti pernah mendapatkan berbagai bentuk pemberitahuan dari layanan online, seperti konfirmasi pendaftaran, tautan pengaturan ulang password, notifikasi pembaruan kebijakan privasi. Mungkin hal ini tidak menarik, tapi justru menunjukan layanan berlangganan kita secara spesifik.

    Dalam banyak kasus, inbox kita adalah kunci utama bagi semua layanan ini. Dengan mengetahui layanan apa saja yang digunakan, hacker dapat meminta perubahan password dan masuk melalui inbox kita.

    3. Pemindaian dokumen pribadi
    Pengguna korporat sering tergoda untuk menggunakan inbox email sebagai penyimpanan file cloud, terutama jika mereka mengirimkan pindaian melalui email. Misalnya, salinan paspor, pembayaran pajak, dan dokumen lain yang sekiranya sering digunakan untuk keperluan rutin atau perjalanan bisnis.

    Baca juga: Tanpa UU PDP, Masyarakat 'Buta' Jika Ada Kebocoran Data

    Ada baiknya segera menghapus semua pesan yang berisi informasi pribadi dari email, serta hanya lakukan download dan simpan dokumen di penyimpanan terenkripsi.

    4. Dokumen berisi kepentingan bisnis yang sensitif
    Pertukaran dokumen biasanya dianggap sebagai bagian integral dari alur kerja perusahaan. Sayangnya, beberapa dokumen mungkin bernilai juga bagi para hacker, seperti laporan keuangan.

    “Laporan semacam ini kemungkinan dapat ditemukan di inbox masuk divisi keuangan yang memberikan banyak informasi sensitif, dan merupakan titik awal ideal untuk serangan BEC. dalam beberapa kasus, studi atas laporan keuangan juga dapat memberikan peluang untuk manipulasi bursa saham. Maka, penting menghapus informasi sensitif ini,” tutur pakar keamanan Kaspersky, Roman Dedenok.

    5. Data pribadi
    Data pribadi orang lain seperti resume dan CV, dokumen aplikasi hingga pendaftaran, dan lain-lain, juga biasanya hinggap di inbox email. Tentu hal ini juga menjadi mangsa para hacker dan penjahat siber apabila kita tetap menyimpannya, apalagi data ini sangat mungkin dimanipulasi atau digunakan untuk tipuan identitas.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini