Lifestyle

Kartu Pos, Pesan Penuh Kesan yang Asing di Mata Milenial

Bagikan :
Kartu Pos, Pesan Penuh Kesan yang Asing di Mata Milenial

Popularitas kartu pos kian menurun seiring berkembangnya teknologi. Media berkirim pesan dengan gambar itu seakan tenggelam digantikan dengan kemudahan berkomunikasi melalui aneka aplikasi telepon pintar.

Generasi muda kini tak kenal atau asing dengan kartu pos.

Alasan inilah yang membuat program menulis kartu pos untuk anak sekolah dasar (SD) kembali digalakkan oleh sebuah majalah anak-anak dan didukung Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Siswa SD itu diminta untuk berkreasi menulis kartu pos berisi semangat dan dukungan untuk atlet Indonesia yang berlaga di Asian Games dan Asian Para Games 2018.


Menulis kartu pos ini berhasil memecahkan rekor yang dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan total menghimpun 35 ribu kartu pos dari siswa SD.

"Karena anak zaman sekarang tidak familiar dengan kartu pos. Padahal, kalau diingat-ingat kartu pos itu dulu istimewa banget," kata Managing Director Majalah anak CIA Stefanie Augustin kepada CNNIndonesia.com, Jakarta, Minggu (12/8).

Kartu Pos, Pesan Penuh Kesan yang Asing di Mata MilenialPenyerahan Rekor MURI Penulisan Kartu Pos Terbanyak oleh Siswa Sekolah Dasar dari Museum Rekor Indonesia kepada Menteri Pemuda Olahraga Imam Nahrawi, Jakarta, Minggu (12/8). (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)


Stefanie menjelaskan kartu pos pernah mendapat tempat spesial di masyarakat Indonesia. Ketika itu, kartu pos menjadi pilihan utama  berkomunikasi dengan kerabat, keluarga bahkan kekasih hati.

Menurut Stefanie, menulis dan mengirimkan kartu pos memberikan sensasi yang berbeda ketimbang mengirim pesan melalui WhatsApp. Menulis dengan kartu pos menunjukkan kesungguhan hati karena membutuhkan usaha yang lebih untuk mengirimkannya.

Sedangkan bagi penerima, kartu pos juga memberikan kesan istimewa.


"Kalau terima kartu pos itu rasanya seperti ada orang yang ingat sama kita. Karena tulisan tangan atau manual dan kemudian menerima dalam bentuk fisik itu memberikan kebahagian sendiri bagi orang yang menerimanya. Orang itu merasa lebih dihargai," kata Stefanie.

Saat melakukan sosialisasi menulis kartu pos ke 100 SD di 15 kota besar di Indonesia, Stefanie mengaku anak-anak menyambut antusias membuat surat dengan kartu pos.

"Mereka senang karena mereka sebelumnya rata-rata enggak tahu. Ada yang tahu cuma belum pernah melihat secara fisik. Jadi, waktu kami ke sekolah mereka seperti, 'Oh, kartu pos itu seperti ini,'" ucap Stefanie.

Sejarah Kartu Pos

Kartu pos pertama kali beredar di Austria tertanggal 1 Oktober 1869. Katu pos pertama di dunia itu dikenal dengan nama Correspondens-Karte.

Di Indonesia, kartu pos mulai dikeluarkan oleh pos negara lima tahun berselang. Saat itu, kartu polos dengan sisi perangko di baliknya dibuat berukuran 9x12 sentimeter. Kartu pos bergambar baru mulai diterbitkan pada 1890-an oleh percetakan pribadi.

Ketika itu, percetakan kartu pos menggunakan metode di atas permukaan licin atau dikenal dengan litografi. Setelah itu, kartu pos mulai dicetak dengan mengambil gambar dari klise foto. 

Perkembangan percetakan membuat kartu pos kini dicetar dengan aneka kertas dan gambar yang bervariasi. Biasanya, kartu pos itu dicetak sesuai dengan tema tertentu atau ciri khas daerah yang menerbitkan.

Kini, kartu pos banyak digunakan untuk mengirim pesan khusus bagi orang yang spesial. Beberapa orang bahkan menjadikan kartu pos sebagai oleh-oleh saat melancong.

"Kalau jalan-jalan ke tempat baru, suka nyari kartu pos buat dikirim ke teman sekalian jadi suvenir karena ada gambar yang berkaitan dengan daerah yang dikunjungi," kata Abdul Rozak yang masih gemar mengirim kartu pos ke teman-temannya.

Berita Terkait

Tags : Kartu pos milenial 

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini