icon-category Digilife

4 Startup Ini Berasal dari Palestina, Ada yang Tembus Silicon Valley

  • 24 Oct 2023 WIB
Bagikan :

Uzone.id – Di tengah konflik yang memanas antara Palestina dan Israel, tahukah kalian kalau Gaza sempat akan dijadikan sebagai Silicon Valley-nya Palestina. 

Sebut saja CEO Salesforce Marc Benioff yang pada 2017 lalu bergabung dengan tokoh-tokoh Silicon Valley untuk membuat akademi coding pertama di Gaza. Selain itu, Silicon Valley juga menaruh perhatian pada Palestina sebagai pusat teknologi dunia dengan investasi mencapai USD10 juta.

Sementara itu, untuk startup sendiri, walaupun jumlahnya tidak sebanyak Israel dan tidak sepopuler startup dari negara lain. Namun, kenyataannya Palestina memiliki beberapa Startup yang cukup sukses dan bahkan ada yang tembus ke Silicon Valley.

Berikut empat startup asal Palestina yang bergerak di bidang teknologi.

Mashvisor 

Mashvisor adalah platform yang menyediakan analitik real estate yang menjadi startup Palestina pertama yang bergabung dalam dana ventura global.

Startup ini terpilih untuk mengikuti putaran akselerasi ke-19 dalam 500 Startup Silicon Valley. Salah satu pendirinya, Peter Abualzolof mengatakan kalau ini menjadi peluang besar bagi perusahaan lokal Palestina.

“Pencapaian ini merupakan sebuah langkah untuk menciptakan peluang di Palestina, serta bukti kekuatan untuk tetap memiliki harapan,” ujarnya di tahun 2016 lalu, dikutip dari Wamda, Selasa, (24/10).

Abualzolof menambahkan kalau ini juga menjadi peluang bagi Palestina untuk mengembangkan ekonomi yang mandiri. Walaupun tidak semaju pihak lain, namun Abualzolof menyebut kalau perkembangan ekosistem startup di Palestina semakin menguat.

Mashvisor sendiri berdiri di tahun 2015 dan memiliki kantor pusat di Campbell, California dan berfokus ke pasar real estate di Amerika Serikat.

Olivery 

Startup dari Palestina selanjutnya adalah Olivery, yang didirikan oleh Ram Mere. Startup ini bergerak dibidang logistik dan hingga saat ini melayani klien dari berbagai negara.

Mere membawa Olivery ke program Startups Without Borders yang didukung oleh Meta untuk mendukung dan melatih wirausahawan lokal, dan hasilnya, Startup berada di posisi kedua dengan hadiah USD15 ribu atau Rp238 juta.

Melansir dari Forbes, Selasa, (24/10), Olivery kini memberikan solusi logistik ke 100 klien mereka di 7 negara berbeda dan sebagian dari pekerjanya adalah warga Palestina.

Namun, di tengah kekacauan ini, Mere masih mencari tahu kabar dari para karyawannya di Gaza. Ia berharap karyawannya selamat dari konflik yang terus memanas hingga saat ini.

Seperti startup Palestina lainnya, Olivery menjadi titik terang bagi dunia teknologi lokal yang sedang berkembang, dengan banyaknya perusahaan muda, inkubator, dan akselerator di seluruh Gaza dan Tepi Barat.

Meskipun masih terbilang kecil, para pendiri dan investor Palestina mengatakan kalau ekosistem teknologi di negara ini dipandang sebagai bagian penting dari masa depan ekonomi Palestina.

Gamiphy

Satu lagi startupa asal Palestina yang berhasil menembus kancah internasional, ialah Gamiphy yang telah mendapat pendanaan dari VC Palestina Ibtikar Fund serta perusahaan asal Kuwait, Al-Mohallab Kuwait Real Estate serta Al-Joud Kuwait Holding Company.

Gamiphy didirikan pada tahun 2017 oleh Aws Alnabulsi dan bergerak di bidang bisnis gamifikasi untuk membantu perusahaan dalam merekrut pelanggan, engagement, dan tenaga kerja.

Gamiphy telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar di berbagai dunia, seperti Alghanim Industries, EmiratesNBD, Carriage, National Bank of Kuwait, dan Beeline Telecom.

Mereka juga melebarkan bisnisnya ke negara-negara lain di Amerika Latin melalui kerja sama dengan perusahaan Tienda Nube, Jumpseller, dan FollowUp, serta kontrak dengan Cencosud, Starbucks, dan Burger King usai mengikuti program Startup Chile pada 2019 silam. 

Gaza Sky Geeks

Berbeda dengan Mashvisor dkk, Gaza Sky Geeks adalah perusahaan pusat teknologi/startup di Palestina. Perusahaan ini merupakan satu-satunya tech hub dan akselerator startup yang ada di Gaza dan didirikan pada tahun 2011 oleh Andy Dwonch dengan nama awal Arab Developer Network Initiative.

Gaza Sky Geeks sendiri mendapat sokongan dari organisasi kemanusiaan global Mercy Corps dan Google usai eksekutif Google mengunjungi Gaza kala itu. GSG juga didukung oleh perusahaan dari Silicon Valley lainnya seperti Microsoft, dan donatur internasional seperti Konrad Adenauer Foundation.

GSG bertugas untuk menciptakan panggung bagi talenta muda untuk tumbuh sekaligus meningkatkan keterampilan mereka lewat pendampingan profesional dan mendapat pekerjaan secara langsung. Terdapat 3 program unggulan dari perusahaan ini, yaitu Code Academy, GeeXeleator dan Skylancer Academy.

Para tokoh perempuan dalam bidang TI dan startup pun ikut terlibat. Selain itu, GSG juga berperan untuk mewujudkan bisnis startup anak-anak muda Palestina, dengan berbagai program mereka.

GSG telah dikunjungi oleh berbagai perusahaan teknologi dunia seperti Uber, Google, SoundCloud, Microsoft, 500 Startups, Endeavor Global, Udacity, Hitachi, dan masih banyak lagi.

Namun, konflik yang berkepanjangan dan semakin memanas membuat mimpi tersebut sulit untuk diwujudkan. Gedung-gedung di Palestina sudah lenyap begitupun dengan korban yang terus berjatuhan.

Biar gak ketinggalan informasi menarik lainnya, ikuti kami di channel Google News dan Whatsapp berikut ini.

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini