icon-category Auto

Perjuangan Toyota Fortuner Hadapi Medan Berat Ciptagelar Sukabumi

  • 23 Nov 2022 WIB
  • Bagikan :
    Toyota Fortuner TRD Sportivo 2.4 AT (Foto: Tomi Tresnady / Uzone.id)

    Uzone.id - Kami sengaja memilih Toyota Fortuner agar bisa menaklukkan medan cukup berat saat mencapai Kasepuhan Ciptagelar yang berada di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

    Menurut Google Maps, Grand Depok City (GDC), Depok, ke Kasepuhan Ciptagelar memiliki jarak 144,2 km. Untuk sampai ke sana butuh waktu sekitar 4 jam 45 menit.

    Tentu saja, kami tidak percaya dengan data yang disampaikan Google Maps. Pasalnya, untuk perjalanan ke Ciptagelar harus melewati banyak jalanan rusak hingga jalanan berbatu sehingga akan menghabiskan banyak waktu.

    BACA JUGA: Honda ZR-V Mulai Dijual Tahun Depan 

    Kami berangkat dari Depok sekitar pukul 08.09 WIB pagi dengan cuaca cukup cerah. Kemudian kami membawa SUV yang itu ke SPBU Pertamina yang lokasinya tak jauh dari RSUD Cibinong.

    Selanjutnya, kami isi dulu tangki Fortuner TRD Sportivo 2.4 AT 4x2 buatan tahun 2017 ini dengan solar jenis Pertamina Dex yang harganya Rp18.550 per liter. Kapasitas tangki Fotruner yang mencapai 80 liter diisi penuh.

    Total biaya membeli solar sampai full tank mencapai Rp1.484.000. Cukup nyesek sih, melihat kenyataan harga solar saat ini sudah selangit.

    Toyota Fortuner mampir di SPBU Pertamina (Foto: Tomi Tresnady / Uzone.id)

    Ya, sudah, yang penting kami happy saja melakukan perjalanan ke Ciptagelar.

    Kami berangkat berlima. Ini formasi yang sudah mencapai batas nyaman ketika perjalanan jauh pakai Fortuner.

    Penumpang baris kedua masih bisa tidur pulas tanpa harus berdesakan.

    Saat melewati jalan tol Jagorawi masih nyaman, kemudian melewati Jalan Raya Bogor-Sukabumi masih nyaman juga.

    Karena pakai Fortuner, kami memutuskan lewat jalan Cikidang yang dikenal banyak jalanan mendaki dan belokan tajam.

    BACA JUGA: Peugeot Ikut Terabasan, Rilis Skuter Adventure XP400

    Driver kami juga mencoba mengambil kecepatan batas aman saat menyusuri jalan berbelok-belok, yakni 40 km/jam.

    Ternyata, dengan kecepatan di angka tersebut tidak nyaman bagi penumpang baris kedua. Bahkan, salah satu teman kami mual-mual akibat perut terasa dikocok-kocok.

    Jalur Cikidang menuju Pelabuhan Ratu, Sukabumi. (Foto: Tomi Tresnady / Uzone.id)

    Dan, sesampainya di pantai Pelabuhan Ratu, teman kami itu harus memuntahkan isi perutnya. Tapi jangan khawatir, dia masih baik-baik saja dan masih bisa melanjutkan perjalanan.

    Oke, dari situ, kami punya pelajaran kalau saat pulang lebih baik mengambil jalur Cibadak. Indikator BBM pada Fortuner terlihat menunjukkan konsumsi solar rata-rata 10,6 km/liter.

    (Foto: Tomi Tresnady / Uzone.id)

    Sampai di Pelabuhan Ratu, waktu menunjukkan pukul 10.40 WIB. Kami harus bergegas untuk mencapai Kasepuhan Ciptagelar karena menurut informasi, cuaca di sana biasanya turun hujan ketika sudah melewati pukul 12.00 WIB.

    Berdasarkan Google Maps, jarak dari Pelabuhan Ratu ke Kasepuhan Ciptagelar tinggal 1 jam 52 menit dengan jarak 43 km.

    Kami sebetulnya ingin melewati Cengkuk sebagai jalan short cut menuju Kasepuhan Ciptagelar. Namun, mengingat Fortuner yang kami bawa berpenggerak 4x2 maka kami ubah rutenya lewat Cicadas, Sirnaresmi.

    Kalau saja Fortuner kami berpenggerak 4x4, perjalanan lewat Cengkuk dengan membelah hutan dan jalanannya yang mendaki ekstrem mungkin masih bisa dilalui dengan mudah.

    Apakah perjalanan lewat Cicadas tak ada masalah?

    Tentu saja kami menemukan masalah yang cukup pelik saat ban Fortuner menggelinding di area jalan berbatu.

    Jalanan tersebut basah akibat hujan cukup deras sehingga tidak mampu dicengkeram oleh ban Brigstone Dueler jenis H/T.

    Itu dia salahnya, kami pakai ban jenis H/T yang memang khusus di jalan aspal, seharusnya minimal kami memakai ban jenis M/T sehingga punya grip yang lebih baik.

    Ban Fortuner yang kami kendarai seringkali mengalami spin atau berputar di tempat hingga menimbulkan asap putih yang cukup pekat.

    Ban Fortuner mengeluarkan asap putih gara-gara tak mampu mencengkeram jalanan berbatu di jalur Cicadas, Sirnaresmi. (Foto: Tomi Tresnady / Uzone.id)

    Kami mencoba memaksa terus agar mobil bergerak sampai ke puncak, namun tetap saja ban tidak tidak nge-grip.

    Jadi, percuma saja kalau SUV ladder frame yang memiliki spesifikasi mesin diesel 2.4L VNT kapasitas 2.393 cc yang menghasilkan tenaga 149,6 PS pada 3.400 rpm dan torsi 40,81 Kgm (400 Nm) pada 1.600-2.000 rpm, jadi tak berguna ketika melewati jalanan berbatu.

    Salah satu dari kami punya trik agar ban bisa memiliki grip. Caranya, ban dikempesin sedikit agar permukaan ban memiliki gaya gesek yang lebih kuat.

    Ban dikempesin sedikit agar bisa mendapat grip lebih baik. (Foto: Tomi Tresnady / Uzone.id)

    Akhirnya, kami putuskan untuk balik arah meskipun harus mundur beberapa ratus meter dalam kondisi jalan mendaki dan cuma cukup satu mobil.

    Ditambah harus melewati belokan V, yang di sisi kanan-kirinya terdapat jurang. Akhirnya kami mendapat ruang untuk putar balik yang ukurannya cukup bagi Fortuner.

    Kami pun akhirnya mengambil rute Cikadu dengan melewati provinsi Lebak Banten, meskipun Kasepuhan Ciptagelar adanya di wilayah Jawa Barat.

    Gak nyesel juga sih lewat Cikadu. Ternyata kami disajikan pemandangan sangat indah saat mobil sudah berada di atas bukit. Rasanya seperti negeri di atas awan.

    Melewati jalur Cikadu menuju Kasepuhan Ciptagelar seperti negeri di atas awan. (Foto: Tomi Tresnady/ Uzone.id)

    Ketika melewati jalur ini, kami menghadapi kontur jalan turun naik yang ekstrem. Beruntung di kontur jalan mendaki sebagian sudah dicor beton sehingga bukan masalah bagi Fortuner.

    Kami juga seperti diberi keberuntungan selama melewati jalan tidak ada mobil dari arah berlawanan. Pasalnya, jalannya cuma cukup untuk satu mobil saja.

    Kami juga sempat bertemu dengan Kijang Innova Reborn yang mengalami ban selip di jalan berbatu sehingga terus-terusan spin.

    Akhirnya, kami sampai juga di Kasepuhan Ciptagelar sekitar pukul 17.53 WIB di mana langit sudah beranjak gelap.

    Gerbang masuk Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi (Foto: Tomi Tresnady / Uzone.id)

    Kami juga cek indikator BBM setelah tiba di Kasepuhan Ciptagelar. Seakan tak percaya, ternyata Fortuner yang diberi Pertamina Dex cukup irit dengan jarum indikator BBM cuma bergeser satu strip saja.

    Adapun harga solar yang tertera di MID yang tersisa seharga Rp879.100. Sehingga kalau dihitung, isi tangki Fortuner ini mencapai 80 liter, maka dari itu jumlah harga solar saat kondisi tanki penuh setara Rp1.484.000.

    Sepanjang perjalanan dari Depok hingga Kasepuhan Ciptagelar dengan menghadapi medan cukup berat ditambah kabin berisi 5 orang, maka butuh biaya Rp604.900 atau setara dengan 32 liter solar jenis Pertamina Dex.

    (Foto: Tomi Tresnady / Uzone.id)

    Jadi, berdasarkan pengalaman kami. Jika ingin berwisata ke Kasepuhan Ciptagelar alangkah baiknya memilih mobil berpenggerak 4x4 atau minimal pakai SUV dengan jenis ban minimal M/T.

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini