Technology

Perusahaan Teknologi Sekelas Amazon Ternyata Nggak Asal Pecat Karyawan

  • 27 June 2018
  • Bagikan :
    Perusahaan Teknologi Sekelas Amazon Ternyata Nggak Asal Pecat Karyawan

    Uzone.id -- Sebagai perusahaan teknologi besar, Amazon memiliki ratusan ribu karyawan yang tersebar di berbagai negara. Meski begitu, perusahaan pimpinan Jeff Bezos ini tetap memperhatikan sumber daya manusianya, terutama ketika mereka nggak perform secara baik.

    Mungkin kamu pernah mendengar kisah beberapa mantan karyawan perusahaan teknologi seperti Apple hingga Google yang mengaku tersiksa bekerja di sana. Mulai dari pengakuan bekerja di Google yang katanya berat banget, super sibuk, dan kompetitif, hingga curhatan sejumlah mantan bawahan Steve Jobs yang pernah dilempari laptop dan dipecat langsung di dalam lift.

    Lain halnya dengan Amazon. Pada 2012, karyawan Amazon berjumlah sekitar 80 ribu orang. Sekarang, jumlah karyawannya mencapai 500 ribu orang. Nah, kali ini ada kisah menarik yang datang dari karyawan Amazon bernama Jane.

    Baca juga: Bukan Lagi Bill Gates, Seberapa Tajir Orang Terkaya Nomor Satu di Dunia ini?

    Mengutip situs Inc.com, Jane bekerja di kantor pusat Amazon di Seattle, Washington, Amerika Serikat. Suatu hari, Jane mendapat panggilan untuk meeting dengan manajer dan seorang staf dari departemen Human Resources (HR). Mereka bilang, performa kerja Jane kurang baik.

    Biasanya jika diberi tahu hal seperti itu, si karyawan bakal merasa jantung mau copot, pengin terjun aja ke laut, sampai pasrah. Bukan apa-apa, perasaannya langsung nggak enak. Takut mendadak diputus hubungan kerjanya atau dilempar langsung ke luar Bumi. Yha, lebay

    Ternyata oh, ternyata… Amazon memiliki cara lain untuk mengatasi hal tersebut. Jane langsung diberi tiga pilihan.

    (Pendiri dan CEO Amazon, Jeff Bezos)

    Pertama, menerima pesangon dari Amazon dan keluar dari perusahaan dengan lapang dada. Dengan kata lain, Amazon nggak betul-betul memecatnya, tapi menjadikan pesangon itu sebagai pilihan dari si karyawan yang bersangkutan.

    Kedua, menjalani rencana pengembangan performa. Program ini dinamakan Pivot oleh pihak Amazon. Jadi, Jane harus menghabiskan beberapa pekan ke depan untuk meningkatkan skill dan performanya agar dapat bekerja sesuai dengan ekspektasi manajernya.

    Ketiga, bela diri. Bukan, ini bukan untuk pamer pencak silat atau karate. Pilihan ini adalah kesempatan bagi si karyawan untuk melakukan “banding” di depan sejumlah juri yang tak lain adalah rekan-rekan kerjanya di Amazon.

    Opsi ketiga tampak menantang. Jane harus berbicara di depan bosnya sendiri, berdebat mengenai performa kerjanya selama ini dan menjelaskan secara rinci tentang hal-hal yang sekiranya membuat bosnya itu kecewa padanya. Debat tersebut harus dinilai oleh rekan-rekannya sebagai juri agar bisa menentukan apakah Jane masih layak bekerja di Amazon atau nggak.

    Meski tampaknya berat, Jane pun memilih opsi nomor 3.

    via GIPHY

    Apa yang terjadi?

    Tantangan yang harus dilalui Jane adalah bukan perkara dia baru mendapatkan bos baru sehingga mendadak ekspektasinya berubah, namun justru bosnya itu yang mengubah tanggung jawab Jane. Dari pengakuan Jane kepada Bloomberg, bosnya itu memasang target yang nggak realistis untuknya.

    Hari “pengajuan banding” itu pun tiba. Jane mengaku gugup banget dan keringetan sekujur tubuh. Sesi presentasi dari Jane dihadiri oleh manajer alias bosnya sendiri dan tiga rekan lainnya. Setelah sesinya selesai, giliran manajernya. Dia pun baru tahu, bahwa ketika manajernya yang berbicara, dia nggak diperbolehkan untuk mendengar.

    Setelah usai semuanya, Jane dipanggil oleh divisi HR. Sayangnya, bukan berita baik. Dia kalah, karena sekitar 70 persen juri nggak setuju dengan apa Jane katakan.

    Baca juga: Bos Amazon: Ayo Tinggalkan Bumi dan Menetap di Bulan

    Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Divisi HR kembali memberinya pilihan. Alih-alih 3 opsi, kini tinggal tersisa 2: ambil pesangon atau menjalani rencana pengembangan performa alias Pivot. Jane pun memilih opsi kedua.

    Meski begitu, program Pivot tersebut pernah dianggap sebagai “hukuman mati” oleh sejumlah mantan karyawan yang pernah menjalani program tersebut. Mengutip Business Insider, program Pivot sejatinya menawarkan proses bimbingan bagi si karyawan terkait bidang mereka dari para Career Ambassador, atau orang-orang yang diklaim jago di bidangnya. Banyak mengatakan, Pivot bakal memberi tekanan lebih berat agar dapat menguji kemampuan si karyawan.

    Mengenai hal ini, Amazon pun pernah membalas email dari Bloomberg terkait program Pivot.

    “Pivot adalah program unik khas Amazon yang khusus dirancang untuk menyediakan proses adil dan transparan bagi karyawan yang membutuhkan bantuan. Lebih dari setahun program ini dibentuk, sekarang kami dengan senang hati membantu para karyawan dan akan terus menjalankan Pivot sesuai feedback dan kebutuhan mereka,” begitu balasan Amazon.

    Menurut kalian gimana, gaes?

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini