Ambisi Internet 100 Mbps Merata: Kuncinya Ada di Infrastruktur

Uzone.id –Progres peningkatan kecepatan internet dengan target 100 Mbps di Indonesia terus menjadi sorotan. Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) mengusulkan agar parameter pengukuran kecepatan perlu diklasifikasikan secara jelas.
“Usulan ATSI pengukuran parameter pada speed test atau kecepatan hendaknya diklasifikasi untuk pemula, untuk medium, mobile broadband, dan big broadband. Sehingga Indonesia bisa melihat speed itu berbeda-beda, tidak digabung menjadi satu,” ungkap Marwan O. Basyir selaku Direktur Eksekutif ATSI saat ditemui awak media di Jakarta, Senin (29/9).
Klasifikasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat dan terperinci mengenai progres pencapaian target 100 Mbps di berbagai segmen pengguna.
“Speedkita kelihatannya seperti jelek, ya kan? Padahal di daerah-daerah yang sudah diupayakan anggota ATSIspeed-nya sudah sangat tinggi. Misalnya di beberapa kota yang berdekatan dengan kota pendukung Jakarta, itu ada yang sudah sampai 100 Mbps sangat tinggi. Untuk itu klasifikasi perlu dilakukan karena pengguna Indonesia banyak pengguna pemula,” ungkap Marwan.
Di sisi lain, progres pencapaian kecepatan 100 Mbps di Indonesia dipengaruhi oleh dua teknologi layanan utama, yakni internet seluler dan fixed internet yang menggunakan jaringan fiber optic. Sayangnya, pencapaian target ini juga terhambat oleh tantangan soal pemerataan infrastruktur.
“Kalau kita lihat sekarang kan internet itu bisa di-serve atau bisa dilayani memakai teknologi ya, seluler. Yang kedua adalah fixed internet atau memakai jaringan fiber optic gitu. Kalau kami lihat ini, sekarang sebagai ATSI, bahwa infrastruktur Indonesia ini masih belum rata ya. Jadi masih dalam proses pengembangan, terutama pengembangan untuk di luar Jawa,” jelas Dian Siswarini selaku Ketua Umum ATSI.
Pembangunan infrastruktur telekomunikasi di luar Jawa menjadi lebih mahal dikarenakan infrastruktur dasar (basic infrastructure) yang memang masih belum merata.
Infrastruktur dasar ini, seperti ketersediaan jaringan listrik (power grid) dan perangkat transportasi, masih memerlukan biaya yang jauh lebih tinggi untuk disiapkan dibandingkan dengan kota-kota besar yang sudah lebih maju.
Dian juga menjelaskan, untuk mencapai kecepatan 100 Mbps secara optimal, diperlukan fasilitas fiber optic yang mumpuni, tidak hanya pada backbone (jaringan utama) tetapi juga pada jaringan akses yang langsung menuju ke pengguna.
“Dan, di dalam memberikan layanan yang sedemikian prima tersebut 100 Mbps, setiap operator itu harus mempertimbangkan cost structure, karena kalau kita lihat 100 Mbps itu memerlukan infrastruktur yang luar biasa dari sisi kapasitasnya. Sedangkan kami juga harus mempertimbangkan spending power atau affordability dari masyarakat untuk mendapatkan akses internet yang seperti itu,” ungkap Dian.
Lanjutnya, “Jadi dua hal tadi ya, kalau ini disalurkan mengenai fiber optic tadi, bahwa bagaimana operator ini mendapatkan cost structure yang lebih baik. Kedua, kalau ini akan diberikan layanan ini melalui seluler tentu memerlukan perangkat 5G, karena memberikan layanan 100 Mbps dengan spektrum yang ada sekarang di 4G itu masih belum cukup,” tutup Dian.