5 Teknologi untuk Cegah Banjir dari Berbagai Negara

pada 6 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id –Banjir yang melanda Pulau Sumatra kembali mengingatkan akan pentingnya inovasi teknologi untuk mengurangi dampak bencana. Sistem drainase dan kampanye kebersihan lingkungan—mungkin—tidak lagi cukup untuk mencegah banjir.

Sejalan dengan tantangan yang ada, banyak negara telah mengadopsi solusi rekayasa sipil dan sistem cerdas yang mutakhir untuk mencegah dan memitigasi banjir.

Adopsi teknologi ini penting untuk mencegah kerusakan yang lebih besar, menekan angka kematian, dan meminimalkan jumlah korban terdampak.

G-Can (Jepang)

Tokyo merupakan wilayah yang sangat rawan dilanda banjir saat musim hujan dan topan melanda. Memahami risiko besar tersebut, Pemerintah Jepang mengambil langkah mitigasi lewat pembangunan Tokyo Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel atau G-Cans.

Pembangunan proyek G-Cans membutuhkan waktu delapan tahun untuk diselesaikan. Secara fungsional, proyek ini berfungsi untuk mencegah luapan kanal dan sungai saat Jepang diterpa badai sehingga jalanan dan kawasan Tokyo dapat terhindar dari banjir.

Secara teknis, air hujan atau luapan sungai akan dialirkan dan memasuki silo penampung di bawah tanah, kemudian ditampung di tangki penampung akhir. Tangki ini memiliki tinggi 25,4 meter, panjang 177 meter, dan lebar 78 meter, serta ditopang oleh 59 tiang beton raksasa.

Untuk membuang air yang tertampung, sistem drainase ini dilengkapi dengan 78 unit pompa berkekuatan masing-masing 10 Megawatt. Pompa berkekuatan total 780 MW tersebut mampu membuang hingga 200 ton air per detik langsung menuju Sungai Edo yang bermuara ke Pelabuhan Tokyo.





Thames Barrier (Inggris)

Thames Barrier merupakan penghalang banjir sepanjang 520 meter. Struktur Thames Barrier sendiri terdiri dari sepuluh gerbang baja yang masing-masing memiliki berat 3.300 ton.

Gerbang-gerbang tersebut berfungsi untuk melindungi wilayah pusat kota London seluas 125 kilometer persegi dari banjir pasang surut air laut. Ketika terjadi pasang surut yang tinggi atau adanya gelombang badai, gerbang baja Thames Barrier akan dinaikkan hingga mencapai ketinggian setara gedung lima lantai.

Menilik dari sejarahnya, Thames Barrier pertama kali dibuka tahun 1984 dengan durasi waktu pengerjaan selama delapan tahun. Pembangunan tameng gini menelan biaya sekitar sekitar £1,6 miliar atau setara dengan Rp 35,2 triliun.

Stormwater Management and Road Tunnel (Malaysia)

Stormwater Management and Road Tunnel atau yang disingkat SMART adalah terowongan sepanjang 9,7 kilometer yang terletak di Kuala Lumpur. Keunikan dari infrastruktur ini terletak pada fungsi gandanya.

Jadi, ketika cuaca cerah, terowongan ini dimanfaatkan sebagai jalan untuk kendaraan dalam upaya mengurangi kemacetan. Namun, ketika musim hujan tiba dan debit air meningkat drastis, SMART akan beralih fungsi sebagai saluran raksasa untuk mengalihkan dan membuang air hujan.

Terowongan SMART ini turut diakui sebagai terowongan serbaguna terpanjang di dunia. Berkat pengelolaan inovatif dan unik terhadap air badai dan lalu lintas jam sibuk, terowongan ini bahkan sempat menerima penghargaan UN-Habitat Scroll of Honour Award pada tahun 2011.





Delta Works (Belanda)

Pemerintah Belanda menyadari bahwa evakuasi skala besar bukanlah pilihan realistis untuk melindungi wilayah Holland Selatan yang padat penduduk dari ancaman badai. Dari permasalahan mendasar inilah yang kemudian melahirkan proyek raksasa Delta Works di barat daya Belanda.

Delta Works sendiri adalah serangkaian proyek konstruksi masif yang bertujuan utama melindungi wilayah di sekitar delta Sungai Rhine-Meuse-Scheldt dari laut. Proyek ini terdiri dari berbagai komponen rekayasa sipil, termasuk bendungan, pintu air, tanggul, dan penghalang gelombang badai yang mutakhir.

Melalui proyek ini, pemerintah Belanda tidak hanya memastikan perlindungan wilayah dari ancaman banjir air asin, tetapi juga berhasil melindungi pasokan air bersih bagi jutaan penduduk setempat.

Selain itu, proyek Delta Works secara signifikan meningkatkan konektivitas regional dengan menciptakan banyak jalan baru dan jembatan penghubung yang dibangun langsung di atas bendungan dan tanggul yang baru didirikan.

Di luar kontribusi infrastruktur, proyek ini juga menyumbangkan hasil penelitian yang revolusioner. Komisi Delta Works mempelopori sebuah kerangka kerja ilmiah baru.

Jadi, alih-alih hanya menganalisis banjir di masa lalu, laporan tersebut justru berfokus pada perhitungan dan perancangan sistem pertahanan banjir yang adaptif untuk masa depan.

Modulo Sperimentale Elettromeccanico (Italia)

Kota Venesia di Italia terus dihantui ancaman serius dengan naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global dan penurunan permukaan air tanah yang menyebabkan daratan tenggelam.

Untuk melindungi kota bersejarah ini agar tidak tenggelam, pemerintah Italia kemudian membangun sebuah sistem rekayasa sipil raksasa yang dikenal sebagai Modulo Sperimentale Elettromeccanico atau MOSE.

Proyek MOSE ini membangun sistem penghalang banjir yang bekerja secara elektromekanikal. Sistem utamanya terdiri dari tujuh puluh sembilan gerbang modular yang dipasang di mulut lagoon Venesia.

Gerbang-gerbang ini akan terangkat dan menutup secara otomatis ketika terdeteksi gelombang pasang yang tinggi, dan akan terbuka kembali saat permukaan air laut di sisi luar sudah mulai menurun.

Selain membangun penghalang, pemerintah juga membangun infrastruktur pendukungnya termasuk perlindungan pantai, perbaikan lingkungan lagoon, dan perbaikan tanggul.