icon-category Telco

23 Desa Adopsi Aplikasi SimpelDesa PT Telkom

  • 25 Aug 2021 WIB
  • Bagikan :

    Bupati Bandung Dadang Supriatna (ketiga kanan) saat meresmikan aplikasi simpeldesa Kabupaten Bandung di Desa Bojong, Nagreg, Kab.Bandung, Selasa (24/8/2021)

    Uzone.id - Untuk mewujudkan digitalisasi desa, Telkom sudah melakukan tanggungjawab sosial perusahaanya dengan menyediakan internet gratis selama satu tahun. Kini mereka melanjutkan upaya tersebut dengan membantu desa mengadopsi aplikasi SimpleDesa dari Smart Village Nusantara PT Telkom.

    Sebanyak 23 desa di Kabupaten Bandung telah mengadopsi aplikasi tersebut dan mengaku merasaan manfaatnya. Aplikasi SimpleDesa diakui bisa membantu operasional desa maupun aktivitas perekonomian warga. Salah satunya yang dirasakan oleh Kepala Desa Bojong, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Asep Wahyudin.

    "Contohnya pembayaran listrik, pulsa, dan sejenisnya. Itu bisa melalui aplikasi dengan memanfaatkan usaha kecil warga sebagai mitra BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Kami yang ada di pinggiran ini tidak ingin tertinggal dengan desa dan kelurahan di kota," katanya dalam perilisan Sistem Informasi Manajemen dan Pelayanan Desa Bedas Desa Cerdas di Desa Bojong, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, kemarin.

    Baca juga: Telkom Gelar Smart Campus Award 2021

    Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan, pada zaman 4.0 sekarang, hanya digitalisasi pemerintah daerah yang bisa menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih (clean and good government).

    "Pemerintah bisa maju dan makin baik melayani masyarakat kalau informasi dan interaksi makin dipermudah. Ada koneksi informasi dengan praktis, dan itu bisa dihadirkan melalui simpeldesa. Saya minta ini jangan berhenti di seremoni hari ini tapi harus terus dikawal," katanya.

    Menurut dia, tahap awal implementasi 23 desa akan terus dipantau sehingga kelak ke depannya, total 270 desa dan 10 kelurahan di kabupaten tersebut bisa mengadopsinya. Terlebih, kebutuhan data digital terintegrasi adalah kebutuhan mendesak. Selain itu, melalui simpeldesa, pembaruan data bisa cepat dilakukan, termasuk yang dibutuhkan dalam waktu dekat, seperti data untuk santunan ustadz dan ustadzah tiap kelurahan.

    Dadang mengatakan, digitalisasi desa juga jadi harapan utama mengungkit perekonomian desa melalui BUMDes. Apalagi dengan momentum pandemi yang menuntut transaksi daring, maka koneksi BUMDes ke BUMDes lain atau pasar keseluruhan lebih terbuka lebar.

    Dony Savius, Tribe Leader SVN, Digital Next Business (DxB) PT Telkom, mengatakan, implementasi di Kabupaten Bandung membuat total adopsi pasar komersial pada layanan tersebut di Indonesia berjumlah 205 desa sejak pertama dirilis tahun lalu.

    Baca juga: Teknologi TelkomGroup Dibalik Upacara Virtual HUT RI

    "Di Jawa Barat, Kabupaten Bandung yang pertama skala luas. Penjajakan saat ini sedang dilakukan oleh Pemkab Bandung Barat dan Pemkot Cimahi. Ada juga dari 16 desa di Tasikmalaya, tapi yang adopsi dari desanya langsung. Kami proyeksikan seluruh desa di Kabupaten Bandung bisa adopsi simpeldesa sesuai arahan Pak Bupati," katanya.

    Menurut dia, skema komersial di awal pastinya memakan biaya karena selain membangun aplikasi sistem, juga harus menyiapkan bea pelatihan dan pendampingan ke aparat desa. Akan tetapi, di tahun berikutnya, tarif otomatis turun drastis karena hanya untuk bea pengelolaan (managed service) saja.

    Dony optimistis, akan makin banyak pemerintah desa yang menggunakan layanan tersebut. Sebab, saat ini pun kian banyak yang membutuhkan akan tetapi terkendala pengalihan anggaran (refocusing) guna menghadapi pandemi.

    General Manager Witel Bandung Barat PT Telkom Tedi Rukmantara menjelaskan, selain simpeldesa, pihaknya sebelumnya sudah bekerjasama dalam penyediaan SIGA (Sistem Informasi Keluarga) dengan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Pemkab Bandung.

    "Dengan launching hari ini, kami akan kawal desa yang gunakan simpeldesa agar makin optimal layanan warga. Kami siap dari sisi aplikasi maupun infrastruktur, baik menggunakan kabel optik, satelit, hingga layanan wireless. Insya Allah tidak ada desa di Kabupaten Bandung yang blankspot," sambungnya. 

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini