home ×
Digilife

Kasihan Celeng, Sering Dituduh Babi Ngepet

29 April 2021 By
Kasihan Celeng, Sering Dituduh Babi Ngepet
Share
Share
Share
Share

Ilustrasi (Foto: Kevin Jackson / Unsplash)

Uzone.id - Coba saja lepaskan seekor celeng saat malam hari di kawasan perumahan kamu, tak sedikit orang akan menuding itu adalah babi ngepet.

Yup, pola pikir masyarakat Indonesia memang masih lekat dengan namanya tahayul. Contohnya saja yang masih hangat peristiwa di Kampung Bedahan RT 02/04 Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan. Kota Depok, Jawa Barat, 

Polisi melaporkan babi yang ditangkap oleh warga itu jenis babi hutan (salah satu jenisnya celeng), warna hitam dengan ukuran anjing dewasa.

Adam Ibrahim, pria yang dikenal sebagai ustad di kawasan itu sudah diamankan polisi karena diduga jadi dalah satu penyebar hoax babi ngepet.

Babi celeng juga kadang disebut sebagai babi hutan. Binatang ini adalah nenek moyang babi liar yang menurunkan babi ternak (Sus scrofa domesticus).

BACA JUGA: Michael Collins, Astronaut Misi Apollo 11 ke Bulan Meninggal Dunia

Sebaran celeng terdapat di wilayah hutan-hutan Eropa Tengah, Mediterania (termasuk Pegunungan Atlas di Afrika Tengah) dan sebagian besar Asia hingga wilayah paling selatan di Indonesia.

Babi hutan termasuk famili Suidae yang mencakup babi liar Afrika dan babi semak di Afrika, babi kerdil di utara India, dan babirusa di Indonesia.

Untuk jenis Sus scrofa vittatus terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatra dan Jawa; kemungkinan pula di Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, hingga Pulau Komodo.

Evolusi

Foto: Lokesh Kaushik / Unsplash

Studi MtDNA menunjukkan bahwa babi hutan berasal dari pulau-pulau di Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina, dan kemudian menyebar ke daratan Eurasia dan Afrika Utara.

Fosil awal spesies ini berasal dari Eropa dan Asia, dan berasal dari masa Pleistosen Awal. Kerabat terdekatnya adalah babi berjanggut di Malaka dan pulau-pulau sekitarnya.

Ukuran

Babi hutan berukuran besar dengan kaki yang pendek dan relatif kurus. Kepala hewan ini sangat besar, mencapai sepertiga dari seluruh panjang tubuhnya.

Struktur kepala sangat cocok untuk menggali. Kepala bertindak sebagai bajak, sedangkan otot leher yang kuat memungkinkan hewan untuk mengangkat sejumlah besar tanah.

Ia mampu menggali 8-10 cm ke dalam tanah keras dan bisa mengangkat batu seberat 40-50 kg.

Matanya kecil dan cekung serta telinganya panjang dan lebar. Spesies ini punya gigi taring yang berkembang dengan baik, yang menonjol dari mulut jantan dewasa.

Kuku medial lebih besar dan lebih memanjang daripata yang lateral dan mampu bergerak cepat. Babi hutan bisa berlari dengan kecepatan maksimum 40 km / jam dan melompat pada ketinggian 140-150 cm.

Jantan dan Betina

Foto: Gabor Vereb / Unsplash

Dimorfisme seksual sangat menonjol pada spesies ini. Jantan biasanya 5-10 persen lebih besar dan 20-30 persen lebih berat daripada betina.

Jantan memiliki surai di punggung, gigi taring jauh lebih menonjol dan terus tumbuh sepanjang hidupnya.

Gigi taring atas relatif pendek dan tumbuh ke samping di awal kehidupan, meskipun secara bertaham melengkung ke atas.

Gigi taring bawah jauh lebih taja dan lebih panjang, dengan bagian yang terbuka berukuran panjang 10-12 cm.

Selama masa kawin, pejantan mengembangkan lapisan jaringan subkutan, yang mungkin setebal 2-3 cm, membetang dari tulang belikat hingga bokong, sehingga melindungi organ vital selama perkelahian.

Hewan Sosial

Babi hutan pada dasarnya hewan sosial, tinggal di tempat yang didominasi oleh betina yang terdiri dari babi betina mandul dan betina dengan anak yang dipimpin oleh induk tua.

Babi jantan meninggalkan kelompoknya pada usia 8-15 bulan, sementara betina tetap tinggal bersama induknya atau membangun wilayah baru di dekatnya.

Jantan dewasa mungkin hidup dalam kelompok-kelompok yang dirajut dengan longgar, sementara jantan dewasa dan tua cenderung menyendiri di luar masa kawin.

Penyakit dan Parasit

Babi hutan diketahui menjadi rumah bagi setidaknya 20 spesies cacing parasit yang berbeda, dengan infeksi maksimum terjadi di musim panas.

Hewan muda rentan terhadap cacing seperti Metastrongylus, yang dikonsumsi oleh babi hutan lewat cacing tanah dan menyebabkan kematian akibat parasit di paru-paru.

Babi hutan juga membawa parasit yang diketahui menginfeksi manusia, termasuk Gastrodiscoider, Trichinella spiralis, Taenia solium, Balantidium coli dan Toxoplasma gondii.

Babi hutan di wilayah selatan sering dianggap kutu (Dermacentor, Rhipicephalus, dan Hyalomma) dan kutu babi.

Spesies ini juga dihinggapi lalat penghisap darah sehingga mereka mencegahnya dengan sering mandi atau bersembunyi di semak yang lebat.

Wabah babi menyebar sangat cepat pada babi hutan, dengan epizootik tercatat di Jerman, Polandia, Hongaria, Belarusia, Kaukasus, Kazakhstan, dan wilayah lain.

Penyakit mulut dan kaki juga dapat menjadi epidemi pada populasi babi hutan. Spesies ini kadang terkontaminasi Pasteurollis, sepsis hemoragik, tularemia, dan antraks.

Babi hutan kadan terkontaminasi erysipelas babi lewat hewan pengerat atau kutu dan kutu babi. (Wikipedia)

 

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id