home ×
Digilife

2024, Pengeluaran Bisnis AI di Dunia Mencapai USD110 Miliar

27 August 2020 By
2024, Pengeluaran Bisnis AI di Dunia Mencapai USD110 Miliar
Share
Share
Share
Share

 

Uzone.id - Pengeluaran bisnis untuk teknologi artificial intelligence (AI) di dunia diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam kurun empat tahun ke depan. Hal ini diungkap dari laporan International Data Corporations (IDC) yang bertajuk Worldwide Artificial Intelligence Spending Guide.

Dilansir melalui laman ITPro.co.uk, pada 2020 ini pengeluaran bisnis di bidang AI mencapai angka USD50,1 miliar. Angka ini akan naik dua kali lipat menjadi USD110 miliar pada 2024 nanti. Pengeluaran ini meningkat seiring dengan para perusahaan yang ingin mengembangkan AI sebagai bagian dari upaya transformasi digital mereka di masa depan.

IDC menyebut, kenaikan itu menyebabkan CAGR pada 2019 - 2024 menjadi 20,1 persen. Kenaikan dipicu adopsi AI untuk memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik, sekaligus meningkatkan performa kerja karyawan secara keseluruhan.

"Contoh kerja yang akan membutuhkan AI di antaranya automated customer service agents, sales process recommendation and automation, automated threat intelligence and prevention, dan otomasi IT. Jika digabungkan, kata IDC, empat contoh kerja ini akan memakan sepertiga dari pengeluaran AI di 2020.

Di antara sekian banyak bisnis dan lini usaha, IDC yakin jika retail dan industri perbankan akan melakukan pengeluaran lebih banyak pada solusi berbasis AI. Sektor retail akan berinvestasi di AI untuk meningkatkan pengalaman konsumen melalui chatbot dan mesin rekomendasi. Sedangkan Industri perbankan lebih memilih untuk fokus mengeluarkan biaya AI untuk menganalisa dan menginvestigasi penipuan (fraud), penasehat program dan sistem rekomendasi.

Dalam laporan IDC juga disebutkan jika pengeluaran paling banyak akan digunakan untuk software terkait aplikasi AI, dengan total pengeluaran USD14,1 miliar. Namun begitu kategori terbesar untuk pengeluaran layanan IT sudah pasti ada di IT Services. Pengeluaran untuk layanan IT berbasis AI diperkirakan mencapai angka USD14,5 miliar.

"Walaupun server akan mendominasi total pengeluaran secara keseluruhan, namun pengeluaran software akan tumbuh dengan cepat dalam kurun lima tahun ke depan, dengan CAGR 22,5 persen," kata Stacey Soohoo, yang menjabat sebagai Research Manager dan Customer Insight & Analysis untuk IDC, dikutip dari ITPro, Kamis, 27 Agustus 2020.

Secara geografis, tulis laporan IDC, pengeluaran untuk AI dalam lima tahun ke depan akan lebih banyak dilakukan oleh Jepang. Negara itu memiliki CAGR dalam AI spending sebesar 32,1 persen. Sedangkan di posisi kedua ada Amerika Latin dengan CAGR 25,1 persen. Namun begitu, pengeluaran AI saat ini paling banyak terjadi di Amerika Serikat dengan kontribusi hampir setengahnya, diikuti oleh Eropa Barat.

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini

0 Comments in this article

Tunggu Sebentar Ya...

Submit
Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id

Related Article