home ×
Digilife

Spyware Pegasus Marak Lagi, Presiden dan Pejabat Disarankan Tinggalkan WhatsApp

25 July 2021 By
Spyware Pegasus Marak Lagi, Presiden dan Pejabat Disarankan Tinggalkan WhatsApp
Share
Share
Share
Share

Foto: Dimitri Karastelev/Unsplash

Uzone.id -- Pegasus kembali ramai diperbincangkan setelah laporan Amnesty International menemukan bahwa ada sejumlah presiden, perdana menteri dan raja yang menjadi target dari spyware Pegasus buatan NSO, perusahaan asal Israel. Maraknya Pegasus ini membuat WhatsApp ‘kena getahnya’.

Kehebohan malware mata-mata Pegasus ini menimbulkan perhatian internasional, yaitu adanya informasi yang mengatakan kalau korban Pegasus adalah Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Menanggapi hal ini, pakar keamanan siber Pratama Persadha menjelaskan bahwa malware seperti ini banyak juga di jual bebas di pasaran, bahkan ada beberapa yang bisa didapatkan dengan gratis.

Hal yang membedakan adalah teknik atau metode yang digunakan agar malware tersebut untuk dapat menginfeksi korban, serta teknik untuk menyembunyikan diri agar tidak dapat terdeteksi oleh anti virus maupun peralatan security dan juga teknik agar tidak dapat dilacak.

Baca juga: Cara Deteksi Spyware Pegasus di Ponsel Kamu

“Saat ini sangat sulit untuk menghindari kemungkinan serangan malware. Pegasus sendiri hanya membutuhkan nomor telepon target. Ponsel bisa jadi terhindar dari Pegasus jika nomor yang digunakan tak diketahui oleh orang lain,” tutur Pratama dalam keterangan resminya yang diterima Uzone.id, Sabtu (24/7).

Ia melanjutkan, "Bila menilik malware Pegasus, cukup dengan panggilan WhatsApp, ponsel penerima sudah terinfeksi, bahkan tanpa harus menerima panggilannya. Dengan metode yang sama dan mengirimkan file lewat WhatsApp juga bisa menyebabkan peretasan.”

Terobos WhatsApp hingga keamanan sekelas iPhone 

Chairman lembaga riset siber CISSReC ini kemudian menekankan bahwa prinsipnya, Pegasus dapat melakukan segala hal di ponsel pengguna dengan kendali dari dasbor karena tak cuma WhatsApp saja yang dipantau. Si pelaku dapat mengirim pesan, panggilan, dan perekaman yang tidak pengguna lakukan.

Dari sini, Pratama menganggap bahwa kehadiran spyware seperti Pegasus ini seharusnya menjadi pengingat bagi masyarakat betapa pentingnya pengembangan perangkat dan aplikasi buatan lokal yang aman digunakan agar dapat mengurangi risiko eksploitasi keamanan oleh pihak asing.

“Presiden dan para pejabat penting negara harus waspada dan disarankan tidak lagi memakai WhatsApp karena menjadi pintu masuknya Pegasus,” lanjutnya.

Ia menambahkan, “kasus yang paling ramai adalah peretasan ponsel iPhone milik Jeff Bezos. Ponselnya diretas setelah komunikasi dengan Pangeran Saudi Muhammad bin Salman. Akhirnya foto-foto dan chat pribadi dengan selingkuhannya terkuak ke publik dan Bezos cerai dari istrinya. Tim forensik yang memeriksa ponsel Bezos menemukan bukti yang mengarah bahwa iPhone-nya telah diretas Pegasus.”

Dari kacamata Pratama, saat ini ancaman serupa juga bisa terjadi ke presiden maupun para pejabat di Tanah Air. Yang paling bisa dilakukan sekarang adalah melakukan forensik pada perangkat gawai yang dibawa. Selanjutnya melakukan protokol keamanan untuk nomor yang dipakai komunikasi antar petinggi negara harus dirahasiakan tidak boleh bocor ke siapapun.

“Ponsel apapun termasuk iPhone masih bisa ditembus oleh Pegasus. Langkah preventif yang paling bisa dilakukan adalah menggunakan software enkripsi, sehingga data yang ditransmisikan atau dicuri oleh pegasus tidak serta merta langsung bisa dibuka atau diolah,” jelasnya.

Baca juga: Hapus Segera! Aplikasi Android Ini Disusupi Malware Pencuri Password Facebook

Dari penjelasan Pratama, teknik yang digunakan oleh Pegasus biasa disebut dengan "remote exploit" dengan menggunakan "zero day attack."

Zero day attack merupakan metode serangan yang memanfaatkan lubang keamanan yang tidak diketahui bahkan oleh si pembuat sistem sendiri. Serangan ini juga biasanya sangat sulit terdeteksi oleh perangkat keamanan yang sudah paling update sekalipun. Hal ini yang membuat Pegasus sangat berbahaya.

Diketahui laporan dari Amnesty International dan Citizen Lab ini pada dasarnya menjadi temuan susulan soal dugaan kebocoran data pada 50.000 target potensial alat mata-mata Pegasus NSO, termasuk didalamnya adalah 10 perdana menteri, tiga presiden dan 1 satu raja menjadi target Pegasus. Sebelumnya juga ramai diberitakan bahwa Jamal Kashogi, jurnalis Saudi yang tewas juga menjadi target Pegasus.

Pegasus merupakan malware berbahaya yang bisa masuk ke gawai seseorang dan melakukan kegiatan surveillance alias mata-mata. Maka ia disebut sebagai spyware.

Pegasus sebenarnya merupakan sebuah trojan yang begitu masuk ke dalam sistem target, dapat membuka "pintu" bagi penyerang untuk dapat mengambil informasi yang berada di target.

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id