AI Bubble Burst Jadi Kenyataan di China, Kerugian Capai Rp8.160 Triliun
Fenomena "AI bubble burst" melanda China, menyebabkan saham perusahaan teknologi AI anjlok dan menguapkan sekitar USD480 miliar nilai pasar.

Highlight Artikel
- Fenomena "AI bubble burst" mulai terjadi di China, dengan saham perusahaan teknologi AI anjlok tajam.
- Nilai pasar sekitar USD480 miliar atau Rp8.160 triliun menguap dari saham teknologi AI China dalam kurang dari empat bulan.
- Beberapa perusahaan seperti Unitree, CXMT, MetaX, Moore Threads, Zhongji Innolight, dan Eoptolink mengalami penurunan saham signifikan.
- Penurunan ini disebabkan kekhawatiran permintaan, valuasi terlalu tinggi, dan potensi pembatasan ekspor, meskipun beberapa analis melihatnya sebagai peluang beli.
Uzone.id – Semenjak maraknya
perusahaan yang nyemplung ke teknologi AI, banyak ahli mengkhawatirkan soal
adanya AI Bubble Burst atau pecahnya gelembung AI atau AI bubble.
Tak butuh lama, fenomena ini pun mulai menjadi kenyataan,
tepatnya di China.
Menurut laporan dari Reuters, Selasa, (03/11), saham
perusahaan teknologi AI di negara tersebut anjlok tajam, bahkan membuat nilai
pasar sekitar USD480 miliar atau setara Rp8.160 triliun menguap dalam waktu
kurang dari empat bulan saja.
Indeks pasar saham China, STAR50 mencatat indeks sejumlah
perusahaan AI dan semikonduktor terkemuka di China telah merosot hingga 40
persen.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa euforia investasi
AI yang selama ini mendorong kenaikan saham teknologi mulai kehilangan
momentumnya.
Fenomena ini dikenal sebagai AI bubble burst, yaitu
kondisi ketika harga saham perusahaan AI yang sebelumnya melonjak tinggi kini
akhirnya jatuh karena dinilai tidak sebanding dengan kondisi bisnis atau
potensi keuntungan yang sebenarnya.
Di China, kekhawatiran terhadap permintaan teknologi AI,
valuasi saham yang terlalu tinggi, hingga potensi pembatasan ekspor peralatan
teknologi menjadi beberapa faktor yang menekan pasar.
Padahal, selama hampir dua tahun terakhir, saham teknologi
China sempat menikmati kenaikan besar berkat antusiasme terhadap AI dan
berbagai stimulus ekonomi dari pemerintah.
Salah satu dari perusahaan yang harus kehilangan nilai saham
tersebut adalah Unitree, perusahaan robotika asal China yang dikenal melalui
pengembangan robot humanoid.
Unitree kehilangan sekitar separuh nilai sahamnya sejak
pertama kali diperdagangkan pada Agustus 2026. Padahal, saat pertama kali masuk
bursa, permintaan saham Unitree dari investor ritel mencapai 8.000 kali jumlah
saham yang ditawarkan.
Produsen chip CXMT juga mengalami nasib serupa. Saham
perusahaan tersebut turun lebih dari 25 persen hanya dalam satu bulan.
Sementara itu, MetaX Integrated Circuits dan Moore Threads Technology yang sebelumnya sempat mencatat lonjakan saham masing-masing sebesar 700 persen dan 400 persen ketika debut di bursa tahun lalu, kini kehilangan sekitar separuh nilainya sejak Juli.
Penurunan lebih tajam dialami Zhongji Innolight dan
Eoptolink Technology. Saham kedua perusahaan pembuat komponen optik tersebut
merosot sekitar 60 persen dari posisi tertingginya pada Juni dan Juli.
Selain karena kekhawatiran terhadap gelembung AI, penurunan saham kedua perusahaan ini juga dipengaruhi langkah Amerika Serikat yang mengarah pada larangan penggunaan produk mereka di pusat data AS.
Meski demikian, tidak semua pihak menganggap kejatuhan saham
AI China sebagai pertanda buruk. Sejumlah analis melihat penurunan harga ini
sebagai kesempatan untuk membeli saham perusahaan teknologi dengan valuasi yang
lebih masuk akal.
Goldman Sachs, misalnya, masih memasukkan Zhongji Innolight
dan CXMT dalam daftar rekomendasi saham AI China yang diterbitkan pada Oktober
2026.
Namun, sebagian investor tetap memilih berhati-hati dan
menunggu harga saham turun lebih jauh sebelum kembali membeli.
FAQ Artikel
Apa itu fenomena AI Bubble Burst?
AI bubble burst adalah kondisi ketika harga saham perusahaan AI yang sebelumnya melonjak tinggi kini akhirnya jatuh karena dinilai tidak sebanding dengan kondisi bisnis atau potensi keuntungan yang sebenarnya.
Di mana fenomena AI Bubble Burst ini mulai terjadi?
Fenomena AI Bubble Burst mulai menjadi kenyataan di China, di mana saham perusahaan teknologi AI anjlok tajam.
Berapa kerugian nilai pasar akibat AI Bubble Burst di China?
Nilai pasar sekitar USD480 miliar atau setara Rp8.160 triliun menguap dari saham perusahaan teknologi AI di China dalam waktu kurang dari empat bulan.
Apa saja faktor yang menyebabkan AI Bubble Burst di China?
Kekhawatiran terhadap permintaan teknologi AI, valuasi saham yang terlalu tinggi, potensi pembatasan ekspor peralatan teknologi, serta langkah Amerika Serikat yang mengarah pada larangan penggunaan produk di pusat data AS adalah beberapa faktor penyebabnya.
Bagaimana tanggapan analis terhadap penurunan saham AI di China?
Sejumlah analis melihat penurunan harga ini sebagai kesempatan untuk membeli saham perusahaan teknologi dengan valuasi yang lebih masuk akal, sementara investor lain memilih untuk berhati-hati dan menunggu harga saham turun lebih jauh.
Vina Insyani
Jurnalis

