Film

Mengenal Usmar Ismail, Pelopor Perfilman Indonesia yang Jadi Google Doodle Hari ini

  • 20 March 2018
  • Bagikan :
    Mengenal Usmar Ismail, Pelopor Perfilman Indonesia yang Jadi Google Doodle Hari ini

    Uzone.id -- Kalau kamu buka laman Google, kamu bakal disambut oleh gambar animasi Google Doodle seorang pria berkumis yang sedang memegang kamera recording. Dengan latar belakang roll film, tampaknya sosok ini berkecimpung di dunia perfilman.

    Benar saja. Ketika diklik, ternyata doodle itu adalah sosok bernama Usmar Ismail, sastrawan dan sutradara film Indonesia.

    Namanya sebetulnya akrab di telinga, khususnya bagi kamu yang berasal dari Jakarta. Sebuah gedung menggunakan namanya, yakni Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail yang berlokasi di Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

    Usmar lahir di Bukittingi, Sumatra Barat pada 20 Maret 1921. Doodle dari Google ini sebagai penghormatan hari kelahirannya 97 tahun lalu. Selama masa hidupnya, Usmar dianggap sebagai pelopor perfilman di Tanah Air. Sayangnya ia mengidap penyakit stroke dan tutup usia pada 2 Januari 1971. Usianya padahal masih 49 tahun.

    Usmar memang sosok yang inspiratif. Gimana enggak, ia mengemban pendidikan dengan serius di masa lampau. Ia sekolah di HIS, MULO-B, AMS-A II Yogyakarta. Setelah itu, ia memperoleh gelar B.A. di bidang sinematografi di Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat pada 1952.

    See, dia begitu gigih dan persisten dengan minatnya di bidang sinematografi sejak dulu. Bahkan debut film pertamanya adalah di tahun 1949 dengan judul ‘Harta Karun’.

    Kemudian, pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, ia bergabung di dalam Pusat Kebudayaan. Di saat yang bersamaan, ia mendirikan klub Sandiwara Penggemar “Maya” bersama El Hakim, Rosihan Anwar Cornel Simanjutak, Sudjojono, dan H.B. Jassin. Usmar pun praktis menjadi ketuanya.

    Ada satu film yang disebut-sebut fenomenal pada masanya. Berjudul ‘Darah dan Doa’ yang dirilis pada 1950, film ini hasil adaptasi dari karya Sitor Situmorang. Film itu mengisahkan seorang guru bernama Sudarto yang terseret revolusi dalam periode perpindahan TNI dari Yogyakarta ke Jawa Barat pada 1948.

    Hari pertama syuting ‘Darah dan Doa’ pun menjadi alasan di baliknya ditetapkannya Hari Film Nasional oleh Dewan Film Nasional dan B.J. Habibie.

    Kemudian Usmar semakin aktif membuat sejumlah film seperti ‘Lewat Djam Malam’, ‘Lagi-lagi Krisis’, ‘Tamu Agung’, ‘Tiga Dara’, ‘Sengketa’, ‘Delapan Pendjuru Angin’, dan ‘Asrama Dara’.

    Nama Usmar semakin dikenal di kancah internasional saat ia menggarap film ‘Pedjuang’ pada 1961. Film itu mendokumentasikan kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Karyanya ini gak main-main gaes, ‘Pedjuang’ ditayangkan sampai ke Festival Film Internasional Moskow ke-dua.

    Lalu, saat Belanda kembali bersama Sekutu, Usmar menjadi anggota TNI di Yogyakarta. Di sana, ia aktif sebagai pengurus lembaga di bidang teater dan film. Salah satu peran pentingnya adalah menjadi ketua Badan Musyawarah Perfilman Nasional (BMPN). Lembaga itu kemudian mendorong pemerintah untuk melahirkan program Pola Pembinaan Perfilman Nasional pada 1967.

    Selama berkarier di dunia perfilman, Usmar pernah menyabet penghargaan Piala Citra untuk ‘Djam Malam’ dan ‘Tamu Agung’.

    Setelah ia meninggal, Usmar diangkat menjadi Warga Teladan DKI. Namanya pun diabadikan sebagai Pusat Perfilman H. Usmar Ismail di Jakarta. Tak hanya itu, namanya juga digunakan untuk ruang konser di Jakarta, yaitu Usmar Ismail Hall. Tempat ini biasa digunakan untuk pertunjukan opera, musik, dan teater.

     

     

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini