
-
Arswendo Atmowiloto dikabarkan meninggal dunia Jumat (19/7) pukul 17.50 WIB di usia 70 setelah berjuang melawan kanker prostat. Budayawan yang juga dikenal sebagai wartawan ini punya segudang karya sastra.
Arswendo memulai merintis menjadi sastrawan sejak 1971. Kala itu, ia menulis sebuah cerpen bernama Sleko yang kemudian dimulai dalam majalah Mingguan Bahari.
Selain menulis, Arswendo juga aktif mengembangkan bakatnya dengan ikut berbagai organisasi. Ia pernah menjadi pemimpin di Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah, Solo pada 1972.
Di antara semua karya Arswendo yang telah lahir dan populer, CNNIndonesia.com mengenang lima karyanya yang menjadi warisan sastra di tengah masyarakat.
|
Cerita Keluarga Cemara kemudian sempat dikembangkan menjadi serial sinetron pada dekade '90-an yang kemudian diangkat menjadi film pada 2018. (Dok. Visinema Pictures via youtube)
|
Senopati Pamungkas
Senopati Pamungkas adalah novel yang sebelumnya pernah dimuat sebagai cerpen dalam majalah HAI pada 1984. Karya ini ditulis oleh Arswendo dengan latar dunia persilatan.
Senopati Pamungkas mengisahkan kehidupan di dalam Keraton Singasari yang dipimpin oleh Raja Sri Kertanegara. Raja Sri Kertanegara berhasil membawa Singasari ke puncak kejayaan dan menaklukkan berbagai musuh.
Arswendo mengisahkan dalam kisah tersebut, Raja Sri Kertanegara ingin membangun asrama untuk mendidik prajurit sejak dini dan menghasilkan ksatria. Hingga kemudian, hasil didikannya justru menjadi pemicu intrik dalam keraton.
Imung
Imung adalah kisah cerpen yang ditulis oleh Arswendo dan diterbitkan sebagai novel pada 1987. Melalui Imung, Arswendo membuktikan bisa menulis sebuah kisah detektif.
Imung menceritakan soal anak yang cerdik dan cerdas. Ia memiliki bakat dan kepandaian dalam menuntaskan segala permasalahan yang ada, termasuk teka-teki atau misteri yang ada di hadapannya.
Kisah Imung ini sendiri kemudian diterbitkan ulang sebagai novel pada 2015 lalu.
Canting
Canting merupakan novel karya Arswendo Atmowiloto yang dirilis pada 1986. Novel ini semula diterbitkan pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Kompas dengan subjudul "Sebuah Roman Keluarga".
Novel ini berlatar sosial keluarga ningrat dalam budaya Jawa dan mengisahkan kehidupan Tuginem yang bekerja sebagai buruh batik merek Canting milik Raden Ngabehi Sestrokusumo
Menurut Ensiklopedia Sastra Indonesia Kemendikbud, Canting menggambarkan kehidupan sebuah keluarga Jawa yang teramat khas dengan simbol dan tradisi keningratan, filsafat dan sikap hidup, dan naluri-naluri tradisional yang makin terdesak oleh kemajuan zaman.