
-
Uzone.id-Penelitian terbaru dalam Journal Sleep melaporkan sekitar 150 juta orang di seluruh wilayah dunia mengalami sulit tidur. Masalah tidur di Asia tampak di negara-negara berkembang, dan berhubungan terhadap peningkatan gangguan mental, seperti depresi dan kegelisahan.
Sementara itu, penelitian lain menyebutkan prevalensi insomnia di Indonesia dilaporkan sebanyak 10 persen dari jumlah populasi, atau sekitar 28 juta orang.Hal ini berkaitan dengan gaya hidup masa kini, tekanan hidup, kafein, dan faktor lainnya. Dalam jangka panjang, orang-orang dengan insomnia dikhawatirkan memiliki produktivitas dan kualitas hidup menurun. Aurora Lumbantoruan, MPsi.Psi, psikolog klinis sekaligus pendiri KEARA Konsultan Psikologi membenarkan pernyataan tersebut.
"Dampak buruk dari kualitas tidur yang rendah mencakup lama seseorang untuk fokus terhadap sesuatu, ingatan, dan kemampuan belajar. Selanjutnya, itu bisa memengaruhi kondisi psikologis seseorang semacam depresi, kecemasan, dan sakit jiwa," ujar Aurora dalam acara Amlife memperingati World Sleep Day 2018, Senin (12 Maret 2018), Jakarta.
Aurora menyebutkan beberapa gaya hidup yang spesifik dan kebiasaan-kebiasaan tidur yang menyebabkan insomnia, antara lain membawa pekerjaan ke rumah dan bekerja di malam hari, tidur siang, tidur di kemudian waktu untuk menebus jam tidur yang hilang, dan kerja shift dengan jam kerja yang tidak teratur.
Berdasarkan kondisi tersebut, Aurora menyarankan bahwa seseorang harus menyadari ritme tubuh atau yang diketahui sebagai alarm biologis. Kamu perlu menjaganya setiap hari untuk meningkatkan kualitas tidur dan rutinitas.