
Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Provinsi Bali I Ketut Ardana mengatakan 60 persen wisatawan datang ke Bali menggunakan jasa akomodasi perjalanan wisata daring (travel online). Hanya 40 persen wisatawan yang datang menggunakan jasa biro perjalanan wisata (travel agent).
"Dalam kasus Gunung Agung, wisatawan yang perlu dipikirkan adalah yang 60 persen ini," kata Ardana di Denpasar, Kamis (14/12).
Ardana mencontohkan kasus penumpukan penumpang di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai saat penutupan bandara selama 2,5 hari beberapa waktu lalu. Wisatawan mancanegara yang menggunakan biro perjalanan wisata relatif lebih tenang, sebab perusahaan bertanggung jawab dengan kliennya.
Perusahaan yang akan mencarikan solusi terbaik bagi kliennya, misalnya mengganti transportasi dengan bus ke bandara terdekat atau menyiapkan kamar hotel sementara. Ardana mengatakan data ini bisa menjadi pegangan para pelaku wisata dalam rangka mengantisipasi kondisi Gunung Agung meletus di tengah kunjungan wisatawan.
Ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali, I Gusti Kade Sutawa menambahkan kepastian transportasi merupakan hal vital yang diperlukan wisatawan di tengah bencana alam. Ia meminta pemerintah Provinsi Bali untuk menyiapkan terminal layak dan sumber informasi cukup di sejumlah terminal bus di Bali.
"Pusat informasi di terminal juga dibutuhkan untuk mengantisipasi kepanikan wisatawan, bukan hanya di bandara saja," katanya.
Sutawa mencontohkan kondisi Terminal Mengwi yang sampai saat ini belum berstandar internasional. Terminal yang berada di Kabupaten Badung itu dinilai kurang memadai untuk wisatawan mancanegara.