Grab dan Ovo Amankan Data Pengguna Lewat Edukasi hingga AI

pada 7 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id— Saat ini,masyarakat tidak bisa lepas dari layanan digital, mulai dari pesan makan,transportasi, hingga transaksi keuangan. Semakin banyak layanan digital yangdigunakan, semakin lebar pula resikonya, khususnya soal keamanan data pribadi.

Terkait hal tersebut, gelaran GRACS IPSS 2025 yang disokongoleh Grab Indonesia dan Ovo mengambil topik tersebut sebagai salah satufokusnya. Konferensi ini juga turut membahas permasalahan lain termasuk tatakelola, keamanan siber, privasi, dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) diIndonesia.

Memiliki tema“Trust by Design: Privacy, Security, and AIGovernance for the Future”, acara ini dihadiri ratusan peserta dariberbagai sektor dengan tujuan bahwa kepercayaan digital perlu dibangun sejakawal, bukan setelah masalah terjadi.




Seperti yang disampaikan sebelumnya, dengan semakinbanyaknya aktivitas digital, data pribadi menjadi salah satu aset palingrentan. Mulai dari nomor telepon, lokasi perjalanan, hingga pola transaksi,semua tersimpan di berbagai aplikasi.

Itu sebabnya, keamanan digital tidak lagi hanya urusanpemerintah atau perusahaan teknologi besar, tetapi menyangkut kehidupanpengguna setiap hari.

Menurut CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, keamanan digitalmerupakan tanggung jawab kolektif yang memerlukan sinergi dari semua pihak,seperti pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat.

“Kita perlu bergerak bersama untuk memastikan setiap inovasiyang lahir tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi, tetapi juga menjunjungtinggi aspek keamanan, etika, dan kepentingan publik,” katanya. 

Ia melanjutkan, “Dengan kolaborasi lintas sektor yang kuat,kita dapat membangun ekosistem digital yang lebih aman, tangguh, danberkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.”

Neneng pun menegaskan bahwa Grab Indonesia terus memperkuatperlindungan data dan pencegahan penipuan digital melalui beberapa langkah.

“Mulai dari edukasi pengguna dan mitra terhadap praktikkeamanan daring, peningkatan sistem deteksi fraud berbasis AI, hingga kerjasamastrategis dengan regulator dan lembaga penegak hukum untuk memperkuatperlindungan data serta mencegah kejahatan siber,” jelas Neneng.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan transaksi daninteraksi dalam platform tetap aman. Hal ini penting karena ancaman digitalseperti akun dibajak, phising, dan penipuan di aplikasi transportasi ataudompet digital masih sering terjadi.

AI juga menjadi teknologi yang perlu diperhatikan saat ini,Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria yang hadir dalam acara ini,menekankan perlunya penggunaan AI yang aman dan bertanggung jawab.

“Indonesia saat ini memiliki pasar digital terbesar diAsia Tenggara, dan kepemimpinan nasional telah membuat peta jalan pemanfaatanAI. Namun, kita harus memastikan penggunaan AI ini aman mulai dari desain,”katanya.




Ia juga menyebut bahwa hal ini perlu inovasi, partisipasi,mitigasi risiko, dan komitmen untuk AI yang bertanggung jawab. 

Sebagai salah satu platform ride-hailing yang banyakdigunakan di Indonesia, Grab Indonesia pun menegaskan pentingnya kolaborasilintas sektor untuk menghadapi ancaman siber.

Gelaran GRACS IPSS 2025, ISACA Indonesia Chapter bersamadengan Grab Indonesia dan Ovo ini diharapkan bisa memperkuat kolaborasi antarapemerintah hingga masyarakat untuk mendukung ekosistem digital yang aman.