home ×
Health

"Kebobolan" Hamil Lagi, Harus Bagaimana?

08 December 2016 By
Share
Share
Share
Share


Kehamilan merupakan suatu tanggung jawab besar yang bisa menjadi berkah teristimewa bagi pasangan suami istri. Oleh karena itu, kehamilan tidak bisa dianggap remeh sama sekali. Pasangan suami istri biasanya akan merencanakan dan menyiapkan kehamilan sebaik mungkin agar si buah hati bisa hadir di saat yang tepat. Namun, bagaimana jika Anda dan suami ‘kebobolan’? Kebobolan hamil merupakan kehamilan yang tidak diusahakan secara sengaja. Entah karena jarak usia anak pertama dengan kehamilan kedua terlalu dekat, Anda dan suami sudah memiliki tiga anak, usia atau kondisi kesehatan Anda yang rentan, belum siap secara finansial, atau Anda sedang sibuk-sibuknya merintis bisnis Anda sendiri. Apa pun alasannya, bukan berarti kehamilan tersebut tidak diinginkan. Anda dan suami hanya tidak menduganya saja.

Tanda-tanda kehamilan


Saat Anda dan suami tidak sedang merencanakan kehamilan, Anda mungkin tidak begitu peka terhadap perubahan-perubahan yang dialami tubuh. Maka, penting bagi Anda untuk memastikan apakah Anda benar-benar hamil. Tanda-tanda kehamilan yang biasanya muncul di masa awal adalah sering buang air kecil, mudah lelah, nyeri payudara dan kram perut seperti akan haid, mual, dan perubahan mood. Anda juga bisa mencari tahu tanda-tanda kehamilan lainnya di artikel dalam tautan ini. Jika Anda merasakan perubahan-perubahan tersebut, Anda bisa melakukan tes kehamilan sendiri di rumah atau pergi ke dokter kandungan.

Mengapa bisa kebobolan hamil padahal sudah pakai kontrasepsi?


Ketika Anda dan suami kebobolan hamil, mungkin pertanyaan pertama yang muncul dalam benak adalah, “Bagaimana saya bisa hamil?”Apalagi jika Anda dan/atau suami sudah memakai alat KB atau kontrasepsi. Perlu diketahui bahwa hingga saat ini belum ada metode kontrasepsi yang bisa menjamin kehamilan tak akan terjadi sama sekali kecuali jika Anda dan suami tidak melakukan aktivitas seksual apa pun.

Metode kontrasepsi seperti ejakulasi di luar, memakai kondom, mengonsumsi pil KB, memasang KB, atau melakukan sterilisasimemang banyak digunakan sebagai alat penunda atau pencegah kehamilan. Namun, metode-metode tersebut tidak 100% ampuh dalam mencegah kehamilan. Kemungkinan Anda akan tetap hamil masih ada meskipun sangat kecil.

Apa yang harus saya lakukan kalau kebobolan hamil?


Setelah Anda mengetahui secara pasti bahwa Anda tengah mengandung, Anda mungkin akan merasakan gejolak beberapa emosi sekaligus. Hal tersebut bisa membuat Anda merasa kewalahan atau panik. Berikut adalah hal-hal yang bisa Anda lakukan apabila Anda dan suami kebobolan hamil.

1. Mengelola emosi


Beri waktu untuk diri Anda merasakan berbagai reaksi seperti terkejut, sedih, takut, kesal, atau bingung. Ingatlah bahwa perasaan-perasaan tersebut adalah reaksi yang sepenuhnya wajar, bukan sesuatu yang memalukan atau salah. Jangan menyalahkan diri sendiri karena Anda memendam emosi negatif terkait kehamilan baru ini. Merasakan hal-hal tersebut justru menunjukkan bahwa Anda memahami sepenuhnya bahwa kehamilan dan kehadiran anggota keluarga baru merupakan anugerah yang butuh komitmen besar dari Anda dan suami.

Mengakui bahwa Anda merasakan emosi-emosi tertentu justru bisa mempercepat proses untuk menerima kenyataan bahwa Anda tengah mengandung. Sementara kalau Anda menahannya rapat-rapat, suatu hari emosi tersebut bisa membuncah menjadi energi yang negatif. Setelah Anda mengikhlaskan diri, Anda pun jadi bisa menyambut kehamilan tak terduga ini dengan sikap dan pikiran yang positif.

2. Bicara dengan pasangan


Apabila masalah yang Anda hadapi adalah suami belum siap menjadi ayah, bicarakan baik-baik. Jangan dengan sikap yang menuntut atau penuh emosi. Tak ada yang bisa memaksa suami untuk menerima keadaan dengan ikhlas kecuali dirinya sendiri. Daripada memaksanya, lebih baik dengarkan dia baik-baik dan cari tahu apa yang sebenarnya paling dia khawatirkan. Dari situ, Anda dan suami bisa sama-sama mencari jalan keluar yang terbaik. Sama seperti Anda sendiri, suami juga butuh waktu untuk menerima dan memproses perubahan yang mendadak ini.

Untuk memastikan suami tetap terlibat secara aktif dalam kehamilan ini, cobalah untuk jujur padanya. Misalnya dengan mengatakan, “Aku tahu kehamilan ini membuatmu kaget, tapi aku berharap kita bisa menghadapinya bersama-sama. Aku butuh bantuanmu supaya kita bisa berjuang jadi orangtua terbaik bagi anak ini, sesuai kemampuan kita.”

3. Cari informasi sebanyak-banyaknya


Karena Anda dan suami tidak merencanakan kehamilan ini, penting bagi Anda dan suami untuk segera memeriksakan kesehatan dan kehamilan Anda ke dokter kandungan. Setelah itu, Anda dan suami bisa membaca berbagai sumber informasi kesehatan seputar kehamilan, kelahiran, dan perawatan bayi. Jika Anda ternyata memiliki komplikasi atau risiko tertentu terkait kehamilan dan janin, hubungi spesialis lain untuk mencari second opinion.

4. Mengatur berbagai penyesuaian yang diperlukan


Hal ini mungkin lebih rumit dari kelihatannya, tetapi penting bagi Anda dan suami untuk segera melakukan penyesuaian untuk menyiapkan kelahiran bayi. Misalnya jika saat ini Anda dan suami sudah punya anak usia balita. Mungkin Anda bisa mempertimbangkan untuk menggunakan jasa pengasuh anak. Atau kalau suami sedang ditempatkan di luar kota, Anda dan suami bisa mengajukan permohonan agar suami bisa tetap mendampingi Anda selama kehamilan, kelahiran, dan pascamelahirkan.

5. Merencanakan keuangan


Masalah keuangan bisa menjadi salah satu faktor yang membuat kehamilan Anda terasa lebih berat. Mau tak mau, Anda dan suami harus kembali mengatur prioritas dan memangkas pengeluaran yang tidak mendesak. Misalnya, membawa bekal ke kantor masing-masing daripada harus membeli makan siang setiap hari. Anda dan suami juga bisa mencari penghasilan tambahan. Namun, pastikan bahwa Anda tetap cukup makan dan istirahat serta tidak terlalu tegang. Jika memang perlu, tak ada salahnya untuk mengajukan pinjaman ke bank sesuai kebutuhan.

6. Hubungi keluarga dan sahabat


Ingat, Anda dan suami tidak sendirian dalam menghadapi kehamilan tak terduga ini. Dalam saat-saat seperti ini, Anda bisa mengandalkan keluarga dan sahabat untuk mendampingi dan mendukung Anda menjalani kehamilan. Jangan sungkan untuk berkeluh kesah atau meminta bantuan jika Anda kewalahan.

7. Beri tahu atasan atau rekan usaha


Bersikap jujur dan terbuka pada atasan di kantor atau rekan usaha tentang situasi Anda sangatlah penting. Kalau Anda khawatir kebobolan hamil berisiko memengaruhi kinerja atau jam kerja Anda, diskusikan dengan atasan atau anggota tim dan yakinkan mereka bahwa Anda tetap memiliki semangat kerja yang sama seperti dulu. Anda pun akan tetap mengusahakan yang terbaik sesuai dengan kapasitas Anda. Namun, jika Anda memutuskan untuk mengundurkan diri supaya bisa fokus pada si buah hati, sebaiknya bicarakan pada atasan dan rekan usaha secepat mungkin atau pada kesempatan pertama yang muncul.

BACA JUGA:

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id