Amerika Gaungkan Penolakan Terhadap Mobil China!

Uzone.id-Industri otomotif Amerika Serikat (AS) berada dalam kondisi siaga tinggi menjelang pertemuan krusial antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026.
Sebuah koalisi besar dari produsen mobil, pemasok komponen, serikat pekerja, hingga anggota parlemen dari dua partai utama (Demokrat dan Republik) mendesak Trump agar menutup pintu pasar domestik AS bagi produsen mobil China.
Desakan kolektif ini muncul sebagai respons langsung atas pernyataan Trump sebelumnya di Detroit Economic Club, di mana ia menyambut baik investasi otomotif China untuk membangun pabrik dan mempekerjakan tenaga kerja lokal di AS.
“Saya suka itu. Biarkan China masuk, biarkan Jepang masuk,” ujar Trump, dikutip dari Reuters.
Pernyataan ini langsung memicu kekhawatiran serius di Negeri Paman Sam, yang selama ini konsisten mendorong pengetatan mobil China melalui tarif tinggi dan aturan keamanan data kendaraan.
Ancaman Ganda: Harga Murah dan Dukungan Negara
Koalisi industri AS menilai produsen China bukan sekadar pesaing biasa. Mereka didukung oleh sokongan pemerintah yang besar, memiliki kapasitas produksi yang masif, teknologi kendaraan listrik (EV) yang semakin maju.
Dan yang tidak kalah penting, kemampuan menjual produk dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan merek global lainnya.
Kombinasi faktor ini dikhawatirkan dapat mengganggu industri otomotif lokal dan melemahkan basis manufaktur AS.
Kekhawatiran ini berlandaskan pada pengalaman di pasar global, terutama Eropa dan Meksiko, di mana merek mobil China telah meningkatkan pangsa pasar secara signifikan:
- Eropa: Pangsa pasar merek mobil China naik menjadi 6 persen pada tahun lalu. Di beberapa negara, dominasinya lebih terasa, seperti Norwegia (14 persen), Inggris (11 persen), dan Italia serta Spanyol (9 persen).
- Meksiko: Sebanyak 34 merek China kini menguasai sekitar 15 persen pasar otomotif nasional.
Harga menjadi daya tarik utama. Ketika harga rata-rata mobil baru di AS mencapai 51.000 dollar AS (sekitar Rp 837 juta), Geely EX2 EV di Meksiko dijual mulai dari 22.700 dollar AS (sekitar Rp 372 juta)—jauh di bawah Tesla Model 3 di AS yang mencapai 38.630 dollar AS.
David Christ, Manajer Divisi Toyota Motor North America, mengakui bahwa harga jual yang terlampau rendah ini mengindikasikan adanya "tingkat dukungan pemerintah tertentu."
RUU Keamanan Data dan Penolakan Bipartisan
Selain ancaman ekonomi, isu keamanan nasional juga menjadi sorotan tajam. Mobil China dinilai berpotensi besar untuk mengumpulkan data pengguna sensitif.
Menanggapi hal ini, Senator Demokrat Elissa Slotkin dan Senator Republik Bernie Moreno dari Ohio berkolaborasi mendukung Rancangan Undang-Undang (RUU) bernama Connected Vehicle Security Act.
RUU ini bertujuan melarang kendaraan China beredar di AS karena potensi pengumpulan data, sekaligus memperkuat aturan pembatasan yang telah diberlakukan pada era Presiden Joe Biden.
Senator Slotkin bahkan secara terbuka meminta Presiden Trump untuk menahan diri. “Jangan membuat kesepakatan yang buruk,” tegasnya, merujuk pada kesepakatan dengan Xi Jinping yang dapat membuka jalan investasi bagi China.
Berbagai asosiasi industri, dari produsen lokal hingga merek asing, kompak mengirimkan surat resmi yang menyebut ambisi China mendominasi industri otomotif global sebagai "ancaman langsung bagi daya saing industri, keamanan nasional, dan manufaktur otomotif Amerika".
Wakil Presiden Information Technology and Innovation Foundation (ITIF), Stephen Ezell, menambahkan bahwa dampak ekonomi dan keamanan nasional akan "sulit dibalikkan" jika perusahaan China berhasil tertanam di pasar AS.
Meskipun Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer memastikan bahwa sektor otomotif bukan agenda utama dalam pertemuan mendatang dan tidak ada rencana untuk mengubah aturan connected car.
Namun kekhawatiran industri AS tetap tinggi bahwa Trump sewaktu-waktu akan membuka peluang baru demi meningkatkan produksi kendaraan di dalam negeri.