icon-category Digilife

Minim Literasi Masih Jadi ‘Villain’ UMKM untuk Jualan Online

  • 21 Jan 2022 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi foto: Austin Distel/Unsplash

    Uzone.id - Selama pandemi, semua industri mulai mengadopsi teknologi digital termasuk pegiat usaha lokal mikro dan menengah atau UMKM.

    UMKM berkembang secara pesat selama pandemi. Dari yang awalnya 8 juta pegiat UMKM selama pandemi yang mengadopsi transaksi digital menjadi 11 juta UMKM setelah pandemi. 

    Hal ini tentu tak lepas dari kehadiran e-commerce dengan berbagai program serta kampanye yang dihadirkan, termasuk Tokopedia. Dengan berbagai kampanye untuk mendigitalisasi UMKM di Indonesia seperti HyperLocal dan Kumpulan Toko Pilihan untuk UMKM yang ada di daerah-daerah.

    Baca juga: Begini Jadinya Kalau Orang Indonesia Main NFT dan Kripto karena FOMO

    Tak hanya di Pulau Jawa, Tokopedia juga terus menggandeng pemerintah daerah untuk mengembangkan UMKM agar ikut berkembang dan mengadopsi platform dan transaksi digital.

    Namun, tentunya hal ini tak lepas dari berbagai tantangan yang ada. Menurut Ivander Wijaya, Regional Growth Expansion Senior Lead Tokopedia dalam Uzone Talks, Kamis, (20/01/2022), literasi digital masih menjadi tantangan bagi UMKM baik itu di kota-kota besar maupun daerah.

    Ivander mengatakan bahwa, saat ini masih saja ada orang yang literasi digitalnya rendah, masih banyak orang yang merasa gaptek padahal sebenarnya mendapatkan akses teknologi di Tokopedia seperti berjualan daring semudah bermain sosial media.

    Namun, di tengah tantangan yang masih menjadi kendala dalam mengembangan semua lini UMKM di semua daerah di Indonesia, tren belanja online masih akan terus terjadi di tahun 2022 ini.

    Baca juga: Uzone Talks: Cetak UMKM Digital Berdaya Saing Global

    Belanja online yang awalnya hadir sebagai ‘keterpaksaan’ untuk menyesuaikan dengan keadaan pandemi, kini menjadi sebuah ‘kebiasaan’ baru yang sudah melekat di masyarakat.

    Bhima Yudistira, Pengamat Ekonomi Digital mengatakan, “ini salah satu fenomena yang berubah, dari keterpaksaan karena tidak bisa kemana-mana, efisien, simple, instan lalu kemudian menjadi habit

    Bhima juga mengatakan meski aturan pandemi sudah mulai melonggar dan masyarakat sudah bisa keluar rumah, namun kebanyakan orang masih terus mengecek e-commerce karena sudah menjadi kebiasaan mereka beberapa waktu terakhir.

    Sama seperti perkembangan UMKM yang memiliki tantangan, belanja online di masyarakat juga tidak dapat berjalan secara merata akibat adanya tantangan lain, seperti akses internet.

    Bisa dibilang, literasi dan pengetahuan digital di masyarakat yang masih rendah dan juga akses internet yang masih belum merata masih menjadi tantangan tersendiri dalam men-digitalkan UMKM di berbagai daerah saat ini.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini