Demam AI Ancam Industri Otomotif, Harga Mobil Bisa Ikut Naik

Uzone.id- Lonjakan kebutuhan chip memori untuk mendukung pusat data (data center) kecerdasan buatan alias AI ternyata mulai bikin cemas berbagai sektor industri di Amerika Serikat. Sejumlah kelompok industri, dari otomotif, ritel, elektronik, sampai perangkat medis, sudah kasih peringatan.
Dalam surat yang dikirim kepada Departemen Keuangan dan Departemen Perdagangan AS, kelompok industri tersebut menyebut meningkatnya permintaan chip memori untuk kebutuhan AI telah menciptakan tekanan besar terhadap ketersediaan komponen tersebut di pasar.
Kalau tidak segera ditangani, mereka menilai kondisi ini bisa bikin harga barang-barang melonjak drastis dalam waktu dekat.
Beberapa organisasi besar yang ikut tanda tangan di surat itu antara lain Alliance for Automotive Innovation (wakil produsen kendaraan besar di AS), National Retail Federation, Medical Device Manufacturers Association, NCTA, sampai Telecommunications Industry Association.
Menurut mereka, pusat data AI kini menyerap porsi besar kapasitas produksi chip memori global. Efeknya? Harga chip memori mengalami lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara jatah buat industri manufaktur dan barang konsumsi semakin terbatas.
Dampaknya sudah mulai terasa di mana-mana. Selain bikin harga gadget dan perangkat IT naik, biaya bangun infrastruktur telekomunikasi juga ikutan mahal.
Industri otomotif pun nggak luput dari risiko. Keterbatasan pasokan chip memori dikhawatirkan dapat mengganggu produksi kendaraan, sebagaimana sempat terjadi saat krisis semikonduktor global beberapa tahun lalu.
Kelompok industri tersebut juga memperingatkan bahwa pasokan perangkat medis dan berbagai produk manufaktur lainnya dapat ikut terdampak apabila kelangkaan chip memori terus berlanjut.
Apalagi sebelumnya,Reuterspada Desember lalu melaporkan bahwa perusahaan AI dan produsen elektronik konsumen mulai bersaing memperebutkan pasokan chip memori yang semakin terbatas.
Krisis ini juga berimbas ke pasar smartphone. Counterpoint Research memprediksi pengiriman smartphone dunia bakal turun 13,9 persen tahun ini jadi sekitar 1,08 miliar unit saja. Penurunan tersebut salah satunya dipicu memburuknya pasokan chip memori.
Kabarnya, segmen yang paling terdampak adalah smartphone kelas entry level karena produsen chip lebih memprioritaskan kapasitas produksinya untuk kebutuhan AI yang dinilai memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.