
Natal identik dengan pohon Natal. Namun, sebenarnya perayaan hari raya Kristen tersebut lebih dari itu. Setidaknya ada sekitar tujuh penanda Natal yang dapat dengan mudah ditemukan selama perayaan Natal, di antaranya lonceng, lilin, sinterklas, hingga kaus kaki.
Setiap penanda Natal ini mengusung makna tertentu. Hiasan-hiasan Natal, misalnya, bukanlah sekedar hiasan karena di setiap simbol Natal juga memiliki makna khusus.
Dilansir dari berbagai sumber, berikut tujuh penanda Natal dan makna yang diusungnya:
Lihat juga:7 Tradisi Natal Unik di Belahan Dunia |
Lihat juga:10 Inspirasi Kado Natal untuk Pelancong |
5. Bintang Natal
Sama seperti pohon Natal, bintang kerap disebut juga sebagai simbol Natal yang penting dan dikenal luas. Orang bisa melihat bintang-bintang tergantung di banyak tempat selama musim ini - di beranda rumah, di gereja-gereja, di jalanan, di pohon natal, dan hampir di mana-mana. Simbolisme berasal dari kisah kelahiran Kristus. Sebuah bintang telah muncul di langit saat Juru selamat lahir. Bintang itu sangat bersinar dan cerah sepanjang malam dan itu tidak biasa.
Bintang inilah yang kemudian disebut 'Bintang Betlehem' yang memimpin ketiga orang raja datang saat kelahiran Yesus. Mereka mempersembahkan beberapa suguhan seperti emas kepada Yesus sebagai simbol kerendahan hati mereka. Apa yang dilakukan Tiga Raja ini memberi teladan bagi umat manusia agar senantiasa memiliki semangat ketaatan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan dan sesama.
6. Lonceng
Pada awalnya lonceng-lonceng dibunyikan untuk memperingati lahirnya Yesus Kristus. Hal itu dilakukan sebagai penanda untuk memberi kabar dan mengajak semua orang bersukacita dan bergembira karena kelahiran juruselamat tersebut.
Namun sekarang lonceng-lonceng dibunyikan di gereja-gereja untuk memperingati dimulainya misa atau perjamuan ekaristi. Lonceng digambarkan sebagai lambang kegembiraan dan keceriaan.
7. Kaus Kaki
Tradisi menjadikan kaus kaki sebagai dekorasi Natal terinspirasi dari kisah St. Nicholas. Nicholas melemparkan koin emas ke dalam kaos kaki milik ketiga orang wanita yang mengantungkannya di perapian. Menurut jejak sejarahnya, mereka membutuhkan uang untuk mas kawin serta untuk menjauhkan diri dari pelacuran.
Sejak saat itu tradisi menggantung kaus kaki berkembang, kaus kaki digantung di pintu-pintu atau pohon Natal. Anak-anak percaya jika mereka menjadi orang baik Santa akan mengisi kaus kaki mereka dengan hadiah. Hiasan ini menimbulkan semangat bagi seluruh umat agar memelihara kehidupan baik di dunia agar dapat ikut serta menikmati kegembiraan saat Natal tiba.