Lifestyle

Sebelum Membuat Rencana Bisnis Pastikan Punya Tiga Hal Ini

  • 31 October 2018
  • Bagikan :

    Perencanaan merupakan hal penting bagi siapapun yang hendak memulai sebuah usaha. Tapi bagi Pendiri Maubelajarapa.com Jourdan Kamal, terdapat aspek yang lebih mendasar sebelum membuat rencana bisnis.

    "Sebelum semua itu, tanyakan dulu kepada diri kita tentang tiga hal, yaitu kapabilitas, sumber daya, dan hati atau passion kita ada di sana atau tidak," katanya menjawab Katadata.co.id, Rabu (31/10).

    Jourdan menjelaskan, kapabilitas mencakup pengetahuan dan keterampilan atas berbagai hal terkait bisnis yang akan dijalankan. Sementara itu, sumber daya lebih terkait modal untuk memulai usaha, seperti dana, tim, dan keleluasan waktu.

    (Baca juga: Cermat Melihat Kekurangan, Pebisnis Kuliner Akui Butuh Bimbingan Ahli)

    Dengan kata lain, imbuh Jourdan, mengembangkan ide bisnis sebaiknya memulai dari apa yang dimiliki. Tidak hanya talenta personal, bisa juga terkait pengalaman kerja, hubungan sosial, gaya hidup pribadi, atau hasil pengamatan terhadap aktivitas sehari-hari di sekitar kita.

    "Discover your idea seperti halnya discover yourself. Bisnis itu pada dasarnya tentang menyelesaikan masalah orang lain dengan cara yang bisa menghasilkan profit. Tanyakan, apakah idemu dapat menyelesaikan suatu masalah," tuturnya.

    Setelah tiga aspek (kapabilitas, sumber daya, dan hati) dapat terpenuhi barulah mulai mengeksplorasi ide yang dimiliki. Pada tahap ini juga terdapat tiga langkah, yaitu mendeskripsikan ide, meninjau ulang ide, dan melakukan riset komprehensif.

    (Baca juga: Bisnis Kuliner di Luar Jakarta? Ini Saran Chicken Crush dan Burgreens

    Jourdan menyarankan, setelah ide yang dimiliki selesai ditulis sebaiknya beri jeda beberapa hari atau bulan sebelum meninjau ulang. Hal ini bertujuan menenangkan diri guna memastikan gagasan yang muncul bukan sekadar antusias berlebihan sesaat.

    "Kalau ide tersebut kepikiran terus, menurut saya pribadi, itu bisa menjadi tanda mungkin jalan kita ada di sana. Lalu lakukan tinjauan ulang atas ide tersebut termasuk refleksikan ke diri, bagaimana cara mengeksekusinya," kata dia.

    Langkah selanjutnya yang wajib dilakukan adalah riset. Pasalnya, hasil riset yang komprehensif dapat memberi gambaran seberapa bisnis yang akan dijalankan mampu menghadapi berbagai dinamika.

    (Baca juga: Riset Jadi Kekuatan Ikat Indonesia Mendesain Fesyen Mickey Mouse

    Di dalam riset tersebut harus mencakup kajian tentang peluang pasar, tren industri, persaingan dengan kompetitor, perkembangan teknologi, biaya yang dibutuhkan, ekosistem usaha di lapangan, serta bisnis model yang tepat.

    Jourdan merinci beberapa poin, misalnya soal market maka yang perlu diperdalam tak hanya segmen pasar tetapi juga market size. Ukuran pasar (market size) merujuk kepada seberapa banyak orang yang membutuhkan, dan mau membayar untuk memakai barang atau jasa yang Anda ditawarkan.

    Selain itu, imbuhnya, permasalahan alias tantangan yang melingkupi bidang usaha yang akan dijajaki juga penting untuk dipahami. "Hal lain, kita sebagai pelaku bisnis seberapa memberi nilai tambah dan pembeda atas produk kita?" ujar Jourdan.

    (Baca juga: Upaya Dody Andri Menembus Pasar Mancanegara dengan Produk Unik Ruaya

    Soal persaingan dengan kompetitor, menurutnya, penting untuk mencari tahu kelemahan dan kelebihan mereka. Lebih jauh, ide bisnis yang akan direalisasikan tidak harus sesuatu yang baru, melainkan bisa menerapkan konsep yang sudah ada untuk sektor industri yang berbeda.

    Perkara lain yang krusial adalah uang. Selain modal sebaiknya masukkan pula ke dalam riset tentang biaya operasional tim yang terlibat, teknologi yang dibutuhkan, dan ongkos pemasaran. Tapi jangan lupakan proyeksi jangka waktu hingga mulai bisa memetik cuan. 

    (Baca juga: Resep Pendiri Warunk Upnormal untuk Memanjangkan Bisnisnya

    Semua hal yang dibeberkan Jourdan berasal dari pengalaman pribadi, khususnya saat merintis bisnis marketplace workshop Maubelajarapa.com. Sekitar dua tahun lalu, situs direktori semacam ini terbilang baru di Indonesia, khususnya yang bergerak di bidang pendidikan.