
Uzone.id - Indonesia jadi negara pertama di dunia yang menerapkan BBM Biosolar B50. Dengan campuran 50 persen Sawit tersebut, masih banyak warga yang awam dengan BBM baru itu.
Ada sejumlah hal yang setidaknya wajib diketahui soal BBM Biosolar B50, yang kami rangkum sebagai berikut:Presiden Prabowo Subianto meresmikan peluncuran bahan bakar minyak (BBM) biodiesel 50 persen (B50). Presiden menegaskan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan bahan bakar tersebut.
Menurutnya, ini menjadi langkah kemandirian energi sekaligus membuktikan kemampuan Indonesia memanfaatkan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat.
"Dengan diluncurkan program ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50. Ini adalah tonggak yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi," - Presiden Prabowo Subianto.
B50 merupakan bahan bakar minyak (BBM) hasil pencampuran 50 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar. Sementara B40 hasil pencampuran 40 persen FAME dengan solar.
Bahan bakar B50 jauh lebih baik dibandingkan B40 dalam hal kebersihan sistem penyaringan. Berdasarkan hasil uji coba, filter bahan bakar B50 dapat bertahan hingga jarak tempuh 40.000 km tanpa penggantian.
Sedangkan B40 umumnya memerlukan pergantian filter setiap 10.000 hingga 20.000 km
Mesin diesel lawas bisa menggunakan B50 (campuran 50% biodiesel dan 50% solar), namun memerlukan penyesuaian perawatan khusus.
Karena sifat biodiesel yang lebih kental dan memiliki daya pelarut tinggi, komponen lawas seperti selang karet dan seal lebih rentan getas, serta tangki berisiko lebih cepat kotor.
Beberapa langkah penting yang wajib diperhatikan untuk merawat mesin diesel lawas saat menggunakan B50:
Menurut Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Prof Eniya Listiani Dewi, biodiesel didapatkan dari crude palm oil. Namun dalam prosesnya, masih dibutuhkan bahan baku yang masih impor.
"Biodiesel didapatkan dari tandan buah segar, ini menjadi crude palm oil dulu, 16 juta ini," Eniya
"Lalu dibersihkan sedikit namanya bleaching, terus ditambah metanol. Nah, metanol ini yang dibutuhkan 2,5 juta, tahun depan dibutuhkan 2,5 juta, tapi produksi domestik baru sekitar 600 ribuan. Jadi kita masih perlu impor," Eniya.
Dengan diluncurkannya B50, maka ia akan menggantikan posisi B40 yang sudah berjalan sebelumnya. Karena sebagai pengganti, maka harganya ditetapkan sama.
Harga B50 ditetapkan menjadi dua yakni Rp6.800 per liter untuk kendaraan penumpang dan sekitar Rp15 ribu sampai Rp16 ribu untuk industri.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan harga B50 untuk kendaraan penumpang lebih murah karena diberikan subsidi. Sementara, untuk industri diberikan sesuai harga pasar.
"Yang PSO itu adalah subsidi, non PSO itu adalah yang untuk industri. Industri bayar non subsidi antara Rp15 ribu sampai Rp16 ribu," ujar Bahlil di lokasi yang sama.
BBM Biosolar B50 adalah bahan bakar minyak yang mengandung 50% fatty acid methyl ester (FAME) berbasis minyak sawit dan 50% solar. Penting karena Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori B50, menunjukkan kemandirian energi dan pemanfaatan sumber daya alam domestik.
B50 jauh lebih baik dari B40 dalam hal kebersihan sistem penyaringan. Berdasarkan uji coba, filter bahan bakar B50 dapat bertahan hingga 40.000 km tanpa penggantian, sedangkan B40 umumnya memerlukan pergantian filter setiap 10.000 hingga 20.000 km.
Mesin diesel lawas bisa menggunakan B50, namun memerlukan penyesuaian perawatan khusus. Biodiesel yang lebih kental dan memiliki daya pelarut tinggi bisa membuat selang karet dan seal lebih rentan getas, serta tangki lebih cepat kotor. Perawatan meliputi penggantian filter solar yang lebih rajin, pemeriksaan saluran bahan bakar, menghindari tangki kosong, dan pengurasan tangki secara berkala.
Ya, meskipun biodiesel didapatkan dari crude palm oil domestik, bahan baku metanol yang dibutuhkan dalam proses produksinya masih perlu diimpor. Produksi metanol domestik saat ini belum mencukupi kebutuhan sebesar 2,5 juta unit per tahun yang diperlukan untuk B50.
Harga B50 ditetapkan menjadi dua, yaitu Rp6.800 per liter untuk kendaraan penumpang (disubsidi) dan sekitar Rp15.000 hingga Rp16.000 per liter untuk industri (non-subsidi atau sesuai harga pasar).