icon-category Technology

Mengenal Pesawat tanpa Awak Rancangan Gamaforce UGM

  • 09 Dec 2016 WIB
  • Bagikan :





    Mahasiswa yang tergabung dalam Gadjah Mada Flying Riset Center (Gamaforce) UGM sukses menciptakan beberapa pesawat tanpa awak. Bahkan, beberapa hasil karya mereka berhasil menyabet berbagai gelar juara dalam Kontes Robot Terbang Indonesia 2016 yang digelar di Universitas Lampung, akhir bulan lalu.

    Dalam kontes tersebut, Gamaforce menurunkan empat robot, yakni Fiachra Aeromapper, Rasayana Racing Plane, Gadjah Mada Fighting Capter, dan Aksabiantara. Dari keempat robot tersebut, tiga di antaranya berhasil meraih juara dalam tiga kategori yang berbeda.

    Salah satunya, Fiachra Aeromapper yang berhasil meraih juara pertama pada kategori fixed wing dan menyabet penghargaan khusus sebagai robot dengan sistem terbaik. Berikutnya, robot Rasyana memperoleh juara dua dari kategori racing plane. Selanjutnya, robot Aksa Biantara menyabet juara pertama di kategori technology development.

    Ketua Gamaforce UGM, M. Aldika Biyanto menyampaikan, pesawat rancangan timnya ini dibuat selayaknya pesawat UAV pada umumnya. Robot Fiachra Aeromapper merupakan UAV jenis fixed wing untuk pemantuan dan pemetaan wilayah. “Pesawat ini akan terbang secara auto untuk mengambil foto dan video steraming,” paparnya, Jumat (9/12).

    Fiachra Aeromapper memiliki berat empat kilogram, karena badan pesawat terbuat dari material fiber composit. Di mana material tersebut membuat pesawat ini memiliki ketahan yang lebih kuat dibandingkan dengan pesawat lain yang berbahan styrofoam.

    Fiachra Aeromapper memiliki dua sayap dengan desain aerodinamis dengan lebar bentang sayap (wingspan) 2,45 meter. “Pesawat ini menggunakan bateri berkapasitas 6.200 mAh yang dapat terbang selama 30 menit,” tutur anggota Gamaforce UGM, Lazuardi Ichsan.

    Menurutnya, pesawat monitoring ini merupakan jenis launcher. Agar bisa terbang, pesawat harus dilontarkan dengan peluncur. Kemudian pesawar akan terdorong ke atas dan motor pesawat yang akan bekerja dengan sendirinya.

    Selain stabil dan memiliki keteahanan terbang tinggi, Fiachra Aeromapper juga memiliki wing loading kecil. Di samping itu bagian gimbal pada pesawat merupakan buatan sendiri, mudah dibongkar pasang, memiliki control permukaan dan struktur sederhana, serta mengguankan fully automated tracker untuk video streaming dan telemetri.

    Sementara pesawat Rasayana Racing Plane merupakan pesawat yang dirancang untuk menyelesaikan misi terbang cepat, aman, dan akurat pada jalur misi. Memiliki spesifikasi berat 1,5 Kg dengan panjang pesawat 1,1 meter dan panjang bentang sayap 1,2 meter. Badan pesawat terbuat dari material composite, sedangkan sayap dari foam core composite.

    “Dilengkapi dengan baterai Li-Po Bonka 4s 1.200 mAh yang kuat terbang sampai 20 menit,” papar salah satu pengembang Rasayana, Umar Fadhil Ramadhan.

    Dalam KRTI 2016 kemarin, pesawat ini mampu menyelesaikan misi terbang sejauh 700 meter dengan catatan waktu 26,16 detik. Selanjutnya, kembali ke base secara cepat dan selamat.

    Berikutnya, pesawat Aksa Biantara, yakni pesawat tanpa awak berbentuk quadcopter. Adapun teknologi yang dikembangkan secara mandiri pada pesawat ini meliputi flight controller, auto antenna tracker, dan ground control station. Flight controller yang dikembangkan pada wahana quadcopter memiliki kemampuan autonomous mode (tanpa kendali) seperti auto take-off, auto landing, waypoint autonomous, serta psition hold.

    “Pengembangan flight controller ini adalah versi pertama kami. Ini akan terus dikembangkan hingga mengimbangi flight controller impor yang beredar dipasaran, bahkan dengan kualitas yang lebih baik,” kata anggota tim pengembang Aksa Biantara, Fransiskus Anindita Kristiawa.

    Sedangkan auto trackler merupakan alat untuk memaksimalkan kinerja antena pengarah untuk memenuhi misi, seperti pemantauan jarak jauh. Ground cntrol station dibuat untuk mengembangkan interface kendali operator secara mandiri.

    “Fitur yang telah dikembangkan antara lain map, live streaming video, auto antena tracker system, dan menampilkan data sensor pada wahana,” kata Fransiskus. Selain ketiga pesawat tersebut, hingga saat ini Gamaforce telah berhasil menciptakan sekitar 18 pesawat tanpa awak.

    Maka itu, ia berharap ke depannya Gamaforce dapat dihasilkan lebih banyak lagi pesawat tanpa awak yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas. Tidak hanya berhenti pada pengembangan pesawat untuk kepentingan kompetisi semata.

    Berita Terkait


    Berita Lainnya



    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini