Travel

Zuzu Hotels Berambisi Bangun Jejaring Hotel Budget

  • 27 October 2016
  • Bagikan :
    Zuzu Hotels Berambisi Bangun Jejaring Hotel Budget


    Zuzu Hotels kini hadir sebagai pemain baru yang menawarkan layanan pemesanan hotel budget bagi para pengguna. Tidak cuma menawarkan aplikasi,  Zuzu mengatakan pihaknya juga menjadi rekanan hotel untuk meningkatkan bisnis mereka.

    Zuzu Hotels mengklaim layanan mereka berbeda dengan online travel agent (OTA) lainnya, seperti Agoda, Booking, Tiket, dan Traveloka.

    “Mereka punya pilihan hotel dalam jumlah besar. Namun, Zuzu Hotels fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Kami pastikan tak akan punya pilihan hotel sebanyak mereka, namun kami menjamin pengalaman menginap yang sama,” jelas Dan Lynn, salah satu co-founder Zuzu Hotels.

    Di area layanan pemesanan kamar hotel budget, Zuzu berhadapan dengan Airy Rooms, Nida Rooms, dan Zen Rooms. Airy Room menamakan diri mereka sebagai Accommodation Network Orchestrator (ANO). Mereka memilih dan mengelola kamar dari berbagai hotel budget dengan standar tertentu.

    Nida Rooms adalah startup asal Indonesia. Sementara Zen Rooms adalah bagian dari Rocket Internet. Model bisnis seperti ini sebelumnya pun sudah dilakukan di India oleh OyoRooms.
    founder budget hotel zuzu | foto

    Dan Lynn (kiri) dan Vikram Malhi (kanan) founder dari Zuzu Hotels




    Zuzu sendiri diinisiasi oleh Dan Lynn dan Vikram Malhi. Keduanya adalah jebolan Expedia. “Sebelumnya saya lama memegang Expedia Indonesia. Lalu saya pegang Expedia Asia yang sebelumnya dijabat oleh Dan,” kata Vikram. Berbekal pengalaman dari Expedia itu, maka keduanya memutuskan untuk membuat layanan Zuzu di Taiwan, India, dan Indonesia.

    Apa yang dilakukan Zuzu?


    Lynn menyebutkan mereka adalah perusahaan teknologi untuk hotel sekaligus online travel agent untuk konsumen.

    “Kalau kamu punya properti sendiri, opsinya adalah kerja sama dengan jaringan hotel tradisional yang besar, seperti Ibis misalnya. Kami bantu dengan menyediakan alternatif dari itu, dengan memperbaiki beberapa hal mendasar yang benar-benar penting, seperti distribusi, pemasaran, manajemen pendapatan, dan meningkatkan pengalaman tamu hotel secara keseluruhan. Kami  memberikan apa yang diberikan big hotel chain, tentunya dengan harga lebih murah dan model yang lebih fleksibel,” jelas Lynn. Singkat cerita, mereka membentuk jaringan hotel budget dengan bantuan teknologi.

    Menurut Lynn, Zuzu tidak hanya mengelola kamar, tapi juga seluruh properti. Kerja sama dengan pemilik properti akan berlangsung dalam batas waktu tertentu tanpa dikenakan biaya. Setelah batas waktu itu, akan dilakukan evaluasi dan melihat peningkatan pendapatan.

    “Kalau tidak ada perubahan, tidak perlu bayar,” kata Lynn. Menurutnya, berdasarkan pengalaman di Taiwan yang merupakan pasar terbesar Zuzu saat ini, mereka bisa meningkatkan pendapatan 30 sampai 50 persen.

    Untuk menjadi bagian rantai hotel Zuzu, terdapat 25 kriteria yang harus dipenuhi. Kriteria ini terkait kebersihan, kenyamanan, keamanan, fasilitas modern (Wi-Fi), lokasi, dan harga.

    Terkait strategi pemasaran, Lynn menyebutkan mereka tidak mendasarkan pada banyak iklan. Mereka berharap pada pemasaran yang tumbuh organik. “Fokus pada pembenahan hotel dan memberikan pengalaman menginap yang baik untuk traveler,” tuturnya.

    Untuk konsumen, Zuzu pun hadir hanya lewat web, tanpa aplikasi. Alasannya, menurut Vikram, para pelancong jarang menggunakan aplikasi mereka. Menurutnya, aplikasi hanya relevan untuk layanan yang digunakan reguler.

    “Untuk GO-JEK, Uber, atau Grab, masih relevan ada aplikasinya. Tapi untuk aplikasi traveling yang dipakai sesekali, rasanya tak relevan,” ujarnya. “Biasanya orang hanya akan pakai sekali dan setelahnya dihapus. Dengan web mobile saja kami menghemat investasi. Dan kalau web mobile memberikan pengalaman yang bagus, rasanya itu cukup.”

    Tiada standar


    budget hotel zuzu | screenshot 2

    Terdapat tiga tipe kamar yang disediakan Zuzu: ekonomi, standar, dan premium.




    Menurut Lynn, berdasarkan pengamatan mereka di situs ulasan hotel seperti TripAdvisor, ada banyak ulasan tidak menyenangkan untuk hotel bintang tiga yang unbranded. Tapi keluhan ini tidak terjadi pada hotel bintang dua dari jaringan hotel budget, misalnya Amaris, Pop Hotel, Ibis Budget.

    Zuzu ingin membawa standar pengalaman menginap seperti yang dilakukan hotel budget berjaringan ke hotel-hotel budget perorangan ini.

    “Yang kami lihat, branded budget hotel memberi kepuasan kepada tamunya. Sebab tamu mendapat kepastian dan kualitas pengalaman yang baik. Kepastian soal apa yang akan kamu dapat, shower yang oke dan hangat, tempat tidur yang bersih, matras yang bagus, seprai yang nyaman. Mereka menyediakan itu semua di setiap jaringan hotelnya.”

    Demikian juga yang ingin dilakukan Zuzu dengan jaringan hotel budget yang tengah dibangunnya. Tak seperti hotel berjaringan yang memerlukan dana besar di awal, menurut Lynn, Zuzu membuat jejaring ini dengan memanfaatkan hotel budget yang ada digabung dengan teknologi yang mereka miliki.

    Misalnya seperti yang mereka lakukan pada salah satu hotel di Yogyakarta. Mereka menemukan keluhan pelanggan soal matinya air panas di sore hari. Mereka lalu menyarankan manajemen untuk memperbaikinya. Mereka juga menyarankan untuk meningkatkan properti yang tampak gelap dan tua, agar lebih terang dan menarik. Zuzu juga menugaskan karyawannya untuk mengecek secara reguler atau memberi bantuan kepada hotel-hotel ini.

    Cek delapan situs alternatif untuk pesan kamar hotel 

    Pasar menarik


    Ketertarikan Zuzu untuk menyasar segmen hotel budget lantaran nilai pasar segmen ini yang cukup menggiurkan. “Ketika berbicara hotel budget, mereka terbagi menjadi branded dan non branded,” jelas Lynn.

    Seperti layanan penyedia pemesanan hotel budget lain, mereka semua menyasar pasar pelancong domestik yang banyak melakukan perjalanan di dalam negeri. Menurutnya, pasar non branded budget hotel di Indonesia adalah US$3,5 miliar (sekitar Rp45 triliun). Sementara pasar non branded budget hotel di Asia sekitar US$50 miliar (sekitar Rp650 triliun). Sementara nilai pasar travel di Asia secara keseluruhan adalah US$350 miliar (sekitar Rp4,5 kuadriliun) untuk penerbangan dan hotel.

    Taiwan menjadi pasar pertama yang dijajal Zuzu. Menurut Vikram, layanan sejenis ini masih jarang di sana. “Taiwan sepi pemain, bahkan tak punya pemain lokal. Semua bermain di Cina. Untuk itu, kami mulai dari Taiwan. Sebab kami lihat jumlah pelancong domestik di sana juga cukup besar. Nilai hotel budget di sana pun lebih tinggi. Kalau di sini sekitar Rp200 ribu, di sana hotel budget sekitar Rp450 ribu,” kata Vikram.

    Lebih lanjut, Vikram menjelaskan bahwa Taiwan jadi strategi pendongkrak bisnis mereka dalam jangka pendek, sementara India dan Indonesia untuk jangka panjang. “Pasar India dan Indonesia untuk lima sepuluh tahun ke depan,” tuturnya. Sementara untuk jangka menengah, Zuzu berencana untuk menjajal juga Malaysia dan Thailand.

    (Diedit oleh Septa Mellina; Sumber gambar: WDNet)

    This post Sediakan Hotel Murah, Zuzu Hotels Berambisi Bangun Jejaring Hotel Budget appeared first on Tech in Asia.

     
    Tags : Travel hotel budget zuzu 

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini