AI Fraud Serang Sektor Enterprise, Cuma 11 Persen Perusahaan yang Siap

Uzone.id— Indosat OoredooHutchison mengungkap fenomena serangan siber berbasis AI yang saat ini terusberkembang dan menargetkan perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Hal ini dikemukakan dalamwhitepaperbertajuk “ABusiness-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience” yang dirilisIndosat Ooredoo Hutchison bersama pakarcybersecurity, Charles Lim, padaSenin, (11/05).
Dalamwhitepapertersebut, peningkatan AI-relatedfraud terus berkembang semakin kompleks, termasuk penggunaan deepfake dan AIvoice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.
Whitepaperini mencatat peningkatanAI-relatedfraudhingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Tak hanya itu darisekian banyak perusahaan yang ada di Indonesia, hanya sekitar 11 persen yangdinilai siap untuk menghadapi ancaman keamanan siber modern seperti berbasis AIini.
Sementara itu, rata-rata kerugian akibat kebocoran data diIndonesia tercatat mencapai sekitar Rp15 miliar setiap tahunnya.
Ketidaksiapan para perusahaan menghadapi ancaman siber yangsemakin kompleks ini pun termasuk dalam fenomena “resilience gap”, yaitukondisi ketika laju transformasi digital berkembang jauh lebih cepat dibandingkesiapan organisasi dalam membangun ketahanan siber.
Untuk mengatasi fenomena ini, Indosat menghimbau perusahaandiminta menjadikan cybersecurity sebagai prioritas strategis level direksi (board-levelstrategic priority), bukan sekadar urusan teknis IT.
Muhammad Buldansyah, Director & Chief Business OfficerIOH juga menghimbau setiap perusahaan memiliki ketahanan siber yang memadai.
“Indonesia sedang memasuki fase baru ekonomi digital, namunpertumbuhan digital juga harus diiringi dengan ketahanan siber yang memadai.Hari ini,cyber resiliencebukan lagi isu teknologi semata, tetapifondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” kata Muhammad Buldansyah,Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Senin,(11/05).
Dr. Ir. Charles Lim, Deputy Head of Master IT program, SwissGerman University pun menyatakan hal yang sama, bahwa perlu adanya ketahanansiber untuk menghadapi ancaman siber saat ini berkembang jauh lebih cepat dansemakin sulit dideteksi, terutama dengan munculnya AI-enabled fraud dandeepfake.
“Organisasi perlu beralih dari pendekatan yang reaktifmenujucyber resilienceyang lebih adaptif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Salah satu yang diusulkan dalam whitepaper ini adalah denganmengadopsi National Institute of Standards and Technology CybersecurityFramework (NIST CSF).
Framework ini dinilai fleksibel dan relevan karena tidakhanya berfokus pada checklist teknis keamanan, tetapi juga menjadi panduanmanajemen risiko siber yang selaras dengan kebutuhan bisnis.
Ada 6 fungsi utama dalam framework ini, yaitu Govern,Identify, Protect, Detect, Respond, dan Recover.
Keenam fungsi tersebut membantu perusahaan membangun sistemkeamanan yang lebih adaptif, mulai dari menyusun strategi keamanan, mengenalirisiko, melindungi data, mendeteksi ancaman, merespons serangan, hinggamemulihkan sistem setelah insiden terjadi.
Indosat juga memberikan penjelasan mengenai strategi sepertiZero Trust Architecture dan Human Firewall yang mengulas tantangan ketahanansiber lintas sektor strategis Indonesia, termasuk finansial, manufaktur,pemerintahan, dan pendidikan.
Diharapkan dengan adanya whitepaper ini, perusahaan diIndonesia bisa melihat ketahanan siber sebagai bagian integral dari strategitransformasi digital dan daya saing bisnis jangka panjang.