Hati-hati, Hacker Gampang Bobol Data Kalau Kita ‘Seragamin’ Password

pada 5 tahun lalu - by

 (Ilustrasi: Forbes)

Uzone.id —Mungkin gak pernah terpikirkan sebelumnya, kalau aktif di dunia internet tandanya kita juga harus melatih daya ingat otak. Ya mau gimana lagi, di mana-mana butuhpassword!

Sadar kalau apa-apa pakaipassword, rasanya lumrah jika netizen memilih untuk menggunakan password yang sama untuk berbagai layanan digital.Ribet banget kalau tiap situs harus pakai password berbeda, pasti gitu ‘kan mikirnya?

Sayangnya, cara berpikir seperti itu harus diubah-ubah nih,gaes.

Ada studi terbaru dari Google yang mengungkap bahwa data dan identitas pengguna internet lebih mudah dicuri hacker kalau kita menggunakanpasswordyang sama untuk banyak situs atau layanan digital.

Kita semua sadar bahwa semakin banyak kasus yang menimpa perusahaan yang diretas dan berujung alamat email danpasswordpengguna jadi bocor ke publik. 

Baca juga:Google Mau Kurangi PenggunaanPassword

Kredensial aktivitaslog-inini kemudian digunakan secara rutin oleh peretas untuk membobol akun kita. 

Ancaman seperti ini kemudian kerap diupayakan oleh banyak situs yang mendorong pengguna agar menggunakanpasswordlebih unik — seperti kombinasi huruf kapital, gabungan angka, bahkan simbol-simbol.

Google bahkan melakukan eksperimen menggunakan terusan (extension) Password Checkup pada Chrome. Layanan ini bisa memperingatkan pengguna ketika masuk ke sebuah situs dan menggunakan satu dari 4 miliarusernamedanpasswordyang sebelumnya sudah pernah dibobol peretas.

Password Checkup ini kemudian akan memberi peringatan agar pengguna mengubah password jika memang dibutuhkan.

MengutipVice, Password Checkup dikembangkan oleh ahli kriptografi dari Stanford University agar Google tidak menghafalusernamedanpasswordpengguna.

“Sejak adaextensionini, ada sekitar 650 ribu orang berpartisipasi selama masa eksperimen,” ucap juru bicara Google. “Bulan pertama, kami memindai 21 jutausernamedanpassword, lalu menandai lebih dari 316 ribu sebagai ‘tidak aman’.”

Baca juga: Mark Zuckerberg Jadi Orang Paling Berbahaya di Dunia

Deri penuturan Google, hal yang justru layak disoroti adalah kebiasaan netizen yang mengabaikan peringatan untuk menggantipassword, yakni sekitar 25,7 persen.

Sementara dari penjelasan peneliti yang bekerja sama dengan Google, mereka menemukan fakta bahwa netizen seringkali bingung oleh peringatan seperti itu dan merasa seperti gak punya waktu untuk mengubahpassword

Ada pula studi Google sebelumnya yang menemukan sekitar 15 persen pengguna internet mengaku email atau akun media sosial mereka diretas oleh pihak ketiga.

Hal ini pada dasarnya berakar pada kecenderungan netizen yang lebih memilih menggunakanpasswordyang memang mudah dibobol, khususnya untuk situs besar dan populer.

Yuk, pelan-pelan tinggali kebiasaan malas ganti password secara berkala. Kalau malas menghafal, dicatat ajagaesdi notes. Biar aman, notes-nya diberipassword, ya. Tuh ‘kan, apa-apa butuhpassword!