
Susu formula menjadi salah satu elemen penunjang pertumbuhan bayi setelah ASI.
Namun bagi para orang di China, susu formula, khususnya produk lokal, masih menyisakan trauma. Masih jelas di ingatan Zhang Wei, dokter spesialis urologi, bagaimana dirinya berhadapan dengan empat bayi dengan keluhan batu ginjal pada akhir Juni 2008 silam.
Kondisi ini sangat jarang dialami bayi, apalagi salah satu bayi masih berusia 10 bulan. Mereka dipastikan mengalami sakit tak tertahankan.
Lihat juga:Bijak Mengonsumsi Susu Kental Manis |
Berdasar Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, tubuh hanya bisa menoleransi zat kimia ini sebanya 0,63 miligram per kilogram berat badan.
Meski beragam usaha mulai dari 'membungkam' wartawan lokal hingga penarikan diam-diam, akhirnya masalah ini tercium oleh publik. Lebih dari seratus pengacara dengan suka rela membantu keluarga yang dirugikan.
Tian Wenhua, direktur Sanlu divonis hukuman seumur hidup atas kegagalan menghentikan produksi dan penjulaan susu bahkan setelah tahu susu tersebut membahayakan konsumen. Sedangkan petani dan pemasok lokal dieksekusi pada akhir 2009.
Sakit dan trauma berkepanjangan
Episode drama tragedi susu pun berakhir, tapi ini membawa dampak luar biasa bagi anak-anak yang terlanjur mengonsumsi susu sekaligus kebiasaan konsumsi susu di China.
Ren Chen, bocah 13 tahun yang tinggal di Provinsi Hunan selatan ini ditemukan menderita batu ginjal saat berusia tiga tahun. Ia tumbuh bersama susu produksi Sanlu, Yili dan produk susu lokal lain. Fungsi ginjalnya menurun sehingga ia bertahan hidup dengan rutin cuci darah sebanyak tiga kali dalam seminggu.
"Kenapa kamu melahirkan saya untuk menderita?" tanyanya pada sang bunda.
Dampak lain dari tragedi susu formula ini adalah semakin tingginya permintaan terhadap susu impor. Survei dari firma konsultan McKinsey & Co. menemukan lebih dari 10 ribu orang yang disurvei lebih memilih susu impor, umumnya dari Hong Kong.
John Yasuda, penulis On Feeding the Masses: An Anatomy of Regulatory Failure in China, mengatakan permintaan susu yang tinggi dari kalangan menengah ke atas berkontribusi pada tragedi. Jika dirunut, persoalan susu tak hanya pada hilir, tapi juga hulu.
"Pemerintah semacam mencoba untuk mendorong konsumsi susu," katanya.
Akan tetapi kebanyakan konglomerat susu tidak punya lahan peternakan sendiri. Mereka mengandalkan peternak kecil untuk menyuplai firma yang besar. Mereka pun dipaksa untuk memenuhi jadwal produksi. Proses seperti ini membuat produk kehilangan standar keamanan.
Episode kegagalan keamanan pangan di China jadi alasan publik kehilangan kepercayaan pada produk lokal. Hal ini pun diakui oleh Huang Yanzhong, senior di dewan kesehatan global untuk Relasi Luar Negeri di New York.
"Sulit untuk memiliki optimisme kuat," katanya.
Penggunaan pestisida dan obat penyubur berlebihan pada 1980-an telah mengontaminasi lahan dan rumput yang dimakan sapi. Selain itu, regulasi pemerintah China yang top-down membuat publik makin 'buta' terhadap proses.
Warga Foshan, Zeng Yingpei, mengaku lebih yakin susu buatan Jerman lebih baik daripada susu lokal. Ia masih ingat tragedi Sanlu 10 tahun lalu.
"Hanya perlu seekor tikus untuk menghancurkan sepanci bubur," ucapnya.