
Kota London dipenuhi dengan berbagai tempat penghapus rasa bosan. Berbagai pertunjukan teater berhamburan di pusat Kota; misalnya di sekitaran Covent Garden atau sekitaran Leicester Square.
Jika itu tak cukup menarik atau kemahalan, berbagai museum dengan biaya masuk nol poundsterling - seperti British Museum, National History Museum, atau Imperial War Museums - juga selalu siap untuk dikunjungi. Namun, bagi Rani (23 tahun) - mahasiswa Indonesia di King’s College London - yang terpenting hari itu adalah bermain gim balapan Mario Kart di konsol terbaru miliknya: Nintendo Switch.
Ketika itu, London baru saja memasuki musim semi; angin dingin yang menusuk sudah tak separah musim dingin. Bersama temannya, Rani pun memutuskan untuk bermain di balkoni kafe King’s College yang menghadap langsung ke Sungai Thames. Delapan bulan setelah sore itu, ketika ia sudah kembali ke Indonesia, Rani masih aktif memainkan Nintendo Switch miliknya.
“Aku sampai sekarang masih main dengan religius, paling sedikit 5 hari seminggu dan paling tidak setengah jam untuk sekali main,” kata Rani kepada Tirto, Jumat (8/17). Menurut Rani, Nintendo Switch memberikan pengalaman bermain yang kaya sebagai sebuah mesin gim. “Aku bawa waktu aku ke SMA [saat reuni] terus main Mario Kart sama teman-teman. Terus Aku ke Bandung main Mario Kart dan Arms sama sepupuku,” tambah Rani.
Nintendo Switch, sebuah mesin gim dengan bentuk seperti tablet yang dilengkapi dengan joystick di kedua sisi ini mencoba menawarkan pengalaman bermain yang unik. Berbeda dengan Playstation 4 atau Xbox One, karena telah dilengkapi layar sendiri, Nintendo Switch dapat dimainkan tanpa televisi. Ia dapat menjadi perangkat gim portabel (seperti Gameboy/Playstation Portable) atau tetap dimainkan sebagai konsol rumahan.
Tak mengherankan, kata “Switch” sebagai nama memang memiliki makna yang literal. Karena bisa berganti dari konsol rumahan ke portable, perangkat ini bisa dimainkan ketika sedang dalam penerbangan, sekadar duduk di taman, atau bertemu teman-teman. Play anytime, anywhere, with anyone. Begitu kata Nintendo.
Larisnya penjualan konsol dan gim Nintendo Switch menjadi alasan yang kuat untuk mengatakan Nintendo telah bangkit di 2017. Diwartakan oleh Financial Times, Nintendo diproyeksikan akan membukukan keuntungan bersih sebesar 750 juta dolar AS untuk periode tahun fiskal Maret 2017 - Maret 2018.
Namun, strategi Nintendo bukan hanya lewat Switch, berbagai ekspansi bisnis dilakukan oleh perusahaan yang umurnya sudah lebih dari 100 tahun ini. Misalnya, Nintendo juga memutuskan untuk ikut terjun ke dalam arus tren gim untuk ponsel pintar. Pada 15 Desember 2016, Super Mario Run dirilis di Apple App Store. Data terbaru dari Nintendo menunjukkan Super Mario Run telah diunduh sebanyak 90 juta kali, walaupun belum mencapai titik keuntungan yang diharapkan.
Karena itu, strategi Nintendo untuk bangkit tidak hanya sampai di situ. Akhir September lalu, Nintendo kembali merilis Super NES Classic Edition yang merupakan konsol gim fenomenal tahun 1990-an. Bersenjatakan nostalgia gim-gim retro Kirby, Super Mario, dan Legend of Zelda, SNES Classic Edition laris manis di pasaran. Bersama dengan Nintendo Switch, konsol ini memuncaki posisi dua besar selama bulan Oktober 2017. Namun, Nintendo Switch tetap bukan teknologi yang sempurna. Misalnya, software sistem operasi Nintendo Switch dikritik karena Nintendo belum meluncurkan aplikasi streaming populer seperti Youtube atau Netflix. Ditambah lagi, aplikasi browser juga masih belum tersedia.
Terlepas dari itu, mampukah Nintendo mempertahankan momentum kebangkitannya?
Baca juga artikel terkait VIDEO GAME atau tulisan menarik lainnya Terry Muthahhari