
-
Begitu bala tentara Jepang sukses menjebol pertahanan militer Belanda di Ambon, awal 1942, segera Sersan KNIL Gatot Subroto bersama rekan-rekannya melepas seragam KNIL mereka. Tanpa menunggu lama, daripada harus jadi tawanan militer Jepang, mereka angkat kaki dari Ambon dengan sebuah kapal kayu.
Sebelum mendarat di Jawa, rombongan pelarian KNIL itu singgah di Makassar. Kebetulan, tak jauh dari Pelabuhan Makassar, terdapat sebuah makam yang dikeramatkan. Dari pelabuhan, hanya perlu berjalan kaki tak sampai 1 km. Makam itu berada di Kampung Melayu.
“Kesempatan berada di Kota Makassar ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk berziarah ke makam Pangeran Diponegoro,” tulis Moh Oemar dalam Jenderal Gatot Subroto: Pahlawan Nasional (1976).
Di kampung halaman Gatot, di Banyumas, Gatot Subroto, sosok Diponegoro begitu dikagumi. Bahkan orang-orang Jawa yang bergabung dengan KNIL pun juga ada yang keturunan dari pengikut Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830).
“Kunjungan ziarahnya ke makam Pangeran Diponegoro itu didorong pula oleh rasa penghormatannya kepada sang Pangeran.”
Baca juga:

Enam tahun sebelum kematiannya, duka menyelimuti sang Pangeran. Maret 1849, “putra kedua Pangeran Diponegoro yang berusia 14 tahun, Raden Mas Sarkumo, meninggal setelah beberapa waktu sakit. Ia dimakamkan di sebidang tanah kecil milik pemerintah Belanda di Kampung Melayu,” tulis Peter Carey.
“Peristiwa duka ini langsung membuat Pangeran berpikir sejenak agak jauh. Sekarang saat sudah berusia kepala enam, tubuhnya kian lemah oleh penderitaan dan hidup melarat di pengasingan akibat perang, rasanya tinggal menghitung bulan.”
Kepada Gubernur Sulawesi Pieter Vreede Bik, Sang Pangeran meminta, “rencana-rencana ke depan harus dilakukan terhadap diri dan keluarganya. Termasuk di sini memagari makam putranya dengan pagar tembok rendah; menyiapkan di samping pusara itu makam untuk dirinya; membuat rumah bagi istri dan anak-anak serta pembantu-pembantu, berikut sebuah masjid kecil, sehingga ia lebih menikmati kebebasan di sisa hidupnya. Sekalipun ia tidak diizinkan meninggalkan benteng, sebuah kediaman layak tetap perlu disediakan bagi istri dan keluarganya yang masih hidup di Makassar.”
Ajal pun menjemput Sang Pangeran pada 8 Januari 1855, tepat hari ini 163 tahun lalu. Persis saat matahari terbit, pukul 06.30 pagi, Sang Pangeran tutup usia. Menurut Surat keterangan meninggalnya, seperti dikutip Sagimun MD dalam Pahlawan Dipanegara Berjuang (1965), Sang Pangeran meninggal karena “kondisi fisik yang sudah menurun lantaran usia lanjut.”
Peter Carey mengutip beberapa surat kabar seperti Javasche Courant (03/02/1855) dan Niuew Rotterdamsche Courant (02/04/1855), mengenai pemakaman Sang Pangeran. Pemakaman itu dilaksanakan “dengan hak-hak penuh menurut agama Islam dan dengan penghormatan yang pantas sesuai martabatnya yang terlahir sebagai bangsawan...dan sesuai keinginan almarhum, agar ia dimakamkan...dekat pusara putra keduanya Sarkumo.”
Tujuh hari setelah kematian Sang Pangeran, anak istrinya yang tersisa di Makassar menyatakan ingin menetap di Makassar dan mereka ingin tinggal di dekat makam sang Pangeran di Kampung Melayu. Permintaan keluarganya yang di Makassar itu kebetulan tak bertentangan dengan kemauan petinggi pemerintah kolonial yang tak menginginkan keluarganya Diponegoro kembali ke Jawa.
Pemerintah kolonial harus keluar modal agar pihak keluarga Diponegoro itu tetap di Makassar. Peter Carey mencatat, pada 10 Mei 1855 Gubernur Jenderal AJ Duymar van Twist mengeluarkan perintah rahasia bahwa keluarga Diponegoro akan tetap diperlakukan sebagai orang buangan dengan membatasi ruang gerak mereka hanya Makassar saja, tapi mereka menerima tunjangan 6000 gulden yang dibayar melalui keraton Yogyakarta.
Menurut Peter, setelah kematian istri sang Pangeran, Raden Ayu Retnoningsih pada 1885, makam Diponegoro dan putranya dipindahkan ke pemakaman umum diantara Jalan Andalas dan Jalan Irian sekarang. Letaknya masih di Kampung Melayu. Tidak jauh dari rumah keluarga. Sebuah petak lahan pemakaman pribadi ditandai pagar tembok rendah di dalam komplek pemakaman umum itu. Makam Diponegoro berdampingan dengan istri setianya itu. Makam Sang Pangeran itu pernah dikira sebagai: Kuburan Sultan Jawa.
Sosok Pangeran Diponegoro secara tak langsung mewarnai kehidupan karier Sersan KNIL Gatot Subroto. Kira-kira 6,5 tahun setelah ziarahnya ke makam Pangeran Diponegoro, Gatot jadi seorang kolonel, lalu memimpin Panglima di Jawa Tengah yang bernama Diponegoro sejak 1948.
Di tahun 1952, atau 10 tahun setelah ziarahnya di Makam Diponegoro itu, Gatot Subroto ditunjuk sebagai Panglima Tentara dan Teritorium yang menguasai Sulawesi dan Indonesia Timur (Wirabuana). Saat itu pula, Gatot Subroto menginjakkan kaki lagi di kota yang menjadi tempat akhir perjalanan hidup sang Napoleon van Java.
Baca juga artikel terkait PANGERAN DIPONEGORO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi