icon-category Startup

Perlukah Pekerja Manusia Cemas Jika ‘Dijajah’ AI dan Robot?

  • 23 Sep 2022 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi: Andy Kelly/Unsplash

    Singapura, Uzone.id – Kondisi kehidupan di era digital seperti sekarang telah mengeliminasi pekerja manusia seperti penjaga gerbang tol menjadi mesin otomasi yang dapat membaca kartu e-money. Pun begitu dengan fungsi kasir di berbagai negara yang kini sudah digantikan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

    Tak berhenti di situ. Mungkin kita selama ini sudah familiar dengan senyuman hangat yang menyapa di meja resepsionis ketika tiba di hotel. Di sejumlah negara, termasuk Jepang, sudah menerapkan robot pintar yang ‘dipekerjakan’ sebagai resepsionis hotel.

    Dari fenomena seperti ini, temuan menarik yang dipaparkan Chief Growth Officer, Career & Connect Platform SEEK, Chook Yu Yng dari data PwC bertajuk ‘Asia Pacific Workforce Hopes and Fears Survey 2022’ menunjukan bahwa sekitar 42 persen pekerja digital cemas mengenai dampak dari teknologi otomasi terhadap pekerjaan mereka.

    Lantas, apakah perlu kita cemas dan insecure terhadap keberadaan teknologi serba pintar ini? Apalagi jaringan 5G selalu diharapkan menjadi game changer untuk industri teknologi karena dapat menghidupkan konsep Internet of Things (IoT) dan fungsi robot di sejumlah industri.

    “Sebetulnya invasi teknologi otomasi ini sudah terjadi, meski terjadinya secara perlahan. Di sisi lain, kita seharusnya tetap dapat menyambutnya dengan positif, karena itu artinya value chain untuk manusia bertambah dan ‘naik kelas’,” ungkap Yu Yng saat berbincang dengan Uzone.id di sela acara Tech In Asia Conference 2022, Rabu (21/9).

    Baca juga: Kebutuhan IT Talent Naik 90 Persen, Apa yang Perlu Disiapkan Anak Muda?

    Ia melanjutkan, “mungkin memang terdengar mengerikan, pekerjaan kita malah ‘dijajah’ oleh robot dan teknologi otomasi. Tapi, tetap saja, hal ini sebetulnya membuka pintu baru, sebab siapa yang membuat mesin-mesin pintar itu kalau bukan manusia? Tidak mungkin mereka ada dengan sendirinya. Inilah peran manusia yang saya maksud, dari segi skill harus di-upgrade.”

    Menurut Yu Yng, beginilah realita yang ada. Manusia memang ditakdirkan untuk terus berkembang dan meningkatkan kemampuan diri sendiri – hal ini semakin terbukti di industri teknologi.

    “Kita harus terus aware dengan apapun yang sedang berkembang, apalagi teknologi yang memang penting dan berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari. Kalau kita menutup diri dan menolak perubahan, justru kita yang akan musnah,” imbuhnya lagi.

    Chief Growth Officer, Career & Connect Platform SEEK, Chook Yu Yng

    Pada kesempatan yang sama, Chief Growth Officer, Marketplace - Jobseekers SEEK Asia, Hsing Ren Chiam juga menyinggung tentang pentingnya konsep “built to last” dalam skala perusahaan – nilai yang diharapkan dapat diterapkan oleh pendiri startup digital.

    Peran startup selalu menarik, sebab mereka lahir untuk memberikan solusi dan tujuan atau fungsi tersendiri bagi masyarakat. Untuk sebuah startup dapat terus bergerak ke depan, dibutuhkan SDM pemimpin yang tidak takut dengan perkembangan teknologi.

    “Bayangkan ada yang bertanya ke kalian tentang ‘bagaimana bisa cara sebuah startup dapat terus tumbuh dan hidup selama 25 tahun?’ hal ini dapat dijawab jika kita tahu betul apa purpose [tujuan] yang ingin dicapai. Kalau berkaca pada SEEK, 25 tahun beroperasi hingga sekarang, kuncinya adalah untuk terus berevolusi dalam teknologi,” kata Hsing.

    Baca juga: Teknologi Perekrutan Karyawan, dari Keamanan Data hingga Metaverse?

    Dari penuturan Hsing, ia melihat setidaknya ada tiga poin yang harus diingat oleh generasi muda, terutama mereka yang ingin membangun startup dan siap mengelola SDM.

    “Pertama, kembangkan kondisi yang berkelanjutan. Hal ini berkaitan dengan model bisnis dan kultur yang ingin dibentuk. Kedua, purpose atau tujuan. Penting bagi startup untuk terus men-challenge dan konsisten terhadap tujuan yang sejak awal dipasang. Hal ini tentu saja tidak lepas dari sikap adaptif terhadap teknologi,” terang Hsing.

    Poin ketiga menurutnya adalah pertanyaan “outlast myself”, alias bagaimana caranya agar mindset yang dibangun ini selalu berpikir ke depan.

    “Penting juga untuk memikirkan bagaimana caranya agar semua tujuan dan hal-hal yang dikerjakan selama ini dapat hidup lebih lama dari kita sendiri. Pada akhirnya, kita akan dituntut untuk terus fokus di tim, kultur, dan organisasi tersebut. Semoga hal ini dapat menjadi motivasi kita menghadapi rintangan yang siap menghadang,” tutupnya.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini