icon-category Film

Hanung Sangat Cemas Baca Novel ‘Bumi Manusia’ di Era Orde Baru

  • 15 Jul 2019 WIB
Bagikan :

Hanung Bramantyo (Foto: Tomi Tresnady/Uzone.id)

Uzone.id - Era Orde Baru memang melarang buku karya Pramoedya Ananta Tour dijual maupun dibaca oleh masyarakat. Kalau sampai terciduk, bisa berabe urusannya.

Sutradara Hanung Bramantyo pun merasakan jantung berdebar-debar ketika membaca novel Pramoedya Ananta Toer saat masih SMA.

Novel yang pertama kali dibaca Hanung adalah Perburuan, kemudian yang kedua novel Bumi Manusia.

“Novel kedua dari pak Pram adalah Bumi Manusia ya, Waktu itu masih stensilan dan itu pun foto kopian karena giliran dari teman-teman semua, ketika saya membaca itu pada saat itu saya gak netral kenapa?, karena sudah ada rumor dulu tentang pak Pram bahwa penulisnya itu begini begitu. Terus dipenjara, gak netral,” cerita Hanung Bramantyo saat ditemui di Jakarta, baru-baru ini.

Baca juga: 'Bumi Manusia’ dan ‘Perburuan’, Adipati Dolken vs Iqbaal Ramadhan?

Baca juga: 3 Hari Dirilis, Film 'Bumi Manusia' Raih 2,7 Juta Views

Hanung membaca novel karya Pramoedya itu seperti ada dorongan. Jika tidak membaca berarti tidak mewakili semangat anak 90-an atau bukan anak-anak yang memberontak atas kondisi bangsa.

“Gitu-gitu lah pokoknya bukan anak-anak rebel, jadi seperti itu lah. Pada saat baca itu emnag rasa berdebar-debarnya luar biasa,” lanjut Hanung.

Kemudian, Hanung membaca lagi novel Pramoedya itu usai Orde Baru jatuh. Ketika itu, ucap Hanung, jangankan novel Pramoedya yang dijual bebas, bahkan ada buku dari eks tahanan politik berani mengeluarkan buku berjudul yang sangat provokatif.

“Seperti ‘Aku Bangga Menjadi Anak PKI’, itulah awal-awal tahun 2000-an lah saya membaca lagi di situ. Saya mengalami sensasi yang berbeda. Saya betul-betul membaca karya sastra,” ungkap suami Zaskia Adya Mecca ini.

Sejak itu Hanung bisa bersikap netral saat membaca buku Bumi Manusia. Dia melihat sebab akibat dari karakternya sangat dijelaskan satu sama lain.

Sehingga Haung setuju menyebut novel Pramoedya ini sebagai babon (buku pegangan atau buku induk) untuk karya sastra.

“Makanya, saya bilang saya setuju menyebuti ini babon karena secara teori novel itu (karya Pramoedya Ananta Toer) sudah betul di halaman ke berapa, part berapa, x1 pun berubah menjadi x2 mnjadi x3, itu sangat jelas sekali di Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, kemudian Rumah Kaca.

Dari situ saya bisa menganalisa dengan sangat jernih. Apalagi ketika saya diberikan kesempatan untuk menyutradarai film ini (Bumi Manusia) jauh sebelum bu Erika (Produser Falcon Pictures) memberikan kepercayaan,” ungkap sutradara berusia 43 tahun itu.

Cek informasi menarik lainnya di Google News

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini