icon-category Digilife

Sudah 2021 dan Orang Indonesia Masih Mikir ‘Game Adalah Gratis’

  • 05 Nov 2021 WIB
  • Bagikan :

    Foto: Unsplash

    Uzone.id -- Entah sejak kapan muncul pemikiran kalau game itu sifatnya gratis. Bisa dimainkan kapan saja tanpa perlu keluar biaya. Atau jangan-jangan semua berakar dari game bawaan ponsel jadul seperti Snake?

    Padahal jika kita melihat realita yang ada, permainan klasik seperti ular tangga, monopoli, hingga ludo, dulunya kita harus membeli terlebih dahulu agar bisa dimainkan oleh teman atau keluarga. Namun, seiring berkembangnya teknologi digital, mungkin malah memperkuat pola pikir kalau game-game virtual tersebut bisa didapatkan dengan cara cuma-cuma.

    “Gamer itu suka mengulik. Gak ada orang yang lebih teliti, kreatif, dan detail dari seorang gamer sejati menurut saya. Gara-gara kebiasaan mengulik ini, semakin menjamur pemikiran kalau mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah itu malah sayang untuk game. ‘Wong ternyata bisa didapatkan secara gratis, ngapain beli?’ Kira-kira begitu mikirnya,” ungkap Co-Founder GameQoo, Izzudin Al Azzam saat berbincang di Uzone Talks, Kamis (4/11).

    Mindset atau pola pikir seperti ini yang masih disayangkan oleh pria yang akrab disapa Azzam itu. Bukan apa-apa, dampaknya ternyata masif bagi sektor game di Indonesia.

    Baca juga: Tips Main Game di Android Secara Offline

    Per 2021 ini, ia mengatakan bahwa pendapatan sektor gaming global mencapai USD1,74 miliar atau setara Rp25 triliun. Angka tersebut merupakan peningkatan sebesar 32 persen dari tahun sebelumnya.

    “Sektor game online di seluruh dunia memang meningkat tajam, growth di Indonesia termasuk yang tertinggi, yaitu sekitar 50 persen dan menempati posisi 16 dunia. Gamer aktif di Indonesia mencapai 60 juta user, lebih tinggi dari Inggris dan Korea Selatan. Tapi, revenue-nya kita masih tertinggal,” lanjut Azzam.

    Sudah menjadi kultur orang Indonesia yang lebih memilih memainkan game free-to-play (F2P), alias game-game gratisan. Tipe konsumen atau gamer yang lebih rela menonton iklan dibandingkan membayar atau membeli game. Dari sini, terjadi gap dibandingkan negara maju yang daya belinya lebih tinggi.

    Azzam sampai berkaca ke layanan streaming seperti Spotify dan Netflix yang sampai menyesuaikan betul dengan pasar Indonesia untuk urusan berlangganan dan cara pembayarannya. 

    “Spotify hingga Netflix sampai menyediakan tipe pembayaran dan paket langganan yang macam-macam agar sesuai dengan daya beli di Indonesia. Nah, hal ini masih jadi PR bagi industri game di Tanah Air,” kata Azzam.

    Ia melanjutkan, “bayangkan saja, dari USD1,74 miliar, revenue yang masuk untuk lokal kita cuma 0,49 persen. Bahkan kita 1 persen saja tidak dapat. Industri kita besar, tapi yang dapat keuntungan banyak negara lain. Kalau ngomongin penjajahan, ini penjajahan. Ini sedang terjadi, penjajahan di industri game, 99 persen lain dinikmati oleh luar.”

    Baca juga: Netflix Akhirnya Rilis Game Online untuk User Android

    Azzam sebagai pendiri GameQoo, ia ingin layanannya dapat menjadi pilihan tepat bagi calon gamer atau gamer hardcore yang mungkin terkendala soal biaya.

    GameQoo sendiri merupakan layanan cloud gaming yang sejatinya hadir untuk menghadirkan platform online “All U Can Eat” di mana konsumen hanya membayar sekali sebesar Rp99 ribu per bulan, lalu bisa menikmati berbagai game premium di dalamnya melalui perangkat apapun yang diinginkan selama terhubung dengan koneksi internet.

    “Cloud gaming seperti GameQoo ini ingin memberikan kemudahan kepada konsumen jika tidak punya konsol game atau device mahal seperti laptop gaming atau ponsel gaming. Karena biasanya yang berbau ‘gaming’ itu harganya lebih mahal,” tutur Azzam.

    Berangkat dari harga perangkat gaming serta game itu sendiri yang memang sering dianggap mahal oleh orang-orang Indonesia, maka ia yakin bahwa layanan cloud gaming dapat menjadi layanan game masa depan bagi banyak orang.

    “Harga game yang tinggi, mungkin bisa mencapai seperempat UMR di Indonesia gitu, jadi melalui cloud gaming ini saya pikir dapat menjadi pilihan terbaik untuk konsumen. PR kami tinggal urusan edukasi soal game itu sebenarnya tidak ada yang gratis, dan memaksimalkan infrastruktur layanan kami lebih optimal,” tutup Azzam.

    VIDEO: Uzone Talks: Kapan Game Lokal Mendunia?

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini