
Uzone.id – Melestarikan budaya bisa melalui banyak cara, termasuk teknologi. Hal ini yang dilakukan Muhammad Naratama Memontifada Krismawan bersama timnya lewat aplikasi Aksaraya, sebuah platform belajar sekaligus keyboard digital untuk Aksaraya Jawa.
Awalnya proyek ini lahir dari tugas akhir saat kuliah pada 2020. Kemudian berlanjut ‘diseriusin’ karena ada kesulitan belajar aksara Jawa, khususnya untuk daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang memang masih ada pembelajaran muatan lokal dan bahasa daerah.
“Dulu bebas memilih tema apa saja untuk tugas. Tim kami memang asli orang Jawa semua, dan akhirnya memilih untuk menyasar bidang pendidikan,” ungkap Naratama sebagai salah satu founder sekaligus Product Manager Aksaraya saat diwawancara beberapa media termasuk Uzone pada Kamis (15/8).
Ia melanjutkan, “Di Indonesia mungkin penggunaan aksaranya berbeda seperti di Thailand. Di sana ‘kan menjadi identitas, kalau di sini cuma di Yogyakarta. Lalu kita ada inisiatif untuk mendukung muatan lokal pembelajaran SD dan SMP, jadi ya bikin aplikasi ini.”
Aksaraya terpilih masuk program Catalyst, sebuah inisiatif dari Apple Developer Academy untuk mendukung aplikasi digital agar siap menjadi startup. Dari program ini, tim mendapat pendampingan soal marketing, akses pendanaan, hingga jalur agar bisa masuk ke App Store secara resmi.
“Tahun kedua kami terpilih untuk mendapatkan akses pendanaan dari Apple dan dari situ go through market,” lanjut Naratama.
Skeptis, lalu tembus 100 ribu download
Saat dikembangkan pada 2020, tim sempat skeptis karena penggunaan aksara sehari-hari dianggap sangat niche. Namun, saat bergabung ke Apple Academy di Batam untuk pendampingan, mereka akhirnya tergerak untuk fokus mengembangkan Aksaraya di platform iOS.
Hasilnya pun mengejutkan: Aksaraya sudah diunduh hampir 100 ribu kali, dengan banyak pengguna yang menanti update berikutnya. Bahkan, yang awalnya ditargetkan untuk siswa, kini mayoritas yang mengunduh usia 20 tahun ke atas.
Untuk memastikan akurasi, tim Aksaraya aktif berdiskusi dengan komunitas aksara di Jawa, guru SMA, hingga mengikuti Kongres Aksara. Nama seperti Setia Amrih, praktisi aksara Jawa, ikut menjadi rujukan penting dalam pengembangan keyboard.
“Modul muatan lokal di sekolah ‘kan hampir nggak pernah diperbarui. Cara belajarnya masih sama seperti 20 tahun lalu. Anak-anak jadi kurang tertarik. Nah, kami ingin bikin mereka engage lewat aplikasi ini,” kata Naratama.
Selain modul pembelajaran interaktif, Aksaraya juga menghadirkan keyboard khusus Aksara yang membuat pengguna bisa mengetik aksara langsung di iPhone, dari pesan WhatsApp sampai copy-paste untuk bio Instagram.
Pengembangannya pun tidak sebentar. Dari project akhir butuh waktu dua bulan, lalu enam bulan tambahan untuk menyempurnakan keyboard agar mulus dipakai.
“Teknologinya sebenarnya sudah ada, tapi standarisasi dan guiding resource yang lumayan makan waktu,” jelas Naratama.
Aplikasi ini pernah masuk kategori Education Top 50 di App Store Indonesia dengan rating 4.6/5. Bisa dibilang, pengguna yang memanfaatkan Aksaraya tak cuma untuk belajar, namun juga kebutuhan sehari-hari maupun sekadar gaya di media sosial.
“Big honor banget, karena Apple menyorot aplikasi ini pas 17 Agustusan. Ini menjadi semangat baru, karena kami mau bikin Aksaraya lebih luas, tujuannya untuk membantu komunitas melestarikan Aksara Indonesia,” ujar Naratama.
Harapan lebih besar
Rencananya, metode belajar Aksaraya akan digarap lebih fun, mirip Candy Crush atau Duolingo dengan level dan tantangan gamifikasi.
Selain itu, Aksaraya juga sedang dalam proses seleksi pendanaan dari Kementerian Kebudayaan Indonesia. Harapannya, aplikasi ini bisa dipakai lebih luas, bahkan terintegrasi dengan museum nasional lewat teknologi AI untuk membaca transkrip kuno, termasuk Sanskerta.
Menurut Naratama, teknologi bisa menjadi cara efektif menjaga budaya.
“Sekarang aksara memang jarang dipakai. Tapi kalau dibawa ke dunia digital, kita bisa bikin konten pakai aksara daerah, sekaligus meningkatkan awareness dan rasa bangga kedaerahan,” tutupnya.