AI Meledak 20x Lipat: Kabel Laut Butuh 5 Tahun, Dibayangi Geopolitik
Konektivitas untuk AI meningkat pesat, tapi pembangunan kabel laut lambat dan kapasitasnya cepat habis. Tantangan geopolitik dan rantai pasok menghambat.

Foto: CTIS.id
Highlight Artikel
- Kebutuhan konektivitas untuk mendukung Artificial Intelligence (AI) diprediksi meningkat hingga 10-20 kali lipat, jauh melampaui pertumbuhan kebutuhan data sebelumnya.
- Pembangunan infrastruktur kabel laut yang menjadi tulang punggung konektivitas global membutuhkan waktu sekitar lima tahun, namun kapasitasnya dapat terserap habis dalam waktu kurang dari satu tahun.
- Infrastruktur kabel laut menghadapi tantangan besar dari risiko geopolitik (misalnya konflik di Timur Tengah yang memengaruhi jalur vital seperti Selat Hormuz).
- Perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Meta, Amazon, dan Microsoft kini menjadi pemain utama dalam pembangunan kabel laut, mengambil porsi sekitar 70% dari total proyek, menunjukkan pergeseran peran industri.
Nusa Dua, Bali, Uzone.id – Ledakan kebutuhan artificial intelligence (AI) tidak hanya membutuhkan kapasitas komputasi yang besar, namun juga kematangan infrastruktur konektivitas. Masalahnya, pembangunan jaringan kabel laut yang menjadi salah satu tulang punggung konektivitas global membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan pertumbuhan kebutuhan data.
Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba mengatakan kebutuhan konektivitas untuk mendukung perkembangan AI bisa meningkat berkali-kali lipat dibandingkan sebelumnya.“Untuk kebutuhan compute, kebutuhan connectivity bisa lebih dari 10 kali, bahkan 10-20 kali dibandingkan sebelumnya,” kata Budi pada kesempatan konferensi pers BATIC 2026 di The Westin Hotel, Nusa Dua, Bali, Selasa (25/8).
Menurutnya, kondisi tersebut sudah menjadi realitas seiring semakin masifnya pengembangan data center untuk mendukung kebutuhan AI.
“Kalau kita lihat perkembangan data center di Indonesia untuk mendukung AI, paling tidak ada dua lokasi dengan pertumbuhan yang sangat kuat. Pertama adalah Jakarta. Pengembangan data center di Jakarta sangat masif. Kedua adalah Batam,” jelasnya.
Ia menyambung, “salah satu enabler utama data center tersebut adalah connectivity.”
Persoalannya, pembangunan infrastruktur konektivitas tidak bisa dilakukan secepat pertumbuhan kebutuhan AI. Budi mengatakan pembangunan kabel laut membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Namun, kapasitas yang dibangun bahkan dapat terserap dalam waktu kurang dari satu tahun.
“Kita membangun kabel membutuhkan waktu sekitar lima tahun, tetapi belum sampai satu tahun kapasitasnya sudah habis,” ucapnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan permintaan konektivitas dan kemampuan industri menyediakan kapasitas baru.
Ketika pengembangan AI mendorong kebutuhan compute dan data center semakin besar, kebutuhan konektivitas antardata center maupun konektivitas internasional ikut meningkat.
Bagi Indonesia, persoalan tersebut menjadi semakin penting apabila ingin memanfaatkan pertumbuhan data center sebagai bagian dari ekosistem AI. Data center membutuhkan koneksi berkapasitas besar dan jalur yang andal untuk terhubung dengan jaringan global.
“Kalau Indonesia ingin menjadi pusat pertumbuhan data center untuk mendukung AI, konektivitas globalnya juga harus tersedia,” tekan Budi.
Kabel laut hadapi dua tantangan
Budi mengatakan ada sejumlah faktor yang harus diperhatikan dalam membangun konektivitas global melalui kabel laut. Salah satu yang semakin penting adalah kondisi geopolitik.
Menurutnya, konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi keamanan kabel laut internasional yang melewati kawasan tersebut. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz.
Gangguan terhadap kabel di jalur tersebut dapat berdampak terhadap konektivitas menuju Eropa dan wilayah lainnya. Risiko semakin besar apabila terlalu banyak kabel terkonsentrasi pada jalur yang sama.
“Ketika terjadi perang di kawasan Iran, kita mendengar banyak pembicaraan mengenai kerawanan kabel laut internasional yang melewati Selat Hormuz. Situasi geopolitik di Timur Tengah, Selat Hormuz, maupun Laut Merah juga menciptakan kebutuhan terhadap jalur alternatif,” terang Budi.
Ia melanjutkan, “kalau terlalu banyak kabel terkonsentrasi di satu jalur, lalu terjadi gangguan akibat perang atau faktor lainnya, dampaknya sangat besar.”
Negara-negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, dan negara-negara Asia Selatan biasanya terkoneksi menuju Amerika melalui Eropa. Sekarang, Budi meyakini, mereka bisa mempunyai alternatif.
“Trafik dari Timur Tengah dan Asia Selatan dapat dibawa melalui Indonesia, kemudian langsung menuju Amerika Serikat, baik melalui Hawaii maupun Jepang. Itulah yang sekarang sedang kami bangun,” katanya lagi.
Selain geopolitik, tantangan lain datang dari sisi supply chain. Budi mempertanyakan apakah proses pembangunan kabel yang saat ini membutuhkan waktu sekitar lima tahun dapat dipercepat agar mampu mengikuti pertumbuhan permintaan.
“Kalau saat ini membangun kabel membutuhkan waktu sekitar lima tahun, pertanyaannya apakah proses tersebut bisa dipercepat sehingga pembangunan dapat mengikuti demand,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan konektivitas global dan bukan perkara mudah untuk diselesaikan.
Bukan lagi hanya urusan industri telekomunikasi
Perubahan lain terjadi pada siapa yang membangun infrastruktur kabel laut. Jika sebelumnya pembangunan kabel laut lebih banyak dilakukan perusahaan telekomunikasi, kini raksasa teknologi dunia, atau hyperscaler, juga semakin aktif membangun infrastruktur tersebut.
Google, Meta, Amazon, dan Microsoft menjadi contoh perusahaan teknologi yang ikut berinvestasi dalam pembangunan kabel laut global.
Budi mengatakan porsi kabel yang dibangun oleh perusahaan teknologi besar tersebut meningkat signifikan dibandingkan lebih dari satu dekade lalu.
“Sekitar 2012, porsi kabel yang dibangun pemain-pemain teknologi besar seperti itu hanya sekitar belasan persen. Sekarang sudah sekitar 70 persen,” klaimnya.
Menurutnya, para hyperscaler membangun infrastruktur secara masif. Dalam sejumlah proyek, mereka juga berkolaborasi dengan operator telekomunikasi.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kabel laut kini bukan hanya menjadi infrastruktur bagi industri telekomunikasi. Infrastruktur ini semakin strategis bagi ekosistem cloud, data center, dan AI yang membutuhkan pertukaran data dalam jumlah sangat besar.
Karena itu, kemampuan industri menyediakan kabel laut dalam waktu yang lebih cepat menjadi semakin penting.
“Mereka membangun infrastruktur secara masif dan dalam berbagai proyek juga berkolaborasi dengan operator seperti kami. Karena itu isu supply chain menjadi sangat kritikal dalam mendukung digitalisasi,” tutup Budi.
FAQ Artikel
Mengapa kebutuhan konektivitas meningkat drastis untuk AI?
Ledakan kebutuhan Artificial Intelligence (AI) memerlukan kapasitas komputasi yang sangat besar dan infrastruktur konektivitas yang matang. Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba menyatakan kebutuhan konektivitas untuk mendukung AI bisa meningkat 10-20 kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Apa saja tantangan utama dalam pembangunan jaringan kabel laut?
Pembangunan kabel laut membutuhkan waktu sekitar lima tahun, namun kapasitas yang dibangun dapat terserap dalam waktu kurang dari satu tahun. Selain itu, ada tantangan geopolitik (misalnya konflik di Timur Tengah yang memengaruhi keamanan kabel laut internasional) dan masalah rantai pasok untuk mempercepat proses pembangunan agar sesuai dengan permintaan yang terus tumbuh.
Di mana lokasi pertumbuhan data center AI yang kuat di Indonesia?
Menurut Budi Satria Dharma Purba dari Telkom Indonesia, lokasi dengan pertumbuhan data center yang sangat kuat untuk mendukung AI di Indonesia adalah Jakarta dan Batam, dengan konektivitas sebagai enabler utamanya.
Siapa saja yang kini aktif membangun infrastruktur kabel laut?
Selain perusahaan telekomunikasi, raksasa teknologi dunia atau hyperscaler seperti Google, Meta, Amazon, dan Microsoft kini semakin aktif berinvestasi dalam pembangunan kabel laut global. Porsi kabel yang dibangun oleh perusahaan teknologi besar ini telah meningkat signifikan, mencapai sekitar 70% dibandingkan hanya belasan persen pada tahun 2012.


