Bukan Cuma Smart City, Indonesia Perlu Wise City?

Uzone.id— Gagasan kota pintar atau smart city sudah lama menjadi mantra pembangunan di banyak daerah Indonesia. Kamera pintar dipasang di persimpangan, aplikasi layanan publik bermunculan, data kota dikumpulkan dan dianalisis. Semua tampak modern, efisien, dan futuristis. Lalu muncul pertanyaan sederhana: apakah itu sudah cukup?
Kegelisahan ini yang mendorong Guru Besar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Wakhid Slamet Ciptono, mengembangkan sebuah pendekatan baru bernama Smart and Wise City.
Sesuai namanya, konsep pembangunan kota yang dimaksud adalah tak hanya mengejar kecanggihan teknologi, tetapi juga menempatkan kebijaksanaan, nilai budaya, dan kemanusiaan sebagai fondasi utamanya.
“Smart city is necessary, but not sufficient without wise city.Kota cerdas itu penting, tetapi belum cukup jika tidak digabungkan dengan kota yang beradab,” ujar Prof. Wakhid, dikutip dari situs resmi UGM.
Menurut Prof. Wakhid, banyak konsep smart city hari ini terlalu menonjolkan aspek teknologi: sensor, big data, AI, dan otomasi. Padahal, kota bukan sekadar sistem digital, melainkan ruang hidup manusia dengan nilai, budaya, dan relasi sosial yang kompleks. Di sinilah konsep wise city masuk.
Ia menilai wise city berada di tingkat yang lebih tinggi karena tidak hanya bertumpu pada knowledge management, tetapi juga pada meta-knowledge, yakni kebijaksanaan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari pembangunan.
“Smart dan wise itu seperti dua sisi koin, tidak bisa dipisahkan. Smart tanpa wise akan kehilangan adab, sementara wise tanpa smart akan tertinggal,” jelasnya.
Berangkat dari nilai Pancasila
Yang membuat konsep ini terasa sangat Indonesia adalah pijakan filosofisnya. Prof. Wakhid mengaitkan wise city dengan sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Menurutnya, derajat manusia tertinggi adalah ketika ia adil dan beradab. Maka, kota yang benar-benar maju bukan hanya kota yang cepat dan digital, tetapi juga kota yang menjunjung nilai kemanusiaan.
Ia menegaskan bahwa pendekatan ini bukan untuk “mengubah” karakter kota.
“Ini tidak akan mengubah Jogja, justru mengembalikan jati diri Jogja yang istimewa seperti unggah-ungguh, sopan santun, dan mendahulukan kewajiban asasi manusia sebelum hak,” ujarnya.
Yogyakarta sebagai ‘laboratorium’ wise city
Untuk menguji konsep tersebut, tim peneliti memilih Yogyakarta sebagai lokasi studi kasus. Kota ini dinilai cocok karena kaya akan nilai budaya dan kearifan lokal.
“Jogja itu miniatur Indonesia,” kata Prof. Wakhid.
Penelitian ini dilakukan bersama Tri Wahyuningsih, mahasiswa bimbingannya di Program Studi Magister Sains Manajemen FEB UGM, serta Prof. Joe Ravets dari The University of Manchester, penulis buku Smart and Wise City.
Metode yang digunakan bersifat kualitatif. Tim melakukan wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) dengan 29 narasumber lintas lapisan: mulai dari wakil gubernur, wali kota, pejabat pemerintah daerah, hingga perwakilan masyarakat dari berbagai asosiasi.
Pendekatan ini dipilih untuk menangkap makna “kota bijak” dari berbagai perspektif, bukan hanya dari sudut pandang birokrasi atau akademisi.
Sempat ditolak
Menariknya, perjalanan riset ini tidak langsung mulus. Naskah awal penelitian sempat ditolak oleh jurnal internasional bereputasi karena dianggap terlalu konseptual dan belum cukup kuat secara empiris.
Alih-alih patah semangat, tim justru menjadikan kritik itu sebagai bahan bakar.
Mereka memperkuat metodologi, memperkaya data lapangan, dan mematangkan kerangka teorinya.
“Setelah publikasi, kami akan sampaikan ke UGM, lalu ke Pemerintah Daerah DIY,” kata Prof. Wakhid.
Saat ini, tim menargetkan publikasi di jurnal internasional bereputasi Q1 sebagai pijakan awal sebelum konsep Smart and Wise City diimplementasikan lebih luas.
Tanpa menargetkan apa pun, tim peneliti juga mengajukan karya tersebut dalam skema internal UGM. Hasilnya di luar dugaan.
Konsep Smart and Wise City mendapat apresiasi dalam Anugerah Insan Berprestasi UGM 2025 kategori Penelitian Kolaboratif Tema Ketangguhan Sosial Budaya Masyarakat.
“Kami tidak pernah punya tujuan mendapat penghargaan. Semata-mata ingin menyampaikan ide, tetapi ternyata ide ini bisa ditangkap dan dipahami oleh parareviewer,” ungkap Prof. Wakhid.
Di tengah derasnya adopsi AI, kamera pengawas, dan sistem digital di kota-kota besar Indonesia, gagasan wise city terasa makin relevan.
Teknologi bisa membuat layanan publik lebih cepat. Tapi tanpa kebijaksanaan, teknologi juga bisa memperlebar kesenjangan, mengikis privasi, dan menjauhkan kota dari warganya sendiri.
Menutup pernyataannya, Prof. Wakhid berharap konsep Smart and Wise City bisa menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia.
“Kalau sudah adarole model-nya, silakan dikembangkan ke kota lain,” pungkasnya.